Banda Aceh, bimasislam— ´Ya Maulana Ya Habibi, Neupreh Kamoe Bak Ulee Titi, Meunyoe Han Neupreh Ya Habibi, Neulambai Mantong Dengoen Jaroe Wie.” Demikianlah syair-syair dalam bahasa Aceh yang disenandungkan pada majelis dzikir dan shalawat yang digelar di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, setiap Kamis malam.
Majelis yang dihadiri ribuan orang itu sedang menjadi buah bibir masyarakat Aceh. Ribuan orang, pria wanita, tua dan muda dari berbagai profesi hadir untuk menyenandungkan shalawat secara berjamaah. Majelis dzikir itu dipimpin oleh ulama muda, Syaikh Muda Tuanku Samunzir bin Hussein.
Bagi Masyarakat Aceh yang sehari-hari akrab dengan nilai-nilai Islam, dzikir bersama Tuanku Samunzir ibarat telaga nan bening di tengah taman yang hijau. Taman hijau adalah negeri serambi Makkah yang menerapkan tradisi Islam, dan majelis dzikir adalah pelengkap taman tersebut.
Kepada Bimasislam, pria berumur 35 tahun itu bercerita bahwa ia merupakan pengagum almarhum Habib Mundzir, pimpinan Majelis Rasulullah di Jakarta. Ia kagum dengan cara berdakwah habib Mundzir yang mengedepankan akhlak mulia dan senantiasa mengedepankan dzikir sebagai penentram batin.
Yang menarik dan membedakan Majelis Dzikir Aceh yang dipimpinnya dengan majelis lain terutama di Jakarta adalah cara bershalawat dan dzikir yang rancak dan semarak seperti rancaknya tari Saman. Dzikir dan Shalawat yang menggunakan Bahasa Arab, Indonesia, dan Aceh itu kemudian dilanjutkan dengan taushiyah agama. Jamaah mendengarkan dengan seksama ceramah tokoh muda yang belum menikah itu.
“Kemajuan peradaban Islam ini senantiasa di awali dari manusia yang memiliki jiwa yang tenang dan damai. Dan oleh karena itu Majelis Zikrullah Aceh melakukan upaya untuk menggunakan metode yang mendamaikan jiwa manusia, mengumpulkan mereka sebagai umat yang satu kalimah Lailaha illallah. insya Allah, dengan kalimah ini, peradaban Islam akan bangkit kembali,” ujarnya.
Mengutip ulama Aceh tempo dulu, pria yang pernah menuntut ilmu di dayah Budi Lamno, Aceh Jaya, Dayah Budi Al-mukhtari, Matang Geulumpang Dua, Bireun, dan pesantren MUDI Mekar Al-Aziziyah Jakarta, itu menjelaskan landasan mengajak ummat Islam Aceh berzikir,
“Lailahaillah , kalimah thayyibah pang ulee ziker, han ek lee takeun ngon lidah Allah Allah dalam hate. Lailahaillah , kalimah thayyibah kalimat thayyibah beukai ta mat, pat yang taduk di barang kapat Allah ta ingat dalam hate”.
Syair itu merupapan gubahan dari firman Allah pada surat Ali Imran ayat 191, yakni “Orang-orang yang mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau pun dalam keadaan berbaring”.
Ulama muda yang juga telah menerbitkan buku dan kaset shalawat itu berharap majelis dzikir yang dipimpinnya dapat menguatkan orang-orang yang lalai untuk bergegas beribadah. Dengan zikir orang akan dengan terampil dan bersegera melakukan kebaikan. Bagi orang yang merasa lemah untuk bangun malam shalat malam. Banyak harta tetapi terasa diri bakhil untuk menginfakkan, atau takut untuk berjuang di jalan Allah, dengan dzikir ia akan mudah untuk beribadah. Memperbanyak zikir akan membawa pada keberuntungan.
Tsunami, Titik Tolak Majelis Dzikir
Setelah tragedi Tsunami di penghujung 2004 yang meluluhlantakkan Aceh, Tengku Samunzir memulai dakwahnya dengan cara mengajak satu persatu saudara, kerabat dan sahabatnya ke rumah untuk melantukan dzikir, tepatnya di Gampong Cadek, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.
Dalam perkembangannya, jamaah dzikirnya semakin lama semakin bertambah, sampai-sampai ia memutuskan mencari lokasi yang cukup besar sehingga majelis dzikirnya berpindah ke lokasi pemakaman syiah kuala sebelum akhirnya atas permintaan jamaah, majelis dzikir tersebut dihelat di Masjid Raya Baiturrahman dua tahun belakangan.
Pendekatan yang dilakukan Teungku Samundzir memang tergolong unik. Ia mengadopsi metode dakwah Syiah Kuala yakni dengan melihat kondisi masyarakat yang didakwahi. Majelis Zikir Aceh mengajak semua kalangan untuk mengingat Allah termasuk pengguna Narkoba. Ia menambahkan, para pecandu minuman keras tidak perlu diajak untuk menaati perintah Allah secara totalitas, tapi cukup dijadikan sebagai teman. Sebab, katanya, jika sudah menjadi teman dekat, apalagi temannya itu adalah para teungku, sedikit banyak akan menjadi bagian dari objek dakwah secara perlahan” Terangnya sambil mengenang awal-awal mengajak masyarakat kota Banda Aceh berzikir.
“Alhamdullah, Majlis Zikrulah yang awalnya hanya berangotakan 10 orang, kini telah mencapai puluhan ribu orang yang tersebar di seluruh Aceh dan Sumatera Barat.” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan kepada masyarakat yang pertama adalah membentuk karakter setiap jamaah dengan menanamkan rasa cinta kepada Allah dan rasulullah, ikhlas berbuat mengharap ridho Allah bukan karena hal-hal lain yang bersifat duniawi. Hal ini ia lakukan termasuk kepada tukang parkir.
“Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya pahala yang didapatkan oleh seorang tukang parkir saat ribuan jamaah zikir diatur kendaraannya. Begitu juga pengatur sandal jamaah tentu tidak luput pahala Allah,” terangnya.
Tokoh muda yang dikenal karena suara merdunya saat bershalawat ini juga menambahkan bahwa Majelis Zikir Aceh yang dipimpinnya tidak terikat dengan kelompok thariqah tertentu. Baginya ia hanya ingin mengajak masyarakat rajin berdzikir dan tidak ada rasa bersaing dengan majelis dzikir manapun. Bahkan, ia justru merasa karena akhir-akhir ini sudah lahir beberapa Majlis Zikir yang memiliki jamaah yang banyak.
“Yang paling penting bagi kita adalah bagaimana kita bersatu mengingat Allah. Jangan sampai kita alergi kepada zikir. Kalau ada orang yang merasa alergi dengan dzikrullah, maka patutlah dipertanyakan kecintaan dia kepada Allah.” Pungkasnya. (farhan-sigit/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



