Jakarta, bimasislam--“Tidak hanya keluarga Al-Azhar dan keluarga Muhammadiyah yang merasa kehilangan dengan kepergian beliau, tapi kita semua umat Islam dan seluruh bangsa Indonesia kehilangan dengan wafatnya Bapak Rusjdi Hamka.” demikian diungkapkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberi sambutan pelepasan jenazah almarhum H. Rusjdi Hamka usai shalat Jumat dan shalat jenazah di Masjid Agung Al-Azhar - Kebayoran Baru Jakarta Selatan (19 September 2014). Di antara para pentakziyah yang ikut menshalatkan jenazah almarhum, terlihat Prof. Drs. H. A. Malik Fadjar, mantan Menteri Agama RI dan salah satu Ketua PP Muhammadiyah.
Lukman Hakim Saifuddin yang juga alumni YISC Al-Azhar dan mengenal almarhum dari dekat menyatakan, “Kendati kita bersedih ditinggal beliau, namun sebetulnya inilah saat bahagia yang dinanti-nantikan oleh almarhum, yaitu saat pertemuan dengan Al-Khaliq. Almarhum Bapak Rusjdi Hamka meninggalkan warisan kepada kita semua, bukan warisan dalam arti fisik, tetapi warisan amal shaleh berupa pemikiran, keteladanan dan karya tulis yang bermanfaat untuk umat.”
Putra kedua almarhum Buya Prof. Dr. Hamka (Ketua Umum Pertama Majelis Ulama Indonesia dan Pahlawan Nasional) dan paling banyak mengikuti perjalanan hidup Buya Hamka itu menghembuskan nafas terakhir Kamis 18 September 2014/23 Dzulqaidah 1435 H, pukul 13.20 WIB di Rumah Sakit Islam Jakarta. Rusjdi Hamka berpulang ke Rahmatullah dalam usia 79 tahun, meninggalkan seorang istri (Hj. Khasyi’ah Rasul) dan 4 orang anak (Yusran, Amalia, Amaluddin, Muhammad Ridha, adapun Rafik meninggal beberapa tahun lampau). Jenazah almarhum dimakamkan Jumat siang di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan bersebelahan dengan makam almarhum Buya Hamka.
Rusjdi Hamka lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 7 September 1935. Dalam usia satu tahun Rusjdi dibawa ayahnya (Hamka) merantau ke Deli (Medan) sampai 1945. Ketika agresi Belanda ke-2 tahun 1948 Rusjdi ikut menemani ayahnya bergerilya di pedalaman Sumatera Tengah dalam rangka memberi penerangan kepada rakyat. Tahun 1950 hijrah ke Jakarta. Menamatkan SMP dan SMA Muhammadiyah di Yogyakarta. Tahun 1959 melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (tidak tamat) dan menamatkan pada Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta, di samping belajar agama pada ayahandanya Buya Hamka.
Menjalani profesi sebagai wartawan sejak 1959 sebagai Sekretaris Redaksi Majalah Panji Masyarakat yang didirikan oleh Buya Hamka sampai media yang merupakan corong suara umat Islam itu tahun 1960 di-breidel oleh rezim Orde Lama yang sangat dipengaruhi Partai Komunis Indonesia (PKI). Panji Masyarakat majalah Islam yang berpengaruh di masa itu dilarang terbit oleh penguasa karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul “Demokrasi Kita”. Bung Hatta lewat tulisannya mengkritisi garis politik demokrasi terpimpin-nya Presiden Soekarno.
Dalam tahun-tahun Panji Masyarakat berhenti terbit, beberapa tokoh umat Islam dengan dukungan dari Jenderal A.H. Nasution, Letjen H. Sudirman dan Mayjen Muchlas Rowi menerbitkan majalah Gema Islam. Rusjdi Hamka ditunjuk sebagai Sekretaris Redaksi Gema Islam. Baik Panji Masyarakat maupun Gema Islam, haluan dan jiwanya tetap sama. Kedua majalah itu bermarkas di Masjid Agung Al-Azhar Jakarta sebagai pusat kegiatan dakwah dan benteng perjuangan umat Islam menentang kebathilan di masa itu.
Setelah Panji Masyarakat terbit kembali pasca jatuhnya Orde Lama dan kebangkitan Orde Baru 1966, Rusjdi Hamka diserahi tugas sebagai Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat. Setelah wafatnya Buya Hamka tahun 1981, Rusjdi Hamka sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Panji Masyarakat berusaha menjaga warisan umat sampai media kebanggaan umat Islam itu berhenti terbit sekitar pertengahan dekade 1990-an. Dalam tahun 1965-1967 Rusjdi Hamka menjadi pemimpin redaksi “Harian Mercusuar” yang diterbitkan PP Muhammadiyah.
Andaikata ditanya pengalaman yang paling berkesan sebagai insan pers? Mungkin dijawab oleh Rusjdi Hamka adalah pengalaman bersama Buya Hamka dan keluarga besar Bulan Bintang menerbitkan Panji Masyarakat dan Gema Islam. Yaitu di saat umat Islam terjepit dan terdesak serta dikucilkan dari gelanggang politik di bawah rezim yang telah sangat dipengaruhi Komunis. Dalam situasi demikian Panji Masyarakat dan dilanjutkan Gema Islam memanggil umat untuk merapatkan barisan, memelihara dan mempertahankan identitas umat Islam.
Kiprah Rusjdi Hamka sebagai tokoh pers Islam dikenal luas mengingat majalah Panji Masyarakat mendapat tempat khusus di hati umat Islam Indonesia dan bahkan sampai ke negeri jiran (Malaysia, Brunei dan Singapura). Sebagai Pemimpin Redaksi dan kemudian Pemimpin Umum Panji Masyarakat, Rusjdi Hamka sering menulis rubrik tetap “Dari Hati Ke hati” dan terlebih setelah wafatnya Buya Hamka, rubrik tersebut diisi secara bergantian oleh Rusjdi Hamka dan H. M. Yunan Nasution (kini keduanya sudah almarhum).
Rusjdi Hamka dan adik-adiknya sangat besar jasanya dalam melestarikan warisan pemikiran Buya Hamka, terutama di masa dia produktif menulis dan berkiprah di dunia penerbitan. Karangan-karangan Buya Hamka yang tersebar dihimpun oleh Rusjdi Hamka selaku ahli waris dan editor dengan dibantu adik-adiknya yang selanjutnya diterbitkan oleh Pustaka Panjimas. Tidak lama setelah Buya Hamka wafat buku-buku karya Buya dicetak ulang di masa jaya Pustaka Panjimas.
Rusjdi Hamka adalah kader dan aktivis Muhammadiyah sejak usia remaja. Meski Buya Hamka adalah tokoh besar Muhammadiyah, namun Rusjdi Hamka aktif di organisasi Muhammadiyah melalui jenjang organisasi dari bawah. Yakni sebagai anggota aktivis Pemuda Muhammadiyah Cabang Kebayoran, Wakil Ketua Cabang Muhammadiyah Cabang Tebet, anggota PP Pemuda Muhammadiyah, dan setelah Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Solo tahun 1985, Rusjdi Hamka dipilih sebagai Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah. Di lingkungan Al-Azhar, almarhum mengemban amanah sebagai Ketua Umum Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar Pusat selama satu periode. Sampai wafatnya Drs. H. Rusjdi Hamka tercantum sebagai anggota pembina YPI Al-Azhar dan anggota Dewan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).
Sosok Rusjdi Hamka, mantan nahkoda Panji Masyarakat dan Pengurus YPI Al-Azhar yang merupakan warisan umat, meninggalkan kesan yang tak mungkin dilupakan di lingkungan keluarga besar Al-Azhar. Semasa sehatnya almarhum juga mengisi jadwal khutbah dan ceramah ramadhan di masjid yang tidak dapat dipisahkan dari nama besar Buya Hamka itu.
Beberapa kali menghadiri konperensi Islam Internasional di luar negeri, antara lain Konperensi Masjid Sedunia di Mekkah (1975), Muktamar Alam Islami di Cyprus (1980). Pernah diundang oleh Kementerian Luar Negeri Jepang dalam rangka meninjau obyek-obyek pendidikan pemuda dan perkembangan Islam di Jepang.
Rusjdi Hamka meninggalkan karya monumental, yakni buku “Pribadi dan Martabat Buya Hamka” (1981). Perjuangan Buya Hamka, kehidupan pribadi dan keluarga Buya yang penuh teladan hingga detik-detik menjelang wafatnya Buya, serta dokumentasi jejak hayat Buya Hamka yang belum tersiar diungkapkan oleh Rusjdi Hamka dalam buku setebal 300 halaman itu, dengan gaya bahasa yang mengalir dan menyentuh di hati. Masyarakat bertanya-tanya kenapa Buya Hamka tiba-tiba meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelum habis masa jabatannya, Buya Hamka menjadi tahanan politik rezim Orde Lama hingga menulis Tafsir Al-Azhar. Semuanya ditulis oleh Rusjdi Hamka yang merupakan saksi hidup perjuangan sang ayah.
Buku lainnya berjudul ETOS Iman, Ilmu dan Amal Dalam Gerakan Islam (1986). Dalam buku itu Rusjdi Hamka membahas masalah iman, tauhid dan manifestasinya dalam amal, politik dan gerakan pembaharuan Islam Indonesia awal abad ke-20 berdasarkan fakta sejarah, wukuf di Arafah mengangkat harkat manusia, hikmah ibadah haji dan ajaran qurban untuk mengangkat harga diri seorang mukmin, wajah Islam di Indonesia, uraian tentang segi-segi yang unik dalam masyarakat Islam di Indonesia, kehadiran Kristen dalam pandangan umat Islam Indonesia, dan karangan lainnya.
Salah satu keteladanan Rusjdi Hamka adalah dia selalu menjaga bicaranya pada hal-hal yang perlu saja. Umat Islam Indonesia kehilangan seorang tokoh, saksi sejarah, dan penjaga warisan umat yang patut dikenang dan dilanjutkan jejak langkahnya. Semoga almarhum mendapat tempat kembali yang mulia di sisi Allah SWT. (mfns/foto:bimasislam).
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



