Oleh:
Dedi Slamet Riyadi*
Acara pembukaan “Internasional Conference on Islamic Ecotheology for The Future of The Earth (ICIEFE) 2025” (Senin, 14/7) menjadi momen yang istimewa dan langka. Konferensi yang mengambil tajuk “Islamic Ecotheology and The Climate Crisis: Building Ethical and Sustainable Pathways” menjadi ajang pertemuan dua ulama besar, yaitu KH. Ahmad Bahauddin Nursalim dan Prof. Nasaruddin Umar. Dengan gaya yang berbeda, keduanya menerjemahkan bagaimana semestinya ekoteologi Islam diterjemahkan dalam praktik kehidupan.
Dalam ceramah singkatnya, tidak lebih dari 5 menit, Gus Baha menjelaskan pentingnya gerakan-gerakan untuk menyelamatkan bumi. Gus Baha mengutip ayat Al-Quran surah al-Mulk ayat 16: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?” Sebagaimana kandungan ayat ini, pilihan Gus Baha untuk memulaii ceramahnya ini benar-benar mengguncang kesadaran. Betapa manusia merasa aman, tenang, dan santai sehingga terus melakukan eksploitasi dan memaksa bumi agar terus mengeluarkan isisnya untuk memenuhi hasrat manusia yang tak pernah bisa dipuaskan. Dengan ayat itu kita disadarkan bahwa tak sepatutnya kita merasa tenang, merasa nyaman, dan menjalani kehidupan seperti biasa seakan-akan bumi dan seluruh isinya adalah milik kita. Padahal, Allah yang maha menciptakan dan maha memelihara juga memiliki kuasa penuh untuk menjungkirbalikkan bumi dan menimpakannya pada manusia.
Kemudian Gus Baha menjelaskan tentang pentingnya upaya dan gerakan untuk menyelamatkan bumi. Bagaimanakah caranya, Gus Baha mengutip qawl ulama, takhallaqû bi akhlâq llâh —teladanilah perilaku Allah. Upaya pelestarian lingkungan atau penyelamatan bumi dilakukan manusia dengan cara meneladani perbuatan dan perilaku Allah terhadap makhluk-Nya. Dalam surah Abasa ayat 24 Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan makanananya. Perhatikanlah bagaimana Dia mencurahkan air (dari langit), membelah bumi dengan sebaik-baiknya, menumbuhkan biji-bijian, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kebutuhan manusia dan hewan ternak (Q.S. Abasa: 25-32). Seakan-akan Allah berfirman, lihatlah prestasi-Ku, lihatlah apa yang Kulakukan, bagaimana menumbuhkan buah, sayuran, pepohonan untuk kesenanganmu. Dengan kata lain, upaya untuk menyelamatkan bumi dilakukan dengan mencontoh dan meneladani perilaku serta prestasi Allah. Kita bisa merawat bumi dengan menghidupkan, memelihara, dan menumbuhkan. Menanam pohon, yang merupakan perbuatan biasa, menjadi tindakan Ilahiah, sebagai bentuk meneladani perilaku Allah.
Sebaliknya, ciri orang-orang jahat dan orang yang dibenci oleh Allah adalah orang yang merusak tanaman, merusak tetumbuhan, dan merusak populasi: “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (Q.S. al-Baqarah: 205).
Reinterpretasi Ajaran Abrahamik Demi Masa Depan Bumi
Dalam pidato kunci yang mengawali konferensi internasional ini, Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar mengutip ungkapan Lynn White, seorang penulis Amerika, yang menyatakan bahwa tradisi Abrahamik merupakan penyebab penting kerusakan dan krisis ekologi. Dalam esainya yang sangat populer, “The Historical Roots of Our Ecological Crisis” (1967). Lynn White menyatakan bahwa pandangan dunia dalam tradisi Yahudi-Kristen, khususnya dalam kitab Kejadian (Genesis), yang menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Tuhan dan diberi kuasa untuk menaklukkan bumi serta menguasai segala isinya, telah menjustifikasi eksploitasi alam tanpa batas.” Prof. Nasar lebih jauh menjelaskan tesis Lynn tersebut bahwa tradisi positivisme didorong oleh ajaran Abrahamik yang memberikan kuasa kepada manusia untuk mengelola dan menaklukkan bumi. Positivisme yang berkembang di Barat sejak abad ke-18 manusia didorong untuk menaklukkan semesta. Manusia terus berusaha menaklukkan seluruh titik dan isi bumi. Manusia merasa harus menaklukkan sungai, gunung, lautan, dan seluruh bagian semesta. Didorong oleh rasa penasaran dan hasrat eksplorasinya, manusia menaklukkan segala. Tidak merasa cukup dengan menjelajahi, manusia kemudian mengeksploitasi, mengeruk, dan menghisap isi bumi.
Sebenarnya, paparan Prof. Nasar tentang tradisi positivisme Barat ini disampaikan hampir pada bagian akhir pidato kuncinya. Pada bagian awal ceramahnya, Prof. Nasar bertutur tentang alam, kosmologi Islam, dan pentingnya upaya pemaknaan kembali teologi dan ekoteologi. Agar bisa menerjemahkan ekoteologi Islam, kita harus memahami kosmologi. Paparan tentang kosmos ini penting disampaikan lebih dulu karena dari konsep kosmologi inilah kemudian lahir ekoteologi. Kosmologi menjelaskan realitas tentang alam— yakni kullu ma siwâ allâh, apa pun yang selain Allah, serta bagaimana relasi antara manusia dan alam. Dalam Islam sendiri berkembang berbagai pandangan tentang alam, tentang wujud, dan mawjud. Pemahaman tentang apa dan siapakah alam, serta siapakah manusia, dan bagaimana hubungan antara alam dan manusia menjadi fondasi penting untuk menerjemahkan ekoteologi dalam laku kehidupan dan laku beragama.
Jelasnya, ketika manusia memosisikan dirinya sebagai pusat semesta (antroposentris), sebagaimana yang didakwahkan positivisme maka ia akan menempatkan alam semesta sebagai objek yang dapat diperlakukan dan dieksploitasi sekehendak nafsu manusia. Meminjam ungkapan Martin Buber, hubungan yang terbangun antara manusia dan alam bagi kaum positivis, adalah hubungan aku-dia (I-It), bukan hubungan aku-kamu (I – Thou). Alam diposisikan sebagai objek yang dapat dieksploitasi oleh manusia. Karena itu, upaya penyelamatan bumi dan penerjemahan ekoteologi Islam dalam kehidupan dilakukan dengan menempatkan alam sebagai subjek yang setara dengan manusia. Dengan demikian, hubungan yang akan terbangun adalah hubungan aku-kamu (I – Thou). Hubungan yang setara (subjek-subjek, bukan subjek – objek) bisa dibangun dan dikembangkan jika kita memahami bahwa alam (kullu mâ siwa allâh) sesungguhnya merupakan ayat atau alamat yang menunjukkan kepada Allah. Atau dalam ungkapan Emanuel Levinas bahwa segala sesuatu itu menampakkan wajah Allah. “Wajah (the Face)” yang dimaksud Levinas adalah titik pertemuan dengan Yang Lain (the Other) dan, secara tidak langsung, dengan Yang Tak Terhingga (the Infinite) atau Tuhan.
Dengan menempatkan alam pada posisi yang setara maka manusia akan menghormati dan menghargai alam. Manusia akan melihat dirinya sendiri ketika menghadapi dan memperlakukan alam. Jika dia menghidupkan alam, berarti dia menghidupkan dan menghidupi dirinya sendiri. Sebaliknya, jika dia merusak alam maka dia telah merusak dan menghancurkan dirinya sendiri. Ketika alam dipahami sebagai alam-at menuju Allah, alam menjadi susuatu yang sakral karena keberadaannya tak bisa dilepaskan dari keberadaan Allah.
Paparan Prof Nasar tentang sakralitas ala mini nyambung dengan ceramahnya ketika membuka kegiatan “Sarasehan Kemasjidan dan Lokakarya Nasional BKM”. Dalam pidato kunci yang membuka kegiatan Konferensi Internasional ini, Prof. Nasar menjelaskan kembali konsep tempat dan waktu yang sakral (sacred place and sacred time). Upaya pensakralan alam ini merupakan jawaban penting ekoteologi Islam terhadap kritik Lynn White bahwa tradisi Abrahamik menjadi salah satu pemicu krisis lingkungan.
Berbeda dengan pandangan White bahwa tradisi Yahudi-Kristen memisahkan manusia dari alam, dalam Islam, alam dipandang sebagai ayat (tanda-tanda kebesaran Allah). Al-Qur'an sering menggambarkan alam—gunung, laut, tumbuhan, dan hewan—sebagai entitas yang bertasbih kepada Allah (Q.S. Al-Isra: 44). Ini mencerminkan pandangan ekosentris yang selaras dengan usulan White untuk mengadopsi spiritualitas yang lebih ramah lingkungan, seperti yang dicontohkan oleh Santo Fransiskus.
Secara khusus, Prof. Nasar mendorong reinterpretasi nilai-nilai religius untuk mendukung ekologi. Menurutnya, penyelamatan bumi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep tauhid. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh cendekiawan lain seperti Nasr dan Fazlun Khalid (pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences) yang menekankan pentingnya tauhid sebagai dasar ekoteologi, di mana manusia menyadari keterhubungan dirinya dengan alam sebagai ciptaan Allah.
*Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Keagamaan



