Jakarta, bimasislam— Rangkaian acara Pemilihan Penyuluh Agama Islam Teladan Tingkat Nasional telah ditutup secara resmi hari Minggu (2/10) kemarin. Diselenggarakan sejak hari Rabu (28/9) lalu, prosesi penutupan didahului pengumuman para Juara Terbaik dan Juara Harapan lomba kontestasi kualitas Penyuluh yang diselenggarakan tiap tahun ini. Dari 33 Penyuluh yang mengikuti ajang yang cukup bergengsi bagi para penyuluh di level nasional ini, terpilih 6 orang peserta sebagai Penyuluh Terbaik dan Harapan, antara lain: Zumrotul Ulwiyah dari Bali (Terbaik I), Mustapa Umar dari NTB (Terbaik II), Siti Choiriyah dari Jateng (Terbaik III), Dzurratun Ghola dari DKI Jakarta (Harapan I), Arip Soemantri dari Jabar (Harapan II), dan Muhammad Azman dari Kalbar (Harapan III).
Munculnya utusan dari Bali sebagai Terbaik I dalam Pemilihan Penyuluh Agama Islam Tingkat Nasional tahun 2016 ini cukup mengejutkan banyak peserta dan offisial. Pasalnya, sejak Babak Penyisihan banyak dari mereka yang memprediksi utusan dari wilayah Jawa dan Sumatera yang berpeluang masuk ke Babak Final. Utusan dari Sumut, Sumsel dan Lampung terlihat begitu meyakinkan saat tampil mempresentasikan karya penyuluhannya pada Babak Penyisihan, begitu pula Jatim dan Yogyakarta. Namun apa dinyana, dalam penilaian juri – Cecep Hilman (Widya Iswara), Edi Junaedi (Puslitbang Kehidupan Keagamaan), dan Mesraini (Akademisi) -- yang cukup meyakinkan dan penyuluhannya dianggap berpengaruh besar bagi pemberdayaan masyarakatnya adalah penyuluh utusan dari Bali, NTB, Jateng, DKI, Jabar, dan Kalbar tersebut.
Saat Babak Final, mereka juga menjagokan DKI, Jateng, dan NTB yang akan menjadi juara. Ternyata dalam pandangan tiga orang Juri – Ramly (Ketua MUI Banten), Ahmadi (Karo Kepegawaian Kemenag RI), dan Rini (Akademisi) – utusan dari Bali memiliki bobot lebih dibandingkan yang lainnya. Usaha keras Zumrotul Ulwiyah melakukan penyuluhan dengan slogan “Sabu-Sabi” (Satu Bulan, Satu Bisa) dinilai menarik, menantang dan berhasil dalam memberikan pemahaman kepada para Muallaf Bali secara harmonis dan terukur. “Upayanya mengajarkan Islam secara baik dan terevaluasi secara bertahap kepada kalangan minoritas muslim Bali menjadi daya tarik tersendiri”, menurut Rini. Bahkan, ia mampu meminimalisir gesekan dan tetap menjaga keharmonisan dengan keluarga Muallaf yang masih menganut agama Hindu, tambah Ketua Prodi BPI Fakultas Dakwah UIN Jakarta ini.
Selain Piala, para juara juga mendapatkan Uang Pembinaan sejumlah 25 juta, 20 juta, 15 juta, 12,5 juta, 10 juta, dan 7,5 juta secara berurutan dari Terbaik I hingga Harapan III. Kepada para juara, Dirjen Bimas Islam Machasin dalam sambutan penutupannya mengingatkan bahwa dengan predikat ini diharapkan para juara tidak berpuas diri dan terus berinovasi dalam melakukan penyuluhan. Fenomena keagamaan terakhir, seperti Kasus Dimas Kanjeng, menuntut penanganan dan menjadi tantangan tersendiri bagi para penyuluh di manapun berada. Para Penyuluh Agama Islam dituntut terus meningkatkan perannya di masyarakat, terutama dalam menangani persoalan umat, imbuhnya di hadapan para peserta dan offisial yang memenuhi Ballroom Hotel Golden Boutique Jakarta Pusat.
(Edijun/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



