Jakarta, bimasislam-- Kemajuan teknologi informasi akhir-akhir inimenjadikan masalahkehidupan beragama semakin kompleks. Kualitas kehidupan beragama masih pada tataran nilai dan simbol-simbol. Pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai agama belum terintegrasi secara optimal dalam perilaku sehari-hari. Hal ini tercermin dengan masih banyaknya perilaku negatif, seperti tindak kriminalitas, pergaulan bebas, praktek korupsi, penyalahgunaan NAPZA, praktik perjudian, dan lain-lain. Juga, fenomena ketidak-harmonisan keluarga, perselingkuhan, perkawinan sirri, dan kenaikan angka perceraian terus meningkat. Demikian dikatakan oleh Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Prof. Dr. Muhammadiyah Amin, M. Ag., dalam peluncuran buku “Politik Kebhinnekaan di Indonesia: Tantangan dan Harapan”, yang diadakan oleh Maarif Institute, di gedung PP Muhammadiyah (13/1).
Lebih lanjut Amin menegaskan,“dalam hubungannya dengan kehidupan umat beragama, fenomena kekerasan atas nama agama atau berlatar belakang agama masih tetap terjadi. Namun, berdasarkan catatan Badan Litbang Kemenag RI terakhir dan beberapa pihak (LSM), pada tahun 2014 menunjukkan trend penurunan atas pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Dibanding periode yang sama pada dua tahun terakhir, kasus pelanggaran tahun 2014 jauh menurun. Beberapa peristiwa yang dianggap berpengaruh pada penurunan tingkat pelanggaran hak beragama antara lain adanya pemilihan legislatif dan juga pemilihan presiden”, tegasnya.
“Satu hal menarik, penurunan atas pelanggaran terhadap kebebasan beragama juga turut dipengaruhi oleh kiprah nyata Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin”, imbuhnya dengan semangat.
Sebagai institusi pemerintah yang menangani langsung kehidupan umat Islam,Ditjen Bimas Islam memiliki tugas yang besardalam membangun dan membimbing umat Islam untuk tumbuh dalam bingkai kebhinekaan NKRI. Bimas Islam terus mengembangkan 4 (empat) semangat (ruh): semangat beragama (ruh al-din) sebagai semangat beragama yang menjunjung tinggi nilai-nilai spiritualitas; semangat nasionalisme (ruh al-wathaniyah), mendorong semangat cinta NKRI; semangat kebangsaan (ruh al-‘ashabiyah), semangat menjaga keragaman nusantara yang terdiri dari berbagai bahasa, budaya, dan agama; ruh kemanusiaan (ruh al-basyariyah), semangat saling menghargai dengan sesama manusia.
Beberapa kontribusi Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dalam pembangunan kehidupan umat beragama untuk menjaga kebhinnekaan diantaranya adalah penanggulangan pengaruh ISIS di Indonesia; penanganan kasus Syiah Sampang, Madura; penanganan JAI di Tasikmalaya (Jabar) dan NTB; penanganan paham menyimpang; Rasul Baru bernama Cecep Solihin; serta beberapa ikhtiar mengatasi problem paham keagamaan melalui sinergitas dengan stake-holder, seperti Ormas Islam, DKM, Lembaga Sosial Keagamaan,Majelis Ta’lim, dan lainnya, tutup Amin.
Hadir juga dalam sebagai pembicara Dr. Jalaluddin Rakhmat, dan tokoh lainnya (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



