Serang, bimasislam-- Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan kalau Banten telah dikenal dengan ulama besarnya, terkenal karena kealiman tokoh agamanya, bahkan kitab ulama Banten diajarkan di Cairo Mesir. Hal itu dikemukakan saat memberi sambutan pada Sarasehan tentang Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama yang diselenggarakan Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam, di Serang, Provinsi Banten, Selasa (16/12).
Dikatakan Menag, manusia kini dihadapkan pada era globalisasi, sebuah era dimana manusia hidup tanpa sekat. Dengan alat telekomunikasi yang semakin canggih, membuat dunia ini ada di genggaman tangan. Akses informasi menjadi semakin cepat, mudah dan murah untuk di akses. Selain hal positif juga menyertai bersamanya hal-hal negatif yang tidak sesuai dengan ke-Indonesiaan. Salah satunya adalah radikalisme ikut menyertai era globalisasi ini.
“Sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk menjaga nama baik yang diwariskan para ulama terdahulu,dan saya mengajak tokoh Agama di Banten agar memberikan pemahaman agama yang lebih moderat dan inklusif“, tegas Menag.
Selain itu, Menag juga mengungkapkan, tiga puluhtahun lalu, tidak pernah dijumpai yang karena beda faham keagamannya orang rela meledakkan dirinya. Tidak pernah menjumpai sesama muslim saling menumpahkan darah hanya karena perbedaan dalam menafsirkan al-Qur’an dan Hadis. Dan itu terjadi sekarang, seperti yang terjadi di belahan timur tengah, hanya karena beda mazhab, yang satu Sunni dan yang satu Syiah. Hal hal seperti itu, menurutnya ada kemungkinan bisa terjadi di tengah-tengah kita.
Radikalisme, Menag menambahkan, memang bisa karena kondisi sosial, tapi yang paling berbahaya adalah karena akar paham keagamaan. Sebagai umat bragama hal seperti ini perlu diantisipasi. Bagaimana kita bisa menerjemahkan agama yang esensi.
“Semua agama pada dasarnya mengajak pada kedamaian, keselamatan. Salam yang diucapkan semua agama itu baik, bagaimana memanusiakan manusia dan membawa rahmat. Bukan agama yang menebarkan permusuhan, menimbulkan kekhawatiran, ketakukan dan bahkan menimbulkan kecemasan”,tegas Menag.
Ditempat yang sama, Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Prof. Machasin mengajak semua pihak untuk bersama-sama menanggulangi paham radikalisme yang bukan hanya merugikan umat, tapi juga merugikan citra Islam dan Indonesia. “Ada penelitian yang mengatakan bahwa, korban Jihad lebih dari 80 persen adalah umat Islam itu sendiri. Dan kalau di ISIS itu dikatakan memperjuangkan Islam tapi korbannya adalah Sunni, Islam itu sendiri”, terangnya.
Sarasehan diikuti 200 orang, terdiri dari Ulama (Tokoh Agama), perwakilan Ormas Islam, Penyuluh Agama Islam, perwakilan Kejaksaan dan Kepolisian. Hadir memberikan materi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU) Prov. Banten, Pengurus Muhammadiyah prov. Banten, Polda Banten dan Badan Nasional Penanggulangan Teroriesme. (syamsuddin/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



