Yogyakarta, bimasislam— Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah lama dikenal sebagai salah satu kesultanan Islam di Nusantara. Namun kesan sisi islami tersebut semakin lama kian terkikis seiring laju arus modernisasi. Padahal, sebagaimana diungkap GBPH Joyokusumo, ruh Keraton Yogyakarta sejatinya adalah ajaran Islam.
Sebagaimana kerajaan lain di kepulauan Nusantara, tradisi dan kultur masyarakat Yogyakarta penuh dengan simbol dan filosofi yang berpadupadan dengan nilai-nilai Islam. Jika ditelisik, maka simbol-simbol Jawa yang diakulturasi dengan Islam banyak dijumpai di Yogyakarta.
Bimasislam berkesempatan menelisik sisi islami provinsi yang sempat menjadi ibukota Republik Indonesia itu. Berikut sisi-sisi islami Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang kami himpun dari berbagai sumber untuk Anda.
Dalam sumber sejarah yang dikenal dengan naskah Babad Giyanti dan Serat Cebolek menyebutkan bahwa Pangeran Mangkubumi, Pendiri Kraton Yogyakarta, adalah putra dari Sultan Amangkurat IV yang taat beragama. Pangeran Mangkubumi dikenal sebagai pejuang yang tak pernah meninggalkan shalat lima waktu, gemar mengaji bahkan hafal sebagian dari ayat-ayat Kitab Suci al-Qur’an.
Dalam Serat Cebolek juga disebutkan bahwa Pangeran Mangkubumi senantiasa melaksanakan puasa sunah Senin dan Kamis, peduli pada kaum fakir miskin dan kaum lemah di pedesaan.
Sementara itu, dalam Babad Giyanti disebutkan ketika berperang melawan penjajah Belanda, sang Pangeran selalu membangun surau di tempat-tempat peristirahatan pasukannya. Surau-surau itu digunakan untuk ibadah lima waktu dan menshalatkan syuhada yang gugur dalam perjuangan.
Selain pada sisi personal Pangeran Mangkubumi yang taat beragama, simbol identitas Islam juga dapat ditemui pada gelar Panembahan Senopati setelah Perjanjian Giyanti. Panembahan Senopati, dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono I, dengan gelar," Sri Sultan Hamengkubuwana Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ing Ngayogyakarta".Sisi sejarah ini menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya, Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat adalah sebuah Kerajaan Islam.
Simbolisme Bangunan dan Tradisi
Selain dari gelar yang disandang para Raja, simbol-simbol yang ditonjolkan dalam bangunan fisik maupun karya sastra kesultanan Yogyakarta, serta upacara-upacara budaya yang dihelat juga selalu diwarnai dengan nafas Islam. Sebagai contoh, Masjid Gedhe Kauman di bangun sebagai simbolisasi hubungan Islam dan Negara di kerajaan yang terletak di selatan Pulau Jawa itu.
Selain Masjid Gedhe Kauman, pihak kerajaan juga membangun Masjid Pathok Negara sebagai batas ibukota, dilengkapi tanah perdikan atau semacam tanah wakaf, yang diberikan untuk kemajuan pendidikan agama. Bahkan di dalam kraton dibangun Masjid Panepen (Penepian) untuk singgah Sultan, sedangkan bagi Abdi dalem, dibangunkan Masjid Suronoto. Sejumlah tempat ibadah keagamaan Islam yang dibangun oleh Sultan tersebut menunjukan betapa dekatnya Sri Sultan pada aspek spiritual terhadap Tuhan.
Jika kita melihat struktur kraton, di sana juga terdapat pejabat yang secara khusus ditunjuk untuk mengurusi perkembangan agama Islam yang dikepalai seorang penghulu keraton yang dibantu Kaji Selusinan dan para Ketib. Selayaknya kesultanan Islam lain di Nusantara, hubungan agama dan negara di dalam Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah hubungan kultural dan struktural yang berakulturasi dengan tradisi dan kearifan lokal.
Sebagai penerus kerajaan Mataram Islam yang melanjutkan tradisi Kesultanan Demak, Kraton Yogyakarta juga menghidupkan tradisi bernafaskan Islam seperti Grebeg Mulud untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad yang dilengkapi dengan upacara sekaten (berasal dari bahasa Arab ‘syahadatain’), Grebeg Syawal untuk memperingati bulan Syawal dimana terdapat tradisi silaturahmi antara Sultan dengan Rakyatnya, dan Grebeg Besar untuk memperingati Idul Adha dimana Sultan turut melaksanakan tradisi kurban.
Dalam perangkat tata aturan, juga berlaku peraturan bahwa Sentana Dalem keturunan Sultan tidak diperbolehkan menikah kecuali hanya dengan orang-orang yang beragama Islam.
Baik pernikahan maupun pembagian waris di Kraton Yogyakarta juga mengacu kepada tradisi fikih Islam. Peraturan lainnya adalah di dalam benteng Kraton, atau dikenal dengan istilah njeron benteng, tidak diperbolehkan berdiri tempat ibadah kecuali Masjid. Bahkan, pada masa awal, setiap Jumat Kliwon, Sultan akan memberikan khutbah di Masjid Gedhe, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Rijksblad.
Hanya saja, setelah terjadinya peristiwa Perang Diponegoro (Java Oorlog), Pihak Belanda membuat peraturan ketat berupa pelarangan ibadah haji bagi Sultan lantaran pelaksanaan ibadah di tanah suci tersebut dianggap meningkatkan semangat patriotisme dan perlawanan terhadap Belanda. Selain itu, Sultan juga dibatasi untuk mendirikan shalat di Masjid Gedhe, dan dilarang memberikan khutbah dengan maksud membatasi kedekatan Sultan dengan rakyat.
Pembatasan demi pembatasan ini kemudian diikuti dengan pendirian sekolah-sekolah dan rumah sakit Belanda di luar kraton. Simbolisme Islam dan Jawa kemudian dibiaskan dengan menonjolkan aspek tradisi kultural daripada agama, meski tak sepenuhnya berhasil.
(alatif-munadi/berbagai sumber/foto:yogyakarta.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



