Oleh:
M. Fuad Nasar*
Sabtu 24 Oktober 2020 Endang Basri Ananda yang populer dipanggil EBA menghembuskan napas terakhir di kediamannya Graha Raya Bintaro Tangerang Selatan pada pukul 6.30 WIB dalam usia 79 tahun. EBA lahir di Klaten, Jawa Tengah 4 September 1941, putra sulung dari K.H. Moh Djunaidi dan Ibu Mustakimah.
Sepanjang hidupnya EBA menekuni profesi sebagai wartawan, jurnalis, penulis, penyair, trainer dan pegiat dakwah Islam. EBA memiliki bakat dan kemampuan menulis sejak SMA di Solo. Waktu SMA Jurusan Sastra, ia menjadi pengasuh rubrik majalah remaja Hidangan yang diterbitkan group Minggu Pagi di Jogya, pimpinan Yossi Sukardi. Dalam perjalanan panjang karir jurnalistiknya, EBA sangat produktif mengisi kolom surat kabar dan rubrik majalah, di samping sebagai pengarang dan editor buku.
Buku seri Remaja dan Agama merupakan karya monumental EBA tahun 1975 dan termasuk buku best seller di masanya. Prof. Dr. Zakiah Daradjat memberi Kata Sambutan pada buku tersebut. Ibu Zakiah Daradjat mengapresiasi usaha dan ketekunan EBA menulis buku berjilid-jilid dalam seri remaja dan agama. Menulis untuk remaja tidaklah mudah karena masa remaja mempunyai ciri dan keistimewaan tersendiri yang tidak sama dengan anak dan berlainan pula dari masa dewasa, ungkap pelopor Ilmu Psikologi Islam itu.
Buku Seri Remaja dan Agama ke-1, Di Langit Masih Ada Bintang, berisi tulisan-tulisan tentang Iman. Seri ke-2, Cahaya Menjelang Subuh, berisi tulisan-tulisan tentang Ilmu, sedang seri ke-3, Dengan Kasih Sayang, berisi tulisan-tulisan tentang Amal. Ketiga jilid buku ini merangkum tulisan EBA dalam Minggu Abadi pada rubrik “Remaja dan Agama” tahun 1970 - 1973. Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang dibawah pimpinan Amelz.
Dalam Kata Pengantar buku seri Remaja dan Agama, sang penulis, EBA, mengutarakan betapa miskinnya umat Islam dengan bacaan untuk para remaja, apalagi bacaan tentang agama, yang disajikan secara populer, singkat tetapi menarik. Cara penulisan ini harus dicoba dan dikembangkan, kalau kita benar-benar ingin mengundang perhatian para remaja agar mau mendalami masalah-masalah agama, imbuhnya.
Sejak tahun 1970 EBA membuat “eksperimen” dengan menyajikan kupasan soal-soal agama kepada para remaja di dalam rubrik “Agama Untuk Remaja” di dalam Minggu Abadi. Buku-buku karya EBA menyemangati para remaja di dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam dan sebagai motivasi pengembangan diri menjadi pribadi yang hebat dan bermanfaat.
Dalam Kata Pengantar buku Dengan Kasih Sayang, EBA mengemukakan, “Tiada kenangan yang paling indah, kecuali kenangan di masa remaja. The are no delightful memories, than at the youth moment. Oleh sebab itu masa remaja harus diisi dengan karya-karya yang indah pula, agar tidak menyesal di kemudian hari. Nah, keinginan untuk menggairahkan amal remaja inilah, yang mendorong lahirnya buku kecil ini.” tulis EBA.
Pesan Untuk Generasi Muda
Di antara sekian judul tulisan di dalam buku Di Langit Masih Ada Bintang, saya ingin mengutip artikel berjudul You Are What You Are. EBA bertutur sebagai berikut:
“Seorang mahasiswa Indonesia (namanya Moh Sjah) yang sedang belajar di Selandia Baru pernah menceritakan bagaimana caranya membawakan diri di negara orang yang jumlah pemeluk Islamnya bisa dihitung dengan jari. Ternyata berkat keteguhan Iman dan ketegasan pendiriannya sebagai muslim, dia malah dihormati. Kalau seorang pemuda Islam bersikap disiplin terhadap ajaran-ajaran agama, pastilah orang lain akan menaruh respek (hormat). Sebaliknya kalau bersikap setengah-setengah, malu-malu, apalagi takut, maka orang lain pun akan mencemoohkannya. Katakanlah, dianggap enteng oleh orang lain. Kalau setiap kali datang waktu shalat, anda segera permisi untuk mengerjakan shalat, pastilah orang lain akan menaruh hormat. Sebaliknya kalau tidak, malah akan dicemoohkan. Katanya orang Islam, tapi ketika datang waktu shalat kok diam saja. Ngakunya Islam tulen, tapi diajak dansa-dansi kok mau, diajak minum (minuman keras) mau, dan seterusnya. Kamu akan diperlakukan orang sesuai dengan Karaktermu sendiri, demikian sabda Rasulullah SAW. Hal ini berlaku dimana saja. Baik di sekolah, di kantor maupun dalam masyarakat.”
Semua judul buku EBA sederhana kata-katanya, menarik, menyejukkan dan mempunyai nilai sastra. Bahasa tulisannya mengalir dan mudah dipahami. Setiap membaca artikel EBA di majalah Kiblat dan Panji Masyarakat sertamenelaah semua buku-bukunya, selalu menarik dan mencerahkan.
Selain Buku Seri Remaja dan Agama, sejumlah buku lain yang ditulis EBA dan diterbitkan semasa hidupnya ialah: Percikan Pemikiran Tentang Islam (Fragmenta Islamica), Rahasia Sebuah Mimpi, Nenek Yang Cerdik, Kisah-Kisah Dari Tarikh. Teknik Menulis Naskah Dakwah dan Khutbah, Ketika Maut Telah Datang dan beberapa judul lainnya.
EBA diakui sebagai jurnalis dan penulis yang multitalenta. Di samping menulis buku-buku keagamaan dan ilmiah populer, EBA juga kerap menulis puisi. Semua artikel dan buku-bukunya yang pernah saya baca, sarat dengan pesan dakwah dan nilai-nilai ajaran Islam tentang etika pergaulan, pembinaan watak, karakter dan akhlak mulia sebagai unsur penting dalam kehidupan umat dan bangsa. EBA mengutip Hadis Nabi Muhammad SAW sebagai referensi penting dalam tulisannya bahwa, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.”
Dalam satu tulisannya EBA mensitir quote dari Albert Einstein (1879-955) yang mengatakan, “Berupayalah tidak hanya menjadi manusia yang sukses, tetapi juga menjadi manusia yang bernilai.”
Di bawah ini saya kutip pesan EBA dalam Remaja dan Agama, Seri III (Amal) Dengan Kasih Sayang sebagai berikut:
“Setiap orang memang harus memikirkan dirinya sendiri, agar tidak merepotkan orang lain. Tetapi hal ini tidak berarti lantas boleh mengabaikan kepentingan umum. Kalau setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, pastilah tidak akan berdiri masjid-masjid, sekolah, madrasah, rumah yatim piatu, poliklinik dan seterusnya. Sebab bila diminta bantuan, mereka akan bilang tak ada uang. Bahkan mungkin ada yang berkata, buat apa menyumbang, sedang diri sendiri masih kekurangan….! Tetapi untunglah, ajaran Islam mengajarkan pemeluknya agar suka tolong menolong. Betapa pun miskinnya, setiap orang perlu berkorban untuk kemuliaan agama dan kesejahteraan masyarakat. Entah dengan harta, tenaga, pikiran maupun perasaan. Nah, semangat berkorban inilah yang menyebabkan agama Islam semakin berkembang syiarnya. Kalau setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri, ataupun daerahnya sendiri, barangkali tidak akan ada orang yang mau menyumbang korban bencana alam di daerah lain. Bahkan mungkin tidak akan ada muballigh ataupun guru yang mau terjun ke daerah pedalaman terpencil, yang jauhnya ribuan kilometer dari rumahnya.”
Dalam tulisan sub-judul “Memikirkan Orang Lain” pada buku tersebut, EBA memberi pesan, “Agama Islam memang memerintahkan pemeluknya agar mengurus diri, keluarga dan lingkungannya sendiri. Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. Setiap orang, terutama anak-anak muda, harus mempersiapkan masa depannya. Dan mereka yang sudah berkeluarga, harus rajin mencari nafkah untuk anak dan istrinya agar tidak menjadi beban atau parasit masyarakat. Tetapi Islam juga menyuruh umatnya agar berbakti kepada masyarakat, bangsa dan negara. Salah satu ciri orang beriman adalah solidaritas muslim. Pernahkah hati anda bergetar bila mendengar umat Islam di tempat lain menderita? Sampai berapa jauh detak jantung anda bila mendengar bencana alam menimpa satu daerah?”
Lewat tulisannya EBA menginspirasi generasi muda dengan berbagai contoh yang dikemukakannya, agar menjadi pribadi berjiwa besar dan lebih mementingkan kebenaran daripada soal prestise atau nama. Sikap inipun sering kita temui di surat-surat kabar. Misalnya ada orang mengemukakan pendapat mengenai satu masalah lewat karangan di surat kabar. Ketika beberapa hari kemudian ada yang membantah/mengoreksinya, maka dengan jantan orang yang mengarang itu menjawab bahwa anda benar, lalu minta maaf. Sikap jantan inilah yang mendekatkan manusia kepada kebenaran.” demikian EBA.
Penulis dan Editor Berpengalaman
Panitia Buku Peringatan 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi, Menteri Agama Pertama Republik Indonesia, yang diketuai Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, melibatkan dua tokoh pers berpengalaman, yaitu H. Soebagijo I.N. sebagai penulis bab pertama Biografi H.M. Rasjidi, dan EBA sebagai penyunting keseluruhan naskah. Buku 70 Tahun Rasjidi diterbitkan oleh Harian Umum Pelita tahun 1985.
Sewaktu Penerbit Pustaka LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Sosial dan Ekonomi) bekerjasama dengan Universitas Bung Hatta Padang memprakarsai penyusunan buku kompilasi karangan dan pidato Proklamator Kemerdekaan dan Pemimpin Besar Bangsa Indonesia Mohammad Hatta, EBA memiliki andil sebagai penyunting naskah, yang terdiri dari 10 jilid buku ukuran besar.
Dewan Redaksi Buku Karya Lengkap Bung Hatta diketuai Prof. Dr. Emil Salim. Anggota Dewan Redaksi terdiri dari Prof. Dr. Deliar Noer, Prof. Dr. Taufiq Abdullah, Prof. Dr. Ir. Sjofjan Asnawi, MADE, Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Prof. Drs. M. Dawam Rahardjo dan Prof. Dr. Meutia F. Swasono. Sekretaris Eksekutif Redaksi Arselan Harahap, Redaktur Pelaksana Widjanarko S dan Malik Ruslan. Penyunting Endang Basri Ananda (EBA) dan Sori Siregar. Karya Lengkap Bung Hatta diterbitkan oleh LP3ES edisi pertama 1998 dan seterusnya sampai jilid 10.
Kenangan Pribadi
Saya pertama kali mengenal nama Endang Basri Ananda (EBA) dari Majalah Islam Kiblat. Majalah tengah bulanan Kiblat sudah familiar di tengah keluarga kami, malahan sejak sebelum saya lahir. EBA aktif menulis dalam beragam tema populer di Majalah Kiblat yang dipimpin A. Musaffa Basjyr (HAMBA) sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab, sedangkan Wakil Pemimpin Redaksi K.H. Saleh Suaidy dan H.S.M. Nasaruddin Latif. Kantor Redaksi Majalah Kiblat semula di Jalan Kwitang No 19 Jakarta Pusat, dan kemudian di Jalan H. Agus Salim No 24 Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai Gedung Kiblat Centre.
Setahu saya EBA berkiprah sebagai jurnalis di majalah Kiblat mulai dari dekade 1960-an sampai 1980-an. Di masa itu beliau pernah mengemban berbagai tugas di Majalah Kiblat, mulai dari wartawan, pembantu khusus, managing editor, terakhir Wakil Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Redaksi Kiblat. Di jajaran pengasuh dan redaksi Kiblat berhimpun sejumlah tokoh Islam lintas organisasi sebagai penasehat, staf redaksi dan pembantu ahli, seperti: K.H.M. Dachlan, H. Anwar Tjokroaminoto, Prof. Dr. Hamka, Prof. K.H. Farid Ma’ruf, K.H. Rusli Abdul Wahid, K.H. Sjukri Gozali, K.H. Hasan Basri, Junan Helmi Nasution, H. Chairuddin Sjaukani, H. Bakri Sudja, Mohammad Natsir, Prof. Dr. Abu Hanifah, Imron Rosjadi, SH, Jusuf Wibisono, SH, Drs. Zuber Usman, Dr. Fuad Mohd Fahruddin, Dr. A. Wahid Salayan, SH. H. Rus’an, H.A. Malik Ahmad, St. Chazy, Prof. Drs. Hasbullah Bakry, SH, dr. Dede Kusmana, H. Hanan Rafiie, dan Ny. Par Sjachlan.
Sejarah nama “Kiblat” adalah masukan dan saran K.H. Faqih Usman, Ketua Umum PP Muhammadiyah terpilih dalam Muktamar tahun 1968 dan Menteri Agama RI tahun 1950 - 1953. Sebelumnya, bernama PEHAI singkatan dari Perjalanan Haji Indonesia, sesuai nama yayasan penerbitnya.
Tulisan EBA di Majalah Kiblat yang paling berkesan dan mengharukan bagi kami keluarga besar almarhum H.S.M. Nasaruddin Latif ialah artikel in memorium yang beliau tulis tahun 1973 berjudul “Kunci Rahasia Suksesnya Alm H.S.M. Nasaruddin Latif”. Menurut EBA, kunci sukses yang dimaksud ialah kepercayaan almarhum mengenai iman dan takdir serta berjiwa besar dan berhati jantan dengan tak malu mengakui sesuatu kekeliruan fatwanya.
EBA mengawali tulisannya, “Ketika upacara penguburan telah selesai, teringatlah kami akan saat-saat yang tak terlupakan ketika almarhum Nasaruddin Latif masih hidup. Sinar wajahnya yang membayangkan kedamaian hati dan sinar matanya yang memancarkan optimisme, terasa menembus hati setiap orang yang dijumpainya. Dengan menatap mukanya saja, orang sudah mendapat kesan bahwa almarhum adalah seorang ulama yang bijaksana.”
Suatu hari EBA bertanya tentang kunci sukses Nasaruddin Latif sebagai Marriage Counselor yang tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di dunia internasional. Sebagai anak muda, saya ingin mengetahui di mana rahasia beliau hingga menjadi ahli dalam Marriage Counseling. Di manakah kunci beliau hingga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari semua orang? ujar EBA.
“Rupanya, kuncinya, adalah kepercayaan mengenai iman dan takdir. Nah, dengan kunci itu setiap pertanyaan yang sukar dan tak terjangkau akal manusia, dapat beliau jawab hingga yang bertanya puas dan tenteram hatinya. ‘Jodoh memang berada di tangan Tuhan’, kata beliau. ‘Kalau memang sudah jodohnya, tidak usah dikejar-kejar, pasti akan jadi. Sebaliknya kalau memang bukan jodohnya, betapa pun dikejar-kejar, tidak akan jadi. Karenanya setelah berusaha keras, manusia harus berserah diri kepada Tuhan.” nasehat Nasaruddin Latif sebagaimana dikutip EBA.
Menurut Pak EBA, Nasaruddin Latif dikenang sebagai ulama yang berjiwa besar dan ksatria. Beliau tidak segan-segan, apalagi merasa malu untuk menarik kembali pendirian (fatwanya), apabila ternyata fatwanya yang dulu keliru, yaitu menyangkut penggunaan IUD (Inter Uterine Device) dalam Keluarga Berencana yang pernah dikeluarkannya pada tahun 1967.
Semasa EBA aktif di LP3ES, saat itu kantornya cukup besar dan luas di Jalan S. Parman No 81 Slipi, Jakarta Barat, saya beberapa kali datang ke kantornya dan konsultasi dengan beliau. Saya meminta saran dan bimbingan EBA dalam rangka penulisan buku Biografi dan Pemikiran H.S.M. Nasaruddin Latif (Jakarta: Gema Insani Press, 1996).
Dalam rangka penulisan buku mengenang H.S.M. Nasaruddin Latif, saya tidak dapat melupakan doa restu dan saran-saran yang sangat berharga dari beberapa tokoh yaitu Mohammad Natsir, Buya H.Z. Arifin Datuk, Dr. H. Ali Akbar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Hasan Basri, Dr. H. Anwar Harjono, SH, Solichin Salam, Dr. H.B. Jassin, Dr. K.H. Idham Chalid, Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat, Dr. H. Fahmi D. Saifuddin, MPH, dan Endang Basri Ananda (EBA).
Dari Kiblat Ke LP3ES
Menurut Natsir Zubaidi, Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Luar Negeri Dewan Masjid Indonesia (DMI)yang merupakan adik almarhum EBA, kakaknya semasa muda adalah Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) dan yang ikut mendirikan dan menggalang KAPPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) di beberapa kota tahun 1966. EBA menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Sosiatri, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, namun tidak selesai. Semasa kuliah di UGM, EBA mengajar di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Selesai pengabdian sebagai kolomnis dan Pemimpin Redaksi Majalah Kiblat tahun 1988, selanjutnya beliau bergabung dengan LP3ES tahun 1978 - 1998. Koleganya di LP3ES antara lain M. Dawam Rahardjo, Utomo Dananjaya, Arsrelan Harahap, Didik J. Rachbini, Fachri Ali, Muchtar Bahar dan lain-lain. Menurut kenangan teman-temannya, sejak Mas EBA bergabung di LP3ES lembaga the intellectual center of excellence ini menyelenggarakan shalat Jumatan sendiri bagi peneliti dan karyawan di kantor LP3ES.
EBA sebagai jurnalis yang menguasai dunia komunikasi dan publisistik pernah bekerja sebagai Humas PT. Pelita Air Service tahun 1976 - 1978. Setelah pensiun dari LP3ES, EBA aktif sebagai pembina kader-kader dakwah melalui Koordinasi Dakwah Islam (KODI) DKI Jakarta bersama Hussein Umar, Usep Fathuddin Mohammad Djauhari dan kawan-kawan. EBA memimpin bidang Pendidikan Kader Muballigh KODI, lembaga di bawah naungan Pemda DKI Jakarta tersebut. Sebagai mubaligh, EBA sering diundang berdakwah di bulan Ramadhan oleh Perwakilan Republik Indonesia di luar Negeri, antara lain di kota Hongkong, Beijing, Canada, Bulgaria, Seoul, Vancouver, Sofia dan lain-lain. Beliau juga pernah ke Jepang dan Malaysia mentraining da’i. Turki, Bangladesh, Singapura, Thailand, Uni Emirat Erab (UEA) juga pernah dikunjunginya. Dalam semua perjalanan ke luar negeri, pengalaman terbesar bagi EBA ialah tahun 1979 semasa aktif di Majalah Kiblat, mendapat kesempatan memasuki Ka’bah (Baitullah) yang merupakan kiblat shalat umat Islam seluruh dunia.
Berikut bait-bait puisi EBA, ditulisnya di tanah suci Mekkah tahun 1979, berjudul Di Sisi Ka’bah.
“Disi sisi Ka’bah, diri bagai musnah, oleh bercak-bercak noktah.
Di dalam Ka’bah, diri jadi maya, oleh genangan air mata.
Dalam ka’bah, segalanya jadi biru dalam haru.
Dalam pakaian ihram, terbayang lembah-lembah curam,
yang bakal kulewati dalam hidup ini.”
Selamat jalan Pak EBA. Semoga amal ibadah dan ilmu yang Bapak tulis di dalam berbagai buku dan karya jurnalistik selama puluhan tahun menjadi amal shaleh yang menemani hingga ke Padang Mahsyar.
*Sekretaris Ditjen Bimas Islam



