Oleh:
Muhammad Yasin Ahmad, S.H.I*
Keluarga adalah bagian terkecil didalam struktur masyarakat dan negara yang terdiri dari individu-individu anggota keluarga. Tentu jika negara punya masalah besar, maka hampir bisa dipastikan keluarga sebagai institusi terkecil di dalam sebuah negara akan ikut terkena imbasnya.
Faktanya, pandemi ini telah menggoncang hampir seluruh aspek kehidupan kita. Mulai dari aspek kesehatan, ekonomi, hingga pelayanan masyarakat, bahkan sampai ke persoalan politik. Di negara-negara besar seperti China, Amerika, dan india, sampai saat ini belum menemukan pola baku bagaimana mereka bisa keluar dari pandemi ini. Artinya kalau ini berkelanjutan maka pandemi ini bisa menggoyang posisi adikuasa sebuah negara. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Yang pasti, 59 negara didunia telah memutuskan untuk menutup pintu masuk untuk WNI.
Kebijakan penanganan pandemi yang tidak tepat sasaran, setidaknya yang berhubungan dengan pelayanan mendasar masyarakat, baik itu pelayanan individu berupa kebutuhan sandang, pangan, dan papan, juga kebutuhan tidak langsung seperti kesehatan , keamanan dan pendidikan. Ini akan sangat mempengaruhi kredibilitas pemerintahan.
Padahal disisi lain, secara intern, keluarga juga tidak lepas dari problem, baik ekonomi keluarga, kekerasan fisik dan psikis, perselingkuhan, dan sebagainya.
Dari dua aspek inilah pentingnya kita harus memahami, bagaimana mengatasi masalah keluarga di tengah pandemi.
Problem Keluarga
Dalam pandangan agama, problem keluarga adalah ujian yang diberikan oleh Allah SWT untuk semakin dekat dengan-Nya, juga agar tetap taat dan tunduk pada Syari'ah-Nya. Allah SWT berfirman: "Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)". (Q.S Al A’raf: 168)
Tidak sedikit orang setelah bergelimang harta justru lupa dengan Allah, bahkan banyak diantara kita yang sebelumnya adalah tokoh panutan, tapi setelah berkuasa menjadi kehilangan arah, bahkan ada yang menganjurkan agar generasi muda kita belajar kreativitas dari budaya luar yang justru bertentangan dengan ajaran agama.
Problem Keluarga masuk pada ujian Allah yang buruk, sekalipun musibah itu bisa jadi amal ibadah yang luar biasa, saat dijalani dengan rasa syukur dan sikap qonaah tentunya.
Problem keluarga secara mendasar muncul karena pemahaman dan mispersepsi. Kadang sesuatu itu baik bagi suami, tapi bagi istri tidak baik. Sebaliknya juga begitu, bagi istri baik tapi bagi suami tidak baik.
Sehingga seringkali persoalan-persoalan yang nampak kecil akhirnya menumpuk dan seketika meledak. Ini disebabkan karena keseringan intensitas persoalan tersebut dan tidak segera diselesaikan.
Mungkin kita masih ingat bagaimana dulu sebelum pandemi kita sering membayangkan untuk memiliki banyak waktu untuk bersama keluarga kita. Orang tua punya banyak waktu untuk mendampingi anak-anaknya. Suami yang memiliki banyak kesempatan untuk menemani aktifitas istrinya. Sehingga akhirnya kita menyimpulkan bahwa kehidupan keluarga demikianlah yang ideal. Sehingga ketiadaan waktu bersama keluarga itulah yang kita anggap sebagai permasalahan utama kita.
Bagi seorang suami, dia akan disibukkan dengan rutinitas kesibukan seperti berangkat kerja jam 7 pagi, pulang kerja jam 5 sore, kemudian bersih-bersih, tak terasa sudah magrib, setelah itu suami masih disibukkan dengan berbagai aktifitasnya seperti menerima tamu, dan kalau tidak kedatangan tamu mungkin punya kegiatan lain diluar, dan akhirnya nyaris tidak punya waktu bersama keluarganya.
Namun kehidupan menjadi berubah 180 derajat. Para anggota keluarga dihadapkan pada kehidupan yang dianggap new normal. Setelah pandemi ini ternyata banyak waktu kita bersama keluarga, bahkan para orang tua diharuskan untuk menjadi guru bagi anak-anaknya yang terpaksa melaksanakan proses persekolahan dari rumah. Yang sejatinya itu memanglah kewajiban orang tua. Tapi suasana ini justru kadang memunculkan masalah baru, jadi bosan, sibuk dengan urusan masing-masing, suami lebih sayang kerjaan dan hobi, sementara istri sudah tidak seperti biasanya, karena tidak sempat lagi bersolek menjelang suami pulang dari kantor. Akhirnya keluarga jauh dari suasana yang sakinah mawadah warohmah.
Banyak orang yang keliru dalam melihat persoalan keluarga tersebut. Seringkali kita melihat sesuatu itu dari sudut pandang yang keliru. Ternyata masalahnya bukan pada kesempatan yang tidak ada. Setiap waktu sejatinya bisa digunakan untuk saling menguatkan cinta didalam anggota keluarga. Cinta suami dengan istrinya, juga kepada anak-anaknya. Semua ini tergantung pada bagaimana cara pandang kita melihat keluarga.
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menguatkan rasa cinta dalam keluarga. Suami turut membantu istrinya saat dipuncak kesibukan, begitu juga seorang istri yang membuatkan kopi untuk sang suami yang sedang sibuk bekerja dari rumah. Ini sederhana, tapi bisa menambah rasa cinta dan kasih sayang kita kepada pasangan. Disinilah pentingnya kita memahami tujuan berkeluarga. Saat kita paham arah dan tujuan membangun hubungan pernikahan, maka kita akan bekerja sama saling menguatkan, saling menutupi kekurangan dan saling bergandengan tangan untuk bersama-sama menuju tujuan berkeluarga, yakni menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
Mengurai Masalah Keluarga
Menurut data dari Pengadilan Agama Sorong yang dirilis baru-baru ini, per 14 september 2020 telah terjadi 185 kasus perceraian. Dari total kasus perceraian tersebut, 65% kasus diakibatkan masalah perekonomian, KDRT 20%, dan 15% akibat perselingkuhan. Secara nasional faktor ekonomi juga menjadi penyumbang terbesar kasus perceraian. Ketika membaca data – data ini, muncul sebuah pertanyaan besar. Apakah faktor ekonomi memang menjadi penyebab utama perceraian?
Dalam banyak kesempatan ketika mendampingi dan memberikan konsultasi keluarga, saya melihat faktor utama perceraian bukan semata karena faktor-faktor yang disebutkan diatas. Faktor ekonomi misalnya, berapa banyak orang di pedalaman dan pelosok kampung, hidup dalam keterbatasan, jauh dari fasilitas, dan juga hidup miskin, tapi tetap bahagia dan setia kepada pasangannya. Begitupun sebaliknya, tidak sedikit orang yang memiliki kecukupan secara ekonomi, bahkan mapan, tapi akhirnya menyatakan tidak cocok dengan pasangannya dan akhirnya bercerai.
Jika memang tolak ukur perceraian adalah karena permasalahan ekonomi, seharusnya angka perceraian di tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan angka perceraian tahun lalu, karena kita sedang berada di jurang resesi akibat pandemi, namun ternyata tidak. Berdasarkan rilis data Pengadilan Agama Sorong, disebutkan dari Januari hingga September 2019 angka perceraian mencapai 237 perkara. Lebih tinggi dari angka perceraian ditahun ini.
Lalu apa faktor utama yang mempengaruhi masalah rumah tangga yang berujung pada perceraian?
Faktor Utama Masalah Keluarga
Baik buruknya perilaku seseorang sangat ditentukan oleh pemahaman. Ibarat teko, maka apa yang keluar dari teko, memastikan apa isinya. Jika yang keluar susu maka isinya pasti susu, jika isinya kopi maka yang keluar adalah kopi, begitu seterusnya.
Persoalan mendasar sebuah keluarga yang melahirkan masalah ekonomi, KDRT, perselingkuhan, dan masalah lainnya, terjadi karena cara pandang suami-istri terhadap pasangannya. Artinya ini semata karena faktor pemahaman.
Seringkali Pernikahan dijalankan oleh seorang pria-wanita atas dasar suka sama suka, hanya untuk memenuhi hasrat yang muncul karena cinta semu semata. Begitu juga dalam menentukan kriteria untuk memilih calon pendamping, kebanyakan karena pertimbangan yang normatif saja seperti berdasarkan pada paras, harta, atau keturunan. Padahal ketiganya sangat relatif dan tidak dapat menjadi jaminan lahirnya keluarga yang bahagia.
Bahkan sebelum pernikahan itu dilaksanakan, berbagai masalahpun sudah kerap terjadi. Banyak praktek aborsi illegal dan permintaan dispensasi nikah oleh anak pelajar SMA. Ini semua menguatkan apa yang kami sampaikan di atas.
Berita terbaru menyebutkan bahwa ada sebuah klinik di Jakarta pusat yang melakukan aborsi ilegal sebanyak 32.760 janin. Pada bulan Juli lalu juga diwartakan 240 Siswa SMA di Jepara kompak minta dispensasi nikah karena sudah keburu hamil duluan. Dan ini ibarat gunung es, kasus nyata yang sebenarnya terjadi masyarakat sesungguhnya jauh lebih banyak dari apa yang terungkap. Lalu bagaimana rumah tangga itu bisa berjalan dengan baik jika sudah bermasalah dari awal?
Maka sangat wajar jika sebuah hubungan yang dimulai tanpa Ridha Allah, selanjutnya akan mengalami kesulitan dalam meraih kebahagiaan berumah tangga.
Solusi Mendasar
Pernikahan dalam Islam adalah ikatan yang agung (Mitsaqon Ghalidhon). Ikatannya setara dengan ikatan perjanjian antara Allah SWT dengan para Nabi-Nya (padahal Nabi tidak mungkin menyalahi janjinya). Ikatan yang diucapkan dengan nama Allah, dan amanah yang diterima karena Allah.
Berkeluarga sejatinya adalah seni merawat dan menjalankan sebuah perahu dengan dua nahkoda. Baik suami maupun istri punya tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Keduanya memiliki kewajiban untuk merawat dan menjaga pernikahannya ketika badai dan cobaan datang menghantam, guna memastikan arah perahu berada di jalur yang benar menuju ridhanya Allah, bersama seluruh anggota keluarga memasuki surga-Nya.
Pernikahan bukan hanya sekadar sarana memuaskan dorongan seksual, tapi sebenarnya perjanjian untuk menjalani hidup bersama, bersahabat, dan saling melindungi dari berbagai ujian dan kesulitan hidup. Juga sebagai ibadah, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya yang mendapatkan ganjaran pahala di sisi-Nya.
Maka sedari awal harus ditanamkan pemahaman yang benar tentang cara berumah tangga yang sesuai dengan perintah Allah SWT. Bagi pasangan suami-istri yang sedang mengalami masalah keluarga, bersegeralah untuk berbenah. Perbaiki pemahaman sesuai dengan konsep dan pandangan Islam dalam mengatur segala persoalan rumah tangga. Serta senantiasa melibatkan Allah dalam membuat setiap keputusan dan menentukan pemecahan masalah.
Firman Allah SWT dalam QS Ar-Ra'du ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri".
Pemahaman yang benar akan melahirkan suami-istri yang shaleh dan shalehah, serta keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Insya Allah.
*Kepala KUA Seget/Penghulu Kab.Sorong Papua Barat sekaligus Konsultan Keluarga Muslim Milenial



