Oleh:
Jaja Zarkasyi
Sudah menjadi rutinitas keluarga besar Kementerian Agama di seluruh Indonesia memeriahkan Hari Amal Bhakti (HAB). Meski jatuh pada tanggal 3 Januari, prosesi kemeriahannya telah dimulai sejak pertengahan Desember. Berbagai acara telah diagendakan seperti olah raga, seminar, hingga donor darah. Bahkan beberapa daerah memiliki kegiatan lebih spesifik dengan atribut kedaerahan. Meski beragama caranya, namun kemeriahannya mengisyaratkan besarnya kecintaan dan harapan terhadap Kementerian Agama.
Dan tahun ini saya berkesempatan bersilaturahim dengan beberapa tokoh agama di sekitar Kecamatan Cibingbin, Kuningan Jawa Barat. Saya bertemu dengan para pensiunan guru agama, mantan naib (penghulu), penilik agama dan beberapa mantan pegawai Kementerian Agama Kabupaten Kuningan. Beberap dari mereka pension sekirar 10 tahunan yang lalu. Di periode 1960-an, mereka adalah remaja masjid yang rajin dan juga berdedikasi tinggi. Di era yang belum segala serba digital, mereka telah menjalin hubungan yang hangat, saling berkunjung dan terbentuklah ikatan yang begitu akrab. Keakraban tersebut menjadi awal dari generasi pertama guru agama yang diangkat Kementerian Agama dan ditempatkan di desa-desa yang terpelosok.
Tidak banyak yang diharapkan Menteri Agama saat itu, Bapak Saifuddin Zuhri. Para pensiunan ini masih mengingat dengan jelas saat pertama kali diminta untuk menjadi guru agama dan menetap di desa-desa di wilayah Kuningan timur. Tugasnya hanya satu: menghidupkan agama. Sudah menjadi maklum di wilayah Kuningan Timur masih terdapat desa-desa yang belum mengenal Islam. Bahkan untuk peribadatan saja sangat asing. Dan para remaja masjid ini dipilih untuk tugas mulia ini.
Gambarannya seperti ini. Wilayah Timur Kuningan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Desa-desa tersusun di atas perbukitan, dikelilingi lebatnya hutan jati dan bebetapa aliran sungai. Akses pendidikan merupakan sesuatu yang mahal, karena listrik saja baru masuk sekitar tahun 1995-an. Untuk mencari jemaah shalat jumat, hanya ada satu atau dua orang saja, itu pun tidak setiap minggu ada. Masjid dan musholla masih sangat asing di telinga masyarakat.
Di sela cerita masa lalunya yang cukup berat, tampak jelas kebanggaan tak terhingga pernah menjadi, dan hingga saat ini masih menjadi, bagian dari keluarga besar Kementerian Agama. Cara bertutur yang menggebu menandakan bahwa kebanggaan itu tak pernah luntur. Dan itu terbukti, pensiun tak berarti berhenti mengajar, aktifitas mengajar tetap dijalani. Di titik ini saya mulai memahami arti kebanggaan itu.
Kebanggan menjadi keluarga besar Kementerian Agama ibarat ruh yang terus memberi nyawa, karena alasan itulah mereka masih tetap mengabdi sebagai buru agama di kampungnya. Konsep "bangga" dijabarkan dalam bentuk keikhlasan dalam mengabdi, tulus menyampaikan kebaikan Islam dan moderasi yang telah menjadi corak keberagamaan di Nusantara.
Rasa bangga itu mengalahkan usia yang mulai menua, mengalahkan rasa lelah yang lebih sering datang dan menghapus segala ambisi popularitas. Inilah falsafah yang mereka ceritakan kepada saya, bahwa menjadi bagian dari Kementerian Agama bukanlah untuk mencari popularitas atau dalam bahasa lain, bukan untuk cari makan. Jauh melampaui semua itu adalah pengabdian yang tak berujung untuk nusa dan bangsa.
Apa yang mereka ceritakan mengingatkan saya pada sesosok penyuluh agama Islam di Subang, medio 2015 lalu. Saya berjumpa dalam satu forum diskusi, di KUA Kecamatam Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Disamping sebagai penyuluh agama, ia memiliki usaha warung kelontong dan sayuran. Jika dibandingkan dengan honornya sebagai penyuluh tentu lebih besar sebagai pedagang. Namun ia memberikan sebuah jawaban yang membuat saya tercengang: selembar SK ini adalah kebangaan saya karena negara telah memberikan amanat untuk berdakwah. Dan selembar kertas inilah yang membuka satu demi satu lembaran rizki keluarganya.
Sosok lainnya saya jumpai di Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Kep. Bangka Belitung. Namanya Pak Aziz, asli Bojonegoro. Bertugas sebagai penghulu di pedalaman bukanlah impian awal. Namun jalan hidup membawanya ke pedalaman Bangka Selatan, hingga akhirnya diberi amanah menjadi Kepala KUA. Tak ada fasilitas internet, angkutan umum dan segala kebutuhan seperti di perkotaan. Wilayah kerjanya mayoritas berupa desa dan hutan. Ia pun sendirian menjadi punggawa KUA, walau belakangan ia mengajak satu staf honor untuk menemaninya.
Saya sempat bertanya, apa tidak ada keinginan untuk mutasi? Tentu ingin, begitu ia menjawab. Namun keinginan itu perlahan menyingkir tatkala menyaksikan besarnya harapan umat terhadap layanan KUA. Jika saya saja pergi, apa ada orang yang mau menggantikan? Begitu kiranya ia menjawab keinginan untuk mutasi. Dan pada akhirnya ia menikmati semua ini dengan rasa bangga, karena tak semua penghulu mampu bertahan di tengah hutan lebat nan jauh dari kota.
Rasanya terlalu banyak sosok yang menginspirasi saya, menyuntikkan motivasi dan mengoreksi niat pengabdian agar lebih lurus dan tegak berdiri. Rasanya terlalu kecil jika dihadapkan dengan sosok mereka yang telah terbukti hadir melayani di tengah kondisi yang serba minim. Saya belum ada apa-apanya jika dibanding dengan beban dan tantangan yang mereka hadapi.
Menjaga semangat pengabdian merupakan pelajaran berharga untuk saya khususnya, dan bagi generasi muda Kemenerian Agama umumnya. Kita tak boleh banyak mengeluh, karena mereka di sana lebih banyak berkeringat, tak elok banyak berteriak kekurangan padahal di pulau-pulau, perbatasan negara, pedalaman hutan, berdiri sosok-sosok energik yang tak peduli dengan segala keterbatasan. Pengabdian adalah kebanggaan, demi alasan itulah semangat itu tetap terjaga.
Saya meyakini bahwa setiap zaman memiliki ceritanya tersendiri tentang tantangan hidup. Begitupun bagi Kementerian Agama, tentu berbeda tantangan yang dihadapi era 60-an dan saat ini. Para pendahulu telah menunjukkan kecerdikannya mengamati model dan karakter tantangan, dan ini penting untuk menentukan arah dan kebijakan Kementerian Agama. Pun, kini tantangan yang dihadapi tak kalah besar dibanding masa lalu. Tanpa kemampuan untuk memahami tantangan, bukan mustahil Kementerian Agama akan kehilangan perannya di masyarakat.
Momentum HAB tahun ini saya maknai sebagai reformulasi spirit seperti yang tertulis dalam sejarah lahirnya Kementerian Agama. Kita perlu kembali membuka sejarah bahwa Kementerian Agama lahir sebagai jangkar pembangunan nasional, karena bagi negara bahwa agama adalah bagian utama pembangunan. Negara dan agama menghomrati independensi masing-masing, namun di sisi lain juga saling melengkapi. Indonesia adalah barometer kerukunan sejati, dan ini dicapai atas jasa para tokoh agama.
Dalam konteks inilah masing-masing kita harus menempatkan agama sebagai unsur pemersatu bangsa. Lebih sederhana lagi, setiap kita adalah gerbang pertama untuk tidak menyebar hoax dan hate speech, karena keudanya adalah pintu masuk rusaknya sebuah bangsa. Untuk alasan inilah saya bangga menjadi bagian dari keluarga Besar Kementerian Agama. Wallahu a'lam bishowab
* ASN Ditjen Bimas Islam



