Cilegon, bimasislam— Tak ada yang mencolok dari bangunan berukuran 7m x 10m tersebut, kecuali papan nama yang terlihat jelas dari jalan raya, itu pun orang tak menyangka jika gedung tersebut adalah sebuah perkantoran. Berada di belakang Puskesmas Ciwandan, di sanalah Kantor Urusan Agama (KUA) Ciwandan Kota Cilegon berdiri di atas tanah wakaf. Sebelah utara adalah pesantren modern al-Hasyimiyyah, sementara di belakang adalah pesawahan dan pabrik tepung.
Kantor KUA Kecamatan Ciwandan tidaklah memadai jika dibandingkan dengan beban kerja dan wilayah pengabdian yang sangat luas. Dengan personil 6 orang, 3 diantaranya pegawai honorer, KUA Ciwandan melayani 6 kelurahan/desa. Bahkan, persoalan di wilayah Ciwandan ini sangatlah komplek, tidak hanya persoalan pencatatan pernikahan, tapi juga perwakafan, pembinaan calon jamaah haji dan penyuluhan keagamaan.
Drs. H. Thohiri adalah nahkoda KUA Ciwandan. Menjabat sebagai Kepala sejak Juli 2014, sosok yang sangat santun ini mengemban tugas yang cukup berat mengingat KUA Ciwandan baru saja berpisah dari KUA induknya, sekitar 3 tahun. Saat berbincang dengan bimasislam, Pak Thohiri menegaskan bahwa pihaknya masih dalam penataan sarana dan perkantoran, sehingga wajar bila kelengkapan kantor belum sepenuhnya tersedia. Ia bertutur, saat KUA Ciwandan beridir, tidak banyak perlengkapan kantor yang dapat dibawa, hanya dua meja kerja dan lemari berkas.
“KUA Ciwandan ini masih seumur jagung, tapi kami tetap profesional memberikan pelayanan. Kami terbiasa datang pagi, melayani masyarakat dengan prima, bahkan jemput bola dan kerja sama dengan instansi lain dalam pelayanan ini,” tuturnya.
Walau tak sepenuhnya didukung sarana dan infrastruktur yang memadai, Ia mengaku sangat bersyukur mengingat jabatannya kini berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat di bawah. Sebagai abdi negara, seberat apapun tugas tersebut tetaplah harus dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan profesional. Baginya, kekurangan yang ada dapat ditutupi dengan kinerja dan sikap istiqomah, karena selalu ada solusi dalam setiap kesulitan yang dihadapi dengan kerja dan istiqomah.
“Saya menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencairkan penghambat birokrasi, misalnya dengan pihak kecamatan untuk memberi arahan kepada para kepala desa terkait dengan persyaratan administrasi bagi calon pengantin supaya tidak dipersulit dan harus transparan, gratis. Dalam menjalankan pembinaan, kami juga sangat intens berkomunikasi dengan tokoh agama, ormas Islam dan majelis taklim,” ungkapnya.
Terkait dengan opini publik tentang KUA yang disinyalir menerima gratifikasi, Pak Thohiri memiliki kiat-kiat tersendiri dalam mencegah adanya gratifikasi. Menurutnya, masyarakat harus memahami secara benar regulasi biaya nikah dan rujuk sebagaimana tertera dalam PP 48 Tahun 2014 Tentang Biaya Nikah dan Rujuk. Melalui stakholders di tingkat desa dan juga pihak aparatur kecamatan, pihaknya mensosialisasikan PP tersebut secara berkala. Langkah selanjutnya adalah membangun kesadaran di masyarakat untuk tidak mengambil jalan pintas mengurus persyaratan pernikahan karena hal itu sangat potensial memunculkan gratifikasi. Dan tentunya, menjalin komunikasi dengan lurah dan kepala desa guna mencairkan masalah-masalah yang sering timbul dalam proses pendaftaran calon pengantin.
“Perlu kesadaran bersama dalam pelaksanaan PP No 48 tahun 2014 ini. Masyarakat, KUA dan pihak-pihak terkait harus bersama-sama menjalankan PP ini, insya Allah ini akan mencegah potensi gratifikasi,” tegasnya.
Sebagai daerah tujuan investasi, berbagai latar belakang orang datang dan berinvestasi di Kota Cilegon, termasuk di Kecamatan Ciwandan. Hal ini selain membawa dampak positif dalam mendongkrak pendapatan dan peningkatan infrastruktur daerah, tak jarang juga membawa masalah baru dalam kehidupan di masyarakat. Untuk itulah, peran penyuluh agama Islam benar-benar diberdayakan.
Langit nampak mendung. Sore itu bimasislam kembali ke Jakarta, diiringi lambaian dan senyum penuh optimis dari jajaran KUA Ciwandan. Senyum mereka menegaskan satu hal, bahwa pengabdian itu takkan pernah surut meski medan terasa berat dan menanjak. Selamat mengabdi dan teruslah berkarya!. (kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



