Bogor, bimasislam — Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, dalam sambutan Launching Pencetakan Mushaf Al-Quran Standar Indonesia di kantor Unit Percetakan Al-Quran di Ciawi Bogor (25/10), mengatakan bahwa pencetakan perdana Al-Quran ini merupakan momen yang sangat dinantikan oleh banyak pihak. Menurutnya, ini merupakan bukti bahwa negara hadir dalam penyediaan kitab suci umat Islam.
“Ini merupakan saat yang bersejarah. Selain bukti negara telah hadir, kitab suci yang dicetak langsung oleh pemerintah memiliki konsekuensi sendiri. Keinginan para pendahulu kita, para senior kita, semestinya pemerintah mencetak Al-Quran sendiri”, katanya.
Lebih lanjut Menag menyatakan, pencetakan Al-Quran melalui UPQ ini telah melewati jalan yang terjal. Banyak kendala birokrasi yang tidak dapat terhindarkan, dan akhirnya dapat terwujud.
“Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada jajaran Ditjen Bimas Islam yang telah berhasil melaluinya dengan proses panjang. Namun rasa syukur ini harus diimbangi dengan menjaga dan memeliharanya dengan baik. Sejujurnya saya sangat berbahagia hari ini, meskipun sempat ketar ketir meski akhirnya dapat terlaksana juga”, ujarnya.
Sebelumnya, papar Menag, mantan Menteri Agama, alm. Muhammad Maftuh Basuni pernah mengungkapkan kekhawatiran yang luar biasa. Sementara kami yang melanjutkan juga memiliki komitmen yang tidak kecil.
“Takdir menjemput beliau wafat dan belum sempat menyaksikan pencetakan Al-Quran. Namun sebelum hari ke 40, UPQ dapat mewujudkan cita-cita beliau dan tentu saja kita semua. Semoga almarhum tenang di sana karena keinginannya telah kita laksanakan mulai hari ini”, tuturnya.
Terkait dengan posisi Al-Quran, Menag menekankan bahwa Al-Quran memiliki sifat khas di mata umatnya dibandingkan kitab suci umat lain.
“Al-Quran selain dibaca, dihafal, difahami, diamalkan dan diajarkan juga memiliki dimensi beragam dan begitu luas. Ketika Kementerian Agama mencetak Al-Quran, selain rasa syukur, juga tanggungjawab semakin besar. Masyarakat kita adalah masyarakat religius yang memegangi nilai-nilai agama, termasuk dalam menyikapi suatu masalah punya sikap yang khas. Ini harus disadari dengan tanggugjawab penuh”, tambahnya.
Sementara itu dalam laporannya, Dirjen Bimas Islam, Machasin, menyampaikan bahwa pada tahun 2008 Menag Maftuh Basuni meresmikan LPQ dibawah Sekretariat Jenderal. Pada tahun 2013 berubah menjadi UPQ sebagai Unit Pelaksana Teknis Ditjen Bimas Islam. Kemudian dilakukan pembenahan dan selesai awal tahun ini.
“Semestinya UPQ bisa jalan pada bulan September. Karena ada kesalahan teknis dalam anggaran, akhirnya ada proses revisi yang butuh waktu. Juga penyediaan kertas mengalami kegagalan lelang. Namun pada hari ini kita dapat memulai pencetakan sebagai kado ulang tahun saya sekaligus kenangan manis di akhir tugas saya pada 31 Oktober nanti. Selain itu, untuk sementara UPQ akan mencetak mushaf Al-Quran sebanyak 35.000 eksemplar dan tahun 2017 insya Allah dapat mencetak sekitar 150.000 sd 200.000 setiap bulan dengan ketersediaan mesin-mesin baru”, ujarnya.
Pada saat yang sama, anggota Komisi VIII DPR RI, Ahmad Fauzan Harun, memberikan apresiasi kepada Kemenag yang telah mempelopori cetak Al-Quran sendiri demi untuk menghindari kesalahan. Hal tersebut menujukkan Kemenag hadir sekaligus sebagai contoh dalam membina umat.
“Kami mengapresiasi Kemenag yang cepat tanggap, termasuk polemik soal Surat Al-Maidah 51 belakangan ini. Kemenag bisa menjawab dengan cepat dan bisa mengajak para ulama terkait dengan isu-isu keummatan.. Semoga Kemenag tetap akan hadir dalam kehidupan umat”, harapnya.
Hadir dalam kesempatan tersebut para direktur di lingkungan Kemenag, seperti Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Kepala Pusat Litbang Bidang Kehidupan Agama, Kapus Pinmas, Kepala Biro Umum, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, para pejabat eselon III, Kepala Kemenag Kabupaten Bogor, dan hadirin serta tamu undangan.
(thobib/bimasislam)



