Manokwari, bimasislam— Bagi anda yang berkunjung ke Manokwari rasanya kurang lengkap jika tidak berkunjung ke sebuah masjid tertua di daerah ini. Namanya Masjid Merdeka, yang terletak di Jl. Bandung, Kabupaten Manokwari, beberapa ratus meter dari pelabuhan Manokwari. Saat bimasislam berkunjung dan sholat maghrib di tempat ini (10/11), nampak sekali masjid ini terawat dan banyak aktifitas keagamaannya.
Di sebelah kiri masjid berjejer dua mobil ambulan yang siap melayani pengurusan jenazah komunitas muslim di sana. Satu mobil jenazah berwarna putih nampak dimiliki oleh DKM masjid, sementara yang berwarna hitam jenis minibus APV hitam dimiliki oleh Ikatan Keluarga Maluku Utara Kabupaten Manokwari. Samping kiri agak ke dalam berjejer perkantoran, yang salah satunya terdapat Kantor Sekretariat BAZNAS Kabupaten Manokwari.
Menurut Sekretaris Baznas Kabupaten Manokwari, yang juga sebagai Kepala KUA Kota Manokwari, Salim Mandar, bahwa kegiatan masjid ini tergolong cukup aktif. Selain shalat berjamaah lima waktu, juga ada pengajian rutin mingguan, baik untuk jamaah bapak-bapak atau ibu-ibu. Pada malam jumat, masjid ini mengadakan kegiatan pembacaan Yasin bersama.
Keberadaan masjid yang cukup dekat dengan pelabuhan Manokwari ini tentu akan memudahkan komunitas muslim di sana dalam menjalankan ibadah dengan baik. Selain masjid ini mudah dijangkau, juga nampak sekali dikelola dengan baik oleh pengurus DKM.
Berdasarkan catatan, berdirinya tempat ibadah umat muslim ini tak lepas dari sejarah datangnya para pelaut dan pedagang Islam dari Kesultanan Tidore. Salah seorang Antropolog dari Universitas Indonesia, Koentjoroningra, mengatakan bahwa dari cerita rakyat dan informasi dari Tidore, pada abad ke-15, Biak telah menjadi wilayah Kesultanan Islam Tidore.
Lebih lanjut sebuah Manuskrip tulisan tangan berbahasa Tidore yang ditemukan di Manokwari menceritakan bahwa pada tanggal18 Agustus 1812, Sultan Tidore bernama Danu Sayid Muhammad Alting dan adiknya bernama Danu Muhammad Hasan, didampingi oleh Tolawa marwa (wazir kesultanan), telah mendarat di Pulau Mansinam di Manokwari Papua Barat.Meski demikian tidak dapat diketahui secara persis sejarah berdirinya masjid ini, namun diyakini ini merupakan mesjid pertama yang dibangun di kota Manokwari dan tidak tahun berdirinya.
Penelusuran bimasislam di arfaqmedia.blogspot.com, menurut salah seorang pengurus DKM, Mukhsin, bahwa jumlah penduduk muslim di zaman Belanda di fdaerah ini sangat sedikit. Menurut cerita yang diterimnya bahwa masjid ini meengalami beberapa kali pemindahan. Pemindahan masjid dari lokasi lama ke baru sering menyulitkan warga muslim karena lokasinya yang jauh.
"Saya tidak tahu persis kapan mesjid ini mengalami pemindahan, tapi memang betul bahwa mesjid ini "dipaksa" untuk pindah oleh penguasa saat itu. Alhamdulillah pada tahun 1947 mesjid ini sudah menempati lokasinya sekarang berkat penyerahan tanah wakaf dari salah seorang warga," jelasnya.
Lebih lanjut ia berujar bahwa mesjid ini merupakan situs bersejarah. Sayangnya tidak ada dokumentasi atau catatan sejarah yang memperkuat hal itu.
"Kami sangat ingin agar mesjid ini direnovasi agar bangunannya terlihat memiliki nilai sejarah. Mudah-mudahan ke depannya ada pihak-pihak terkait yang dapat membantu."
Saat ditanya kenapa dinamakan Mesjid Jami Merdeka, Mukhsin menjawab, "Dinamakan "merdeka" karena akhirnya umat Islam tidak diusir lagi mendirikan mesjid. Jadi kita merasa merdeka untuk bisa beribadah dan aman dari gangguan. Jadi tidak ada hubungannya dengan nama jalan Merdeka yang kebetulan dekat dengan mesjid ini," tegasnya seperti diberitakan oleh situs online tersebut.
(thobib/romzi/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



