M. Fuad Nasar
(Wakil Sekretaris BAZNAS)
Sehabis mengikuti upacara memperingati Hari Amal Bakti Ke-69 Kementerian Agama tanggal 3 Januari lalu, saya meluncur ke kediaman mantan Menteri Agama RI yang pertama almarhum Prof. Dr. H.M. Rasjidi di Jalan Bojonegoro No 10 Jakarta Pusat untuk silaturahim dan melihat kondisi kesehatan Ibu Hj. Siti Sa’adah Rasjidi, istri almarhum Pak Rasjidi. Saat itu Ibu Rasjidi yang sudah berusia 97 tahun sedang tidur, sehingga tidak sempat berjumpa.
Kamis 15 Januari 2015, pukul 17.50 WIB menjelang Maghrib, Ibu Siti Sa’adah Rasjidi tutup usia dengan tenang di kediamannya. Semua milik Allah dan kembali kepada Allah. Jumat pukul 01.00 dini hari jenazah almarhumah diberangkatkan dengan pesawat menuju kota kelahirannya Yogyakarta. Pemakaman jenazah Ibu Rasjidi diselenggarakan setelah shalat Jumat tanggal 16 Januari, pukul 13.00 WIB, di Kotagede Yogyakarta, berdekatan dengan makam almarhum Pak Rasjidi yang wafat 30 Januari 2001. Pak Rasjidi walaupun pejuang kemerdekaan dan penyandang Bintang Mahaputera Utama tidak dikuburkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.
Dengan wafatnya Ibu Siti Sa’adah Rasjidi, bangsa Indonesia dan umat Islam kembali kehilangan seorang ibu teladan. Ibu Siti Sa’adah Rasjidi mengikuti perjalanan hidup dan liku-liku pengabdian Prof. Dr. H.M. Rasjidi sebagai pejuang kemerdekaan, ilmuwan dan ulama, diplomat dan penulis. Sebagai Menteri Agama yang pertama, Pak Rasjidi adalah peletak dasar-dasar organisasi Kementerian Agama RI. Ibu Rasjidi menceritakan kepada saya pengalaman Pak Rasjidi selaku Menteri Agama naik sepeda ke kantor Kementerian Agama di masa revolusi.
Pernikahan Siti Sa’adah dengan H.M. Rasjidi berlangsung 26 Oktober 1938 M/1369 Hijriyah di Kotagede, Yogyakarta, sepulang Rasjidi menuntut ilmu di Universitas Darul Ulum Cairo, Mesir. Siti Sa’adah adalah anak bungsu Haji Mudzakir seorang pengusaha dan pedagang gabah, perak dan emas berlian di Yogyakarta. Pernikahan dan keluarga bahagia Pak Rasjidi dengan Ibu Rasjidi dikaruniai tiga orang anak.
Dalam buku 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi, wartawan senior H. Soebagijo I.N. menceritakan; upacara adat perkawinan dilakukan selama tiga hari tiga malam. Selama pesta pernikahan itu, tiap malam orang berdatangan untuk membaca Al Quran secara bergantian. Sementara itu penganten pria yang tamatan Sekolah Kairo dan dianggap sudah sangat menguasai dan bahkan sudah hafal Al Quran, diminta mengoreksi bila dalam pembacaan itu ada yang keliru.
Ibu Siti Sa’adah Rasjidi merupakan figur ibu rumah tangga yang berhati mulia dan penuh wibawa. Pendamping setia Pak Rasjidi dalam mengemban tugas negara di tahun-tahun pertama berdirinya negara Republik Indonesia. Pak Rasjidi prototype ilmuwan muslim Indonesia dan orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di Universitas Sarbonne Perancis, diangkat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Islam Pakistan, Duta Besar untuk Mesir merangkap Saudi Arabia, dan Duta Besar untuk Iran merangkap Afghanistan. Ibu Rasjidi adalah narasumber yang paling banyak tahu dan bisa menceritakan pandangan dan sikap Pak Rasjidi dalam masalah agama maupun tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pak Rasjidi pernah mengalami lingkungan kerja yang kurang serasi dan menekan batin, tidak punya pekerjaan tetap sepulang dari tugas diplomat dan bahkan rumahnya diambil orang lain sewaktu ditinggal ke luar negeri. Ibu Rasjidi menghadapi segala cobaan dalam perjalanan hidup dan karier Pak Rasjidi dengan penuh ketabahan dan yakin akan pertolongan Ilahi.
Pak Rasjidi menjadi “orang besar” dengan reputasi dan bobot keilmuwan sangat cemerlang, yang dijuluki oleh Nucholish Madjid sebagai “the guardian” dunia pemikiran Islam Indonesia yang selalu cemas bila melihat gejala penyimpangan atau penyelewengan dalam kegiatan intelektual. Semua keberhasilan itu tidak lepas dari andil Ibu Rasjidi yang berperan sebagai pendamping, penasehat serta pemelihara ketenangan dan ketentraman seisi rumahnya.
Kesan dan kenangan saya tentang almarhumah yang takkan terlupakan ialah perhatian dan dukungan moril yang diberikannya ketika saya menyusun naskah kumpulan tulisan/pidato Menteri-Menteri Agama dari masa ke masa dan sejarah Kementerian Agama, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Pada waktu itu beliau sudah sangat sepuh dan berjalan di dalam rumah harus pakai tongkat penyangga. Ibu Rasjidi menyerahkan dokumentasi foto Pak Rasjidi untuk direpro. Beberapa waktu kemudian Ibu Rasjidi meminta saya menuliskan secara kronologis penyusunan buku dan masalah yang dihadapi, dimana naskah dengan kata pengantar Prof. Dr. Deliar Noer itu tersendat proses penerbitannya.
Seizin Ibu Rasjidi saya diperkenankan masuk ke kamar kerja almarhum Pak Rasjidi dan mengamati koleksi buku-buku yang begitu banyak di rumahnya. Semasa hidup Pak Rasjidi, pernah satu kali saya silaturahim ke rumah beliau yang tidak mewah itu. Buku tulisan Pak Rasjidi yang susah mencarinya di tempat lain difotocopikan oleh pembantu beliau atas kebaikan Ibu Rasjidi. Koleksi perpustakaan pribadi Pak Rasjidi belakangan dihibahkan oleh Ibu Rasjidi untuk Perpustakaan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Pak Rasjidi selain Penasehat PP Muhammadiyah, juga salah seorang pendiri dan Wakil Ketua DDII ketika pertama kali didirikan mendampingi Bapak Mohammad Natsir.
Ibu Siti Sa’adah Rasjidi yang dilahirkan 97 tahun yang lalu di Kotagede Yogyakarta tanggal 20 November, adalah sosok perempuan muslim berpendidikan dan berkepribadian. Semasa mudanya aktif dalam kepemimpinan NA (Nasyiatul ‘Aisyiah) Muhammadiyah di Kotagede, Yogyakarta pada kurun waktu 1930-1940. Ibu Rasjidi menikmati hari tuanya dalam cahaya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, kesederhanaan dan ketenangan jiwa yang merupakan cermin kemuliaan hidup.
Dikenal sebagai sosok dermawan yang ringan membantu pihak yang membutuhkan dan menyumbangkan hartanya di jalan Allah. Menurut informasi di Yogyakarta, Ibu Rasjidi mewakafkan tanah seluas 11 ribu meter persegi untuk pembangunan PP Ibnul Qoyyim Sleman Yogyakarta dan menyumbang dana untuk renovasi Masjid Perak Kotagede.
Almarhumah dikaruniai usia panjang melebihi rata-rata harapan hidup orang Indonesia. Buya Prof. Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXX ketika menguraikan tafsir surat At-Tiin menukilkan sebuah Hadis Rasulullah SAW dari Anas bin Malik. Hadisnya cukup panjang, di antaranya menjelaskan, “Apabila seseorang (hamba Allah yang beriman) telah mencapai usia sembilan puluh tahun, diampuni Allah dosa-dosanya, yang terdahulu dan yang terkemudian, dan menjadi syafa’at-lah dia pada kalangan ahli rumahnya dan ditulislah dia sebagai Aminullah (kepercayaan Allah) dan adalah dia tawanan Allah di muka bumi-Nya. Apabila dia telah mencapai ardzalil ‘umur (usia yang sangat lanjut) sehingga tidak mengetahui apa-apa lagi sesudah begitu cerdas dahulunya, akan dituliskan Allah tentang dirinya yang baik-baik saja, sebagaimana yang diamalkannya di waktu sehatnya dahulu, dan kalau dia berbuat salah, tidaklah dituliskan apa-apa.”
Sebuah cerita ringan saya kenang sewaktu berkunjung di kediaman Ibu Siti Sa’adah Rasjidi beberapa tahun yang lampau. Ibu Rasjidi bercerita, sewaktu turun hujan lebat, si mbok pembantu di rumah pada ribut lantaran takut terjadi apa-apa akibat hujan dan badai. Kata Ibu Rasjidi, “Saya bilang pada mereka, tidak usah ribut, tapi berdoa.” Begitulah cara sederhana Ibu Rasjidi dalam mendidik dan mengayomi pembantu rumah tangga dengan ajaran agama. Mengingatkan pada pesan Rasulullah yang seringkali terlupakan tentang doa yang sangat baik dibaca di waktu hujan agar air yang diturunkan dari langit membawa berkah dan manfaat bagi kehidupan manusia.
Selamat jalan Ibu Siti Sa’adah Rasjidi. Semoga Allah memasukkanya ke surga-Nya.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



