Ambon, bimasislam-- Bila berkunjung ke pinggiran pantai Lehitu, maka akan tampak sebuah masjid yang cukup artistik yang menjorok ke tepi laut. Masjid ini makin tampak dari kejauhan dengan menaranya yang menjulang tinggi menghadap teluk Ambon. Setidaknya begitulah pengalaman bimasislam saat berkunjung ke sana hari Kamis (21/4) lalu. Masjid Jami’ Hitu, begitulah masyarakat Negeri Hitu Lama dan Hitu Mesin menamakannya.
Berdiri di atas tanah 40x50 meter persegi, masjid ini dibangun menjadi tingkat dua di bagian pinggirnya. Pagar tembok mengelilingi sepanjang batas tanah salah satu masjid tertua di Ambon yang sudah direnovasi ini. Awalnya, tidak sepenuhnya tembok tapi setengah kayu. Tapi atas pertimbangan kekuatan dan kelestarian bangunan, maka pimpinan adat setempat berinisiatif merenovasinya sekitar tahun 2003.
Masjid ini terletak di Kecamatan Lehitu, tapi berada di bawah kekuasaan Ketua Adat Hitu Lama dan Hitu Mesin. Karenanya, Imam Masjid pun ada dua, yang satu ditunjuk oleh Ketua Adat Hitu Lama yaitu Ustadz Hayatudin Pelu dan satu lagi oleh Ketua Adat Hitu Mesin yaitu Ustadz Musa Hurasan.
Masjid ini posisinya menghadap ke Teluk Ambon. Di sebelah utara berdiri sebuah menara yang pada awalnya hanya setinggi 15 meter, setelah renovasi menjadi 35 meter. Fungsinya untuk tempat pengeras suara. Sengaja tinggi agar bisa terdengar oleh seluruh penduduk masyarakat dua adat tersebut. Sebelah Selatan terdapat kebun kosong, sedangkan Timurnya dibatasi oleh jalan raya kampung tersebut.
Menurut cerita Musa Hurasan, yang membangun dan menyebarkan Islam di sini adalah Ulama Madinah. Mereka datang sekitar Abad XVII. Namun yang menarik, perempuan tidak ada yang shalat di sini. Dalam pengamatannya, karena dulu pada masa penjajahan tidak aman bagi perempuan untuk keluar rumah, di samping soal halangan bulanan. Mereka hanya shalat berjamaah atau melakukan kegiatan di rumah dengan keluarga besarnya. Kalaupun mau mendengarkan khutbah atau ceramah di masjid, hanya duduk atau berdiri sekitarnya saja.
Sejauh pengalaman bimasislam shalat Magrib di sana, masyarakat Hitu sangat religius dan disiplin dalam shalat. Saat shalat Magrib berjamaah, tidak kurang empat shaf jamaah memenuhi masjid ini. Bahkan setiap menjelang adzan shalat lima waktu tiba, jalur yang melewati masjid ini ditutup untuk menghormati jamaah shalat.
Masyarakat Hitu berpegang teguh pada faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah, demikian pengakuan Musa. Setiap hari diadakan Ratiban seusai shalat Magrib. Dan, setiap malam Jumat diadakan Tahlilan, begitu penjelasan Pensiunan PNS Pemda ini.
Fenomena ini tidak heran, karena daerah Hitu merupakan wilayah kerajaan Islam pertama di Ambon, demikian pendapat Ihsanuddin pensiunan PNS Kemenag Kota Ambon. Wajar bila ala kerajaan masih berlaku dalam adat istiadat masyarakat Kecamatan Lehitu. Alhamdulillah mereka tidak kena dampak saat konflik sosial sekitar tahun 2000 lalu. Malah mereka merupakan kelompok jihadis yang membantu perlawanan masyarakat muslim Kota Ambon saat itu, jelas Ihsan dengan penuh keprihatinan.(edijun/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



