Bogor, bimasislam—Tidak banyak yang tahu bahwa Kota Bogor memiliki masjid bersejarah yang dibangun pada abad ke 17. Masjid tua itu adalah Masjid Al-Mustofa, yang berlokasi di di pemukiman padat daerah Bantarjati yang dahulunya dikenal bernama Kampung Baru. Konon, Kampung baru ini adalah cikal bakal berdirinya Kota Bogor.
Masjid kuno ini memberikan sedikit sentuhan dari pendirinya, Tubagus Mustofa Bakri bin Tubagus Abdul Qodir yang memadukan arsitektural unsur Cirebon dan Banten. Makam sang pendiri, yang memiliki garis keturunan dari Sunan Gunung Jati, Cirebon, itu juga terletak tak jauh dari lokasi Masjid.
Saat ini, masjid yang dibangun pada 1728 itu dijaga dan dirawat oleh keturunan kelima dari Tubagus Mustofa, yaitu Mukti Nasir. Masjid tyang pada mulanya dibangun seluas 11 x 35 meter itu sekarang sudah diperluas menjadi 15 x 50 meter.
Sebagai bangunan cagar budaya, Masjid tertua di kota Bogor ini banyak dikunjungi berbagai wisatawan, baik dari dalam maupun mancanegara. Pada 2012 mesjid ini kedatangan tamu dari negara Yaman, Timur Tengah. Saat itu, tamu tersebut merasa terharu dan senang bisa mengunjungi mesjid tertua ini. Berbagai kegiatan keagamaan juga masih sering digelar di masjid ini seperti pengajian rutin, tadarusan, dan sebagainya.
Sekalipun sudah beberapa kali mengalami renovasi, corak asli dari bangunan masjid masih tetap dipertahankan, hanya saja materialnya disesuaikan mengikuti kebutuhan. Bangunan berupa tiang yang ada di dalam masjid misalnya, dulunya terbuat dari kayu jati dengan sembilan goresan yang menyimbolkan Walisongo, sekarang diganti menjadi beton meski tidak menghilangkan struktur maupun ornamen yang ada di dalamnya.
Al-Quran yang ditulis tangan
Selain elemen dan sentuhan yang masih mempertahankan bentuk aslinya, Masjid Al- Mustofa yang sudah dijadikan cagar budaya oleh pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata itu juga menyimpan peninggalan bersejarah lainnya, yaitu mushaf Al-Quran dan manuskrip khotbah tulisan tangan. Peninggalan bersejarah itu disimpan dalam sebuah kotak kaca di dalam Masjid. Al-Quran ini disebut ditulis tangan oleh putera pertama dari Tubagus Mustofa Bakri, sayangnya tulisan tangan tersebut sudah tidak jelas terbaca. Keunikan lain selain Al-Quran bersejarah di Masjid kuno ini adalah terdapat mata air yang diyakini tidak pernah kering dari jaman dulu. Mata air itulah yang selalu digunakan oleh jamaah untuk mensucikan diri sebelum memasuki masjid.
Dari Jakarta, rute menuju Masjid ini bisa ditempuh melalui rute dari arah Plaza Jambu Dua. Disebelah kiri arah pasar Jambu Dua, terdapat jalan Ciremai Ujung. Di dalam jalan itu terdapat gang dengan gapura berbertuliskan Selamat Datang di Masjid Al-Mustofa. Menikmati sejarah perkembangan Islam di Indonesia melalui masjid-masjid kuno akan terasa bedanya. (yos/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



