Yogyakarta, bimasislam—Radikalisme dan intoleransi belakangan ini semakin mengemuka akibat dari pengaruh sosial, ekonomi, dan politik lokal maupun global dalam berbagai bentuknya.
Dalam satu sesi pada Sarasehan Penanggulangan Radikalisme dan Intoleransi melalui Bahasa Agama, Guru Besar UIN Jogjakarta, Prof Machasin di hotel Eastparc Jogjakarta (23/9), mengatakan bahwa akhir-akhir ini ada fenomena menarik dimana radikalisme dan intoleransi selain karena faktor paham keagamaan literal juga dipengaruhi oleh informasi-informasi yang bisa langsung dipahami dan ditafsirkan oleh siapapun. Sehingga belakangan ini ada fenomena para pemimpin umat yang justru tunduk pada kehendak umatnya.
"Belakangan ini muncul kecenderungan banyak para pemimpin agama justru tunduk pada kehendak umatnya. Seharusnya pemimpin itu mampu mengendalikan arah, memberikan pemahaman, dan pembinaan kepada umatnya, bukan malah sebaliknya. Tugas para pemimpin agama diantaranya adalah bagaimana bisa membentuk watak beragama umatnya lebih moderat", tegasnya.
Mantan Dirjen Bimas Islam ini juga menggarisbawahi terkait dengan apa yang pernah disampaikan oleh Salim Said dalam sebuah acara di TV bahwa Korsel maju karena takut sama Korut, Taiwan maju karena takut sama RRT, Singapura maju karena dia menoritas yang takut dengan etnis Melayu. Sementara Indonesia tidak ada yang ditakuti, bahkan sama Tuhan sekalipun. Menurutnya, Indonesia bisa juga akan maju jika masalah radikalisme dan intoleransi sebagai ancaman.
"Negara-negara bisa maju karena ada yang ditakuti. Jepang, Korut, Taiwan, Singapura dan lain-lain seperti dikatakan oleh Salim Said dalam sebuah acara TV, maka Indonesia akan bisa maju jika takut terhadap radikalisme dan intoleransi sebagai sebuah ancaman", ungkapnya dengan tenang.
Kegiatan sarasehan yang dihadiri oleh Menteri Agama, pengamat, dan anggota DPR RI dari PPP, Romahurmuzy, diikuti oleh 200 orang, yang terdiri dari para tokoh Ormas Islam, penyuluh agama, akademisi, aktifis dakwah. Kegiatan ini merupakan kerja sama Ditjen Bimas Islam dan Masjid Syuhada Jogjakarta, sekaligus memperingati Milad ke 68 tahun.
Masjid Syuhada merupakan salah satu masjid yang aktif mengagendakan program dakwah dan memghasilkan berbagai tokoh nasional yang berkiprah di berbagai bidang.
(thobib/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



