Jakarta, Bimas Islam — Memasuki bulan Muharam 1448 Hijriah, umat Islam dianjurkan menghidupkan amalan puasa Tasu’a dan Asyura yang dilaksanakan pada 9 dan 10 Muharam. Selain memiliki keutamaan besar, kedua puasa tersebut mengandung pesan penting tentang ketaatan, rasa syukur, dan identitas keislaman yang diajarkan langsung oleh Rasulullah Saw.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, puasa Asyura merupakan salah satu ibadah sunnah yang paling dianjurkan pada bulan Muharam. Keutamaannya bahkan disebut secara tegas dalam hadis Nabi sebagai amalan yang menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa setahun yang telah lalu.
“Rasulullah Saw. bersabda, ‘Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar Dia menghapuskan dosa setahun yang lalu’ (HR Muslim No. 1162). Ini menunjukkan besarnya rahmat Allah kepada hamba-Nya yang menghidupkan amalan tersebut,” ujar Arsad di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Menurut Arsad, yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang selama setahun terakhir. Karena itu, puasa Asyura menjadi momentum penting untuk memperbanyak muhasabah sekaligus memperkuat komitmen menjalani kehidupan yang lebih baik.
Ia menjelaskan, Rasulullah Saw. tidak hanya menganjurkan puasa pada 10 Muharam. Nabi juga mendorong umat Islam untuk berpuasa pada 9 Muharam atau yang dikenal sebagai puasa Tasu’a. Anjuran ini memiliki hikmah yang sangat penting dalam tradisi keislaman.
“Dalam hadis riwayat Muslim No. 1134, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.’ Para ulama memahami hadis ini sebagai anjuran untuk menggabungkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharam,” katanya.
Pembeda Tradisi Ahli Kitab
Arsad menerangkan, salah satu hikmah utama puasa Tasu’a adalah sebagai bentuk mukhalafah atau pembeda dengan tradisi Ahli Kitab yang juga mengagungkan hari Asyura. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki identitas ibadah yang khas tanpa mengurangi penghormatan terhadap ajaran para nabi terdahulu.
Menurutnya, Rasulullah Saw. ingin menunjukkan bahwa umat Islam memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan rasa syukur kepada Allah. Karena itu, puasa 9 dan 10 Muharram menjadi bentuk penyempurnaan ibadah yang membedakan praktik umat Islam dari tradisi keagamaan lainnya.
“Puasa Tasu’a bukan sekadar tambahan ibadah, tetapi juga mengandung pesan tentang jati diri umat Islam. Rasulullah Saw. mengajarkan pentingnya menjaga identitas keagamaan sekaligus meneladani nilai-nilai syukur yang diwariskan para nabi,” ujarnya.
Arsad menambahkan, para ulama juga menjelaskan bahwa puasa tanggal 9 Muharam menjadi bentuk kehati-hatian dalam penentuan awal bulan. Dengan menggabungkan puasa 9 dan 10 Muharam, umat Islam dapat memastikan bahwa amalan Asyura tetap terlaksana sesuai waktunya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah Swt. Dalam hadis riwayat Muslim No. 1163 disebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam.
“Karena itu, memperbanyak puasa pada bulan Muharram merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Tasu’a dan Asyura menjadi bagian penting dari keutamaan tersebut,” tuturnya.
Menurut Arsad, semangat yang terkandung dalam puasa Tasu’a dan Asyura tidak berhenti pada aspek ritual semata. Ibadah ini juga menjadi sarana melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.
Ia mengajak masyarakat menjadikan momentum Muharam sebagai awal memperkuat kualitas keimanan dan memperbanyak amal saleh. Ajakan tersebut sejalan dengan semangat penguatan kehidupan beragama yang terus didorong Menteri Agama Nasaruddin Umar agar nilai-nilai ibadah tidak hanya berdampak pada kesalehan individu, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat.
“Melalui puasa Tasu’a dan Asyura, umat Islam diajak untuk memperkuat hubungan dengan Allah, menumbuhkan rasa syukur, serta meneladani sunnah Rasulullah Saw. dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



