Jakarta, bimasislam— Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan saat ditanya oleh para wartawan bahwa paham ISIS yang saat ini meresahkan khususnya di tanah air, bukanlah asli watak beragama umat Islam Indonesia. Seluruh komponen bangsa, khususnya para pendidik dan pimpinan Pondok Pesantren agar terlibat aktif dalam memberikan pencerahan kepada umat akan bahayanya paham ISIS. Demikian dikatakan oleh Lukman di sela-sela Launching dan Diskusi Buku “Menakar Kehadiran Negara Dalam Pendidikan Islam”, di Auditorium HM. Rasyidi, di Gedung Kementerian Agama RI, Jl. MH. Thamrin 6 Jakarta (23/3).
Lebih lanjut Lukman menegaskan bahwa munculnya radikalisme agama bukan semata-mata karena faktor keyakinan dan paham keagamaan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial.
“Radikalisme agama itu bukan semata karena dipengaruhi oleh faktor paham dan keyakinan keagamaan, namun juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti fenomena ketidak-adilan, kesenjangan sosial dan hukum, kemiskinan, dan lain-lain. Karena itu, masalah radikalisme harus bisa dilihat secara utuh”, tandasnya.
Ditanya tentang upaya Kemenag untuk menangani hal tersebut, Lukman dengan tegas mengatakan bahwa banyak hal yang telah dilakukan oleh Kemenag. Program deradikalisasi melalui sinergitas antara Kemenag dengan berbagai komponen bangsa telah banyak dilakukan.
“Beberapa waktu yang lalu Kemenag bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam melakukan pendidikan kewarganegaraan. Program ini dilakukan untuk memberikan pencerahan kepada para peserta didik tentang kesadaran berkonstusi dan memahami hubungan antara negara dan agama. Mereka kita ajarkan agar tidak mudah menganggap Pancasila sebagai thaghut yang sering dijadikan senjata oleh kelompok Islam radikal”, tegasnya. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



