Jakarta, bimasislam— Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun twitter-nya menjelaskan ihwal pembacaan kitab suci al-Quran dengan langgam Jawa pada Peringatan Isra Mi’raj Kenegaraan yang digelar pada Jumat malam (15/05) di Istana Negara, Jakarta.
Alumni Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, itu mengatakan bahwa penggunaan langgam Jawa itu adalah idenya yang dimaksudkan untuk menjaga tradisi Nusantara dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah air. Putra mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri itu juga mengaku mendapat banyak respon dari masyarakat terkait hal tersebut. Menurutnya, ia menyimak kritik dari masyarakat yang berkeberatan dengan pembacaan al-Quran dengan langgam Jawa, tapi juga berterimakasih kepada yang mengapresiasinya.
Sebelumnya, saat berbicara pada acara Milad Baitul Quran dan Museum Istiqlal, di Jakarta, 6 Mei lalu, mantan wakil ketua MPR itu juga sempat mengatakan bahwa Indonesia perlu menunjukan kepada dunia tentang kekayaan Nusantara yang terkait dengan al-Quran, tidak hanya pada iluminasi dan penulisannya, tetapi juga dalam hal qira’ah.
“Saya minta kepada jajaran di Kemenag untuk mencari ragam langgam bacaan Al-Quran di Nusantara ini” katanya. “bila didapatkan qori yang bisa membaca al-Quran dengan langgam Melayu, Bugis, Medan dan dengan langgam apapun yang itu merupakan ciri Nusantara, saya pikir itu akan sangat memperkaya khazanah qiraah kita, dan suatu saat menarik juga kita festivalkan dalam acara-acara tertentu,” ujar Menag.
Namun demikian, pria kelahiran Jakarta, 26 November 1962 itu juga berharap, penggunaan langgam daerah tetap memperhatikan kaidah dalam ilmu tajwid “tentu saja dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Dan saya berharap Baitul Quran dapat menjadi rumah bagi segala sesuatu yang terkait dengan al-Quran,” harapnya.
Respon Ulama
Menanggapi sebagian respon di masyarakat terkait pembacaan al-Quran dengan langgam Jawa ini, Rektor Insititut Ilmu al-Quran (IIQ), Jakarta, KH.Ahsin Sakho Muhammad menegaskan bahwa cara membaca al-Quran adalah karya seni manusia yang dipadankan dengan Kalamullah. Hal tersebut, katanya, tidak bertentangan dengan ajaran Islam tetapi lahir dari seni budaya masyarakat tertentu.
“Ini adalah perpaduan yang baik antara Kalamullah dari langit yang menyatu dengan bumi yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan,” kata Ahsin Sakho, sebagaimana dilansir ROL, Ahad (17/5/2015).
Meski demikian, pakar Qiraah Sab’ah yang hafal 1000 bait Nadham Syatibiyah ini mengatakan bahwa pembacaan al-Quran menggunakan langgam budaya harus tetap mengacu kepada kaidah yang diajarkan Rasul dan para sahabatnya. Dalam hal ini, tajwid dalam hukum bacaannya.
Pria yang menempuh pendidikan S1 hingga S3 di Madinah al-Munawwarah itu mengatakan, “panjang pendek dan makhrajnya harus diperhatikan, tetapi jika hanya sekedar langgam Jawa, Sumatera, Sunda, Melayu, dan lainnya, itu sah saja selama memperhatikan hukum bacaan semestinya. Itu kreatifitas budaya”
Lebih lanjut, pria yang kerap menjadi juri MTQ tingkat Internasional itu menjelaskan bahwa selama ini masyarakat Indonesia hanya mengenal satu pintu dalam mendengarkan cara melantunkan al-Quran. Seluruhnya terangkum dalam tujuh seni, yakni Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, dan Jiharka.
Dalam ketujuh jenis qiraah tersebut, kata dosen tafsir di UIN Jakarta itu, terdapat tingkatan dan variasi nada yang berbeda-beda. “Sejarah cara melantunkan al-Quran ini berasal dari Iran. Banyak orang Arab yang mempelajarinya ke Parsi, Iran. Meskipun ada 40 jenis cara membaca al-Quran, tapi yang dinilai layak hanya tujuh ini,” ungkapnya.“langgam bacaan al-Quran berasal dari Iran. Saat itu, orang Makkah dan Madinah sedang membersihkan Ka’bah. Di sana ada orang Persia yang sedang melantunkan bacaan al-Quran dengan langgam nada lagu asal negerinya.
“Ketika itu orang Makkah kemudian menerapkannya ke dalam bacaan al-Quran dan ternyata merdu didengar. Sejak saat itu pun lahirlah lagu syarqi yang bernuansa ketimuran,” jelasnya.
Sementara itu, wakil ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH.Ma’ruf Amien ketika dimintai pendapat mengenai lantunan al-Quran dengan langgam Jawa mengaku belum mendengar langsung tilawah tersebut. Tetapi ia mengatakan, “tidak masalah selama tajwidnya terjaga, kalau lagu tidak masalah,” katanya singkat. (ska/ROL/kemenag)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



