Yogyakarta , bimasislam— Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sejak hari Senin (9/2) kemarin menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta. Acara nasional yang diadakan MUI pertama kalinya pada tahun 1974 ini diagendakan selesai hari Rabu (11/2) ini, dengan mengusung tema “Penguatan Peran Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya Umat Islam untuk Indonesia yang Berkeadilan dan Berperadaban”.
Dalam sambutannya, Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin menegaskan bahwa Islam Nusantara bisa menjadi “The New World Order”(tata dunia baru) yang lebih berkeadaban. Sejarah bangsa ini sesungguhnya telah menjelaskan hal ini. “Yogyakarta sebagai tuan rumah penyelenggaraan Kongres ini sesungguhnya memberikan makna sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya Islam yang moderat, Islam yang ramah dengan lingkungannya, dan Islam yang harmonis dengan beraneka ragam pemeluknya”, ungkap Lukman seraya menyitir temuan Indonesianis Mark R. Woodward setelah melakukan penelitian di Keraton Yogyakarta, yang termaktub dalam bukunya Islam in Java: Normative Piety dan Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta.
Kita memang harus menyadari, sebagaimana diakui oleh para pemerhati Islam, bahwa Islam Indonesia memiliki identitas sendiri yang berbeda dengan Negara-negara Islam lainnya, imbuh Menag. Islam Nusantara punya modal besar untuk bangkit dan maju, bukan saja karena Indonesia merupakan bangsa dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tapi juga mengingat Islam lahir dan berkembang di tanah ini dalam tradisi masyarakat lokal sekaligus bersifat kosmopolitan yang selalu terbuka terhadap nilai-nilai baru yang datang dari peradaban lain. Kata kuncinya “moderat” dan harmoni”, yang substansi harapannya tersirat dalam tema Kongres kali ini, kata Lukman.
Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam kesempatan yang sama, sebelum membuka Kongres menyatakan, “Umat Islam jangan hanya mengurusi ibadah, saatnya umat Islam mengembangkan perdagangan untuk memajukan umat”. Islam bisa maju juga didorong oleh faktor perdagangan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. JK bahkan menyebut, hadis yang mengatakan bahwa “sebaik-baik orang itu di masjid dan seburuk-buruknya di pasar” perlu ditinjau ulang. Sebab, menurutnya, Nabi malah sebagian hidupnya di pasar untuk berdagang.
KUII ke-6 ini dihadiri oleh seluruh pimpinan MUI se-Indonesia, pimpinan Ormas, pimpinan Perguruan Tinggi Islam, dan 38 Kesultanan Islam se-Indonesia. Selain mereka, juga turut diundang Bachtiar Ali, Azyumardi Azra, dan Sunyoto Usman dari kalangan akademisi, serta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho. (Thobib-Edijun/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



