Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya diplomasi keagamaan dalam membangun kepercayaan, memperkuat dialog, dan mendorong perdamaian dunia. Hal itu disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Ambassador Gathering dalam rangka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026.
Menag mengatakan diplomasi keagamaan dapat melengkapi diplomasi formal dengan membuka ruang dialog, saling memahami, dan kerja sama antarmanusia dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam. Menurutnya, para pemimpin agama, khususnya imam, memiliki peran penting dalam membantu masyarakat menghadapi konflik dan berbagai persoalan kemanusiaan.
Nasaruddin menjelaskan, peran imam tidak seharusnya terbatas pada memimpin salat dan menyampaikan khutbah. Di tengah masyarakat dunia yang semakin terhubung, imam juga dapat berperan sebagai pendidik, pemimpin komunitas, mediator, peacebuilder, serta representasi Islam di ruang publik yang lebih luas.
“Peran imam terus berkembang. Secara tradisional, imam dipahami terutama sebagai orang yang memimpin salat, mengajarkan Al-Qur’an, menyampaikan khutbah, dan membimbing kehidupan moral masyarakat Muslim. Fungsi ini tetap penting. Namun, di tengah dunia yang semakin terhubung dan sering kali terpecah, imam juga dituntut menjadi pembangun jembatan, pendidik perdamaian, diplomat komunitas, dan representasi Islam di ruang publik yang lebih luas.” jelas Menag, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (25/9/2026).
Menag juga menyoroti posisi strategis masjid dalam mengembangkan diplomasi keagamaan. Selain sebagai tempat ibadah, masjid dapat menjadi pusat pendidikan, solidaritas sosial, pertukaran intelektual, pelayanan kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia mencontohkan Masjid Istiqlal sebagai salah satu ruang yang dapat memperkuat diplomasi keagamaan. Berbagai kegiatan dialog lintas agama, kerja sama internasional, pendidikan, serta interaksi dengan para pemimpin agama dari berbagai negara menjadi ruang untuk membangun saling pengertian dan perdamaian.
Menurut Menag, diplomasi keagamaan juga membutuhkan kebijaksanaan dan penghormatan dalam menyampaikan nilai-nilai agama. Ia mengingatkan ajaran Al-Qur’an yang mengajarkan umat untuk mengajak kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta berdialog dengan cara yang terbaik.
“Seorang imam yang mengedepankan hikmah tidak berarti melemahkan keimanannya. Sebaliknya, ia menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan Islam dengan penuh martabat dan penghormatan.”
Menag juga mengaitkan peran pemimpin agama dengan tanggung jawab kemanusiaan yang lebih luas, termasuk dalam menghadapi persoalan lingkungan. Menurutnya, bahasa agama dan nilai-nilai moral dapat digunakan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga dan memelihara lingkungan.
Ambassador Gathering merupakan bagian dari rangkaian IGIC 2026 yang mempertemukan para duta besar, imam besar, pemimpin agama, dan tamu internasional lainnya. Konferensi ini membahas peran kepemimpinan keagamaan dalam memperkuat harmoni masjid, mengembangkan diplomasi keagamaan, serta berkontribusi terhadap perdamaian dunia.
(Kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



