Cirebon, bimasislam— Manusia, menurut Ibn Khaldun, mempunyai tabiat berbudaya. Tanpa budaya, ia kehilangan ruang tempatnya berkembang secara maksimal sbg manusia. Budaya merupakan undang-undang kehidupan manusia yg dengannya ia mengenali dan berhubungan dengan wujud-wujud di sekitarnya. Karena itu budaya juga merupakan jati diri manusia individual maupun kelompok.
Demikian dikatakan oleh Dirijen Bimas Islam, Machasin mengatakan di hadapan umat Islam yang mengahadiri Haul Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati Maulana Syaeikh Syarif Hidayatullah di Masjid Agung Pakungwati Cipta rasa (27/9).
Machasin menambahkan, agama diamalkan manusia dalam lingkup budaya. Karena itu, walaupun Islam secara prinsip atau usul satu, namun pengamalan Islam oleh kaum Muslim bervariasi sesuai dg budaya mereka. Dengan demikian, tampilan Islam di Indonesia berbeda dalam beberapa hal dg tampilannya di wilayah lain seperti Saudi Arabia, Mesir, Iran, Pakistan dan Amerika Serikat. Budayalah yg paling banyak membuat perbedaan itu, di samping mazhab, pemikiran dan keadaan sosial ekonomi, katanya.
Lebih lanjut mantan Kabalitbang Kemenag ini, bahwa peringatan hari wafat Sunan Gunung Jati terkait erat dengan budaya Islam Nusantara.
“Memang haul, atau petingatan tahunan hari wafat tokoh/ulama, dapat ditemukan di berbagai tempat di dunia Islam, namun ada yg khas dlm haul di sini, yg tdk ditemukan di tempat lain. Salawatan dg memukul rebana dalam dua jenis musik (Jawa dan Arab) adalah salah satu bentuk kekhasan. Juga dipakainya alat musik tertentu seperti drum dan ketipung, pakaian pemain, dan pemberian anugerah jabatan juru kunci makam. Itu tidak ditemukan di tempat lain”, tandasnya.
“Kesultanan sebagai hasil budaya politik di masa lalu kini berubah menjadi penjaga kelestarian budaya. Kewibawaannya di dalam jiwa masyarakat memberinya peran besar dalam menjaga warisan budaya untk menjaga dan mengembangkan jati diri bangsa. Agama yang diamalkan dalam tradisi lokal lebih tangguh dlm menangkal paham2 asing yg datang dari luar”, ujarnya.
Karena itu, harapnya, masyarakat hendaknya tidak mudah tergiur oleh ajakan manis atas nama agama untk melakukan tindakan atau gerakan yng mengganggu harmoni di antara warga bangsa. Itulah perlunya menjaga dan mengembangkan budaya Islam Nusantara, pesannya.
Dalam pantauan bimasislam, hadir dalam kesempatan tersebut ribuan uamt Islam dan Sultan Sepuh XIV. (yoni-thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



