Jakarta, bimasislam— Eksistensi Penyuluh Agama Islam tak terbantahkan lagi. Lahir dari rahim kemerdekaan, penyuluh agama Islam tumbuh dalam perannya yang terus menguat dari waktu ke waktu. Bahkan, di saat moderitas dengan berbagai pencapainnya membanjiri laman-laman kehidupan umat, keberadaan penyuluh agama Islam semakin ditunggu kiprahnya. Karena itulah, Kementerian Agama berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas para ujung tombak ini agar lebih profesional.
Hal ini disampaikan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, sata membuka Pemilihan Penyuluh Agama Islam Teladan Tk. Nasional VIII tahun 2016, 28 Seotember s.d 2 Oktober, bertempat di Boutique Hotel Jl. Gunung Sahari, Jakarta. Dihadiri 33 perwakilan provinsi, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, para pimpinan ormas Islam dan para penyuluh dari wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Banten.
Lukman Hakim mengingatkan bahwa pembangunan nasional bidang agama adalah amant UU. Para penyuluh agama Islam sebagai ujung tombak di tingkat bawah, harus terus mengasah kemampuan dan memperkaya wawasan sebagai respon atas perkembangan zaman yang tarus menghadirkan kompleksitas problematika keumatan. Para penyuluh harulah profesional, mampu menggerakkan perubahan di mana ia mengabdi.
“Penyuluh sebagai bagian dari pemerintah hendaknya menjadi fasilitator yang siap menyelesaikan masalah bukan menjadi provokator yang memperkeruh keadaan. Penyuluh hendaknya berdiri di atas dan untuk semua golongan. Sebagai pejabat fungsional penyuluh berkewajiban menghentikan berbagai aksi kekerasan dan intoleransi yang terjadi di masyarakat. Damai Indonesiaku harus menjadi visi penyuluh agama Islam,” tegasnya.
Kementerian Agama, lanjutnya, menempatkan penyuluh agama Islam sebagai program prioritas nasional. Karena itulah terdapat tiga aspek yang kini fokus dibenahi. Pertama, penguatan SDM penyuluh agama Islam melalui rekrutmen yang dilakukan secara terbuka yang lebih transparan. Kedua, penguatan regulasi penyuluhan agama Islam. Ketiga, peningkatan sarana dan prasarana penyuluhan agama Islam. Selain pelatihan, rekrutmen dan diklat, penguatan peran penyuluh juga ditandai dengan pemenuhan sarana-prasaranan bagi terlaksananya penyuluhan agama Islam pada masyarakat.
“Mari bergerak membangun kualitas penyuluh agama Islam yang profesional dan berwawasan luas. Layani masyarakat secara baik dan benar, tingkatkan kreatifitas dan inovasi guna memajukan pembinaan keagamaan di masyarakat,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Dirjen Bimas Islam menyampaikan bahwa ajang pemilihan penyuluh teladan telah dilakukan secara berjenjang di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi hingga nasional. Mereka yang hadir dalam ajang tingkat nasional saat ini adalah para teladan yang mewakili provinsi-masing-masing.
“Para peserta ini adalah sosok-sosok luar biasa yang berkiprah dengan penuh dedikasi dan inovasi. Dan di sinilah mereka akan beradu inovasi untuk menjadi yang terbaik,” tuturnya.
Machasin menegaskan, pemilihan penyuluh teladan mengambil penilain pada dua faktor, yaitu karya ilmiah dan visitasi lapangan. Selain dibuktikan secara fisik wilayah dan hasil karya, para peserta juga harus menuliskannya dalam bentuk karya ilmiah. Diharapkan berbagai gagasan ini mampu menggerakkan para penyuluh terus produktif melahirkan berbagai inovasi.
Selamat berlomba!. (kangjeje/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



