Oleh:
M. Fuad Nasar*
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama periode 2002 – 2006 Prof. Dr. H. Faisal Ismail, MA, berpulang ke rahmatullah di Yogyakarta, Jumat 10 Juni 2022 dalam usia 75 tahun. Kabar duka itu membuat saya terhenyak. Seminggu yang lalu tanggal 2 Juni 2022 saya masih berkomunikasi dengan almarhum. Pernyataan pers saya di media berjudul; Hari Lahir Pancasila, Kemenag: Lima Sila Pancasila dan Nilai-Nilai Islam Saling Memperkuat, saya share kepada beliau melalui whatsapp. Pak Faisal Ismail memberi komentar apresiatif. “Baik sekali Dik Fuad, Saya sudah baca. Salam sehat.”
Tulisan “In Memorium Ahmad Syafii Maarif Pemikir Bangsa Cendekiawan Bersahaja” juga saya kirim kepada Pak Faisal Ismail tanggal 29 Mei 2022. Menurut beliau; ulasan tentang Buya Syafii Maarif, baik sekali, sangat mencerahkan. Saya tidak menduga sekitar dua minggu kemudian saya menulis “In Memorium Faisal Ismail.”
Saya merasa sebagai murid intelektual almarhum. Semasa menjabat Sekjen Kementerian Agama (dahulu Departemen Agama), beberapa kali beliau menghadiahkan buku karya terbarunya kepada saya. Sejumlah buku-buku karya Faisal Ismail yang saya miliki semakin terasa bernilai di saat pengarangnya telah tiada.
Pesan almarhum yang selalu saya ingat ialah agar terus menulis, kreatif dan produktif, semoga berkah. Saya bersyukur dapat mengenal secara personal Faisal Ismail, seorang mantan pejabat tinggi dan ilmuwan yang baik, santun, tenang, rendah hati dan bersahaja. Setelah seseorang tidak memegang jabatan apa-apa, persahabatan karena kemanusiaan menjadi lebih berharga dan bermakna.
Faisal Ismail yang saya kenal adalah seorang scholar dan ilmuwan yang selalu mendorong kader-kader muda agar menghidupkan tradisi keilmuwan di dunia Islam. Tradisi menulis dan menyebarluaskan pesan-pesan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin serta memberi kontribusi yang tiada henti dalam membangun kesadaran beragama dan kesadaran moral masyarakat melalui penguatan literasi.
Sebelum menjabat Sekjen Kementerian Agama, Faisal Ismail adalah Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) tahun 2000 - 2002. Jabatan terakhirnya di Kementerian Agama adalah Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (Juli – November 2006). Ia menjalankan tugas sebagai pejabat eselon satu di bawah kepemimpinan tiga Menteri Agama secara berturut-turut yaitu K.H.M. Tholhah Hasan, Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, dan Muhammad Maftuh Basyuni. Selama pengabdiannya di Kementerian Agama tentu tidak sedikit kebijakan dan kontribusi pemikirannya yang bermanfaat terhadap institusi Kementerian Agama dan pembangunan di bidang kehidupan beragama di negara kita.
Pada akhir tahun 2006, Faisal Ismail diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Kuwait Merangkap Kerajaan Bahrain. Ia mengemban tugas Duta Besar RI berkedudukan di Kuwait City dari tahun 2006 sampai dengan 2010. Setelah mengakhiri tugas Duta Besar, beliau kembali ke kampus sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hingga mencapai batas usia pensiun 70 tahun. Pengabdian keilmuwannya berlanjut sebagai Guru Besar di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Salah satu keteladanan yang menginspirasi dari almarhum, selama menjadi pejabat tinggi Kementerian Agama dan Duta Besar aktivitas menulisnya tidak pernah berhenti sampai usia lanjut. Sebagaimana diceritakannya bahwa menulis buku bukan karena mengharap materi yang tidak seberapa bahkan ada yang tidak mendapat apa-apa. Tetapi di balik itu ada kepuasan batin dan amal shaleh menyebarluaskan ilmu yang bermanfaat. Meski usianya telah di atas 70 tahun, Faisal Ismail masih produktif menulis dan menerbitkan buku, sebagian merupakan artikel terbarunya yang pernah dipublikasikan di surat kabar, majalah dan makalah di forum diskusi atau seminar. Bagi almarhum menulis merupakan panggilan jiwa yang telah ditekuninya sejak muda.
Faisal Ismail lahir di Sumenep Madura 15 Mei 1947. Ia menyelesaikan jenjang pendidikan Sekolah Rakyat (SD Negeri) di Prenduan Sumenap Madura (tamat 1959), PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) di Pamekasan Madura (tamat 1963). Menempuh pendidikan di PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta tamat 1966. PHIN merupakan sekolah dinas Kementerian Agama di masa itu, selain ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) di Jakarta. Faisal Ismail menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (tamat 1973).
Sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Faisal Ismail meniti karier mulai dari bawah, golongan II a (Pengatur Muda untuk lulusan setingkat SMA) pada Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Bali di Denpasar tahun 1973 – 1974. Ia kemudian mutasi menjadi tenaga pengajar pada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah bertugas sebagai Sekretaris Fakultas Dakwah dan Pembantu Dekan Bidang Akademik.
Sepulang dari pendidikan di luar negeri, dipromosikan menjadi Asisten Direktur Program Pascasarjana, Dekan Fakultas Dakwah (1997 – 2000), Ketua Senat Fakultas, Anggota Senat Universitas, dan terakhir sebagai Direktur Program Pascasarjana (Maret – Mei 2000) pada UIN Sunan KalijagaYogyakarta.
Faisal Ismail memperoleh peluang belajar di luar negeri melalui program beasiswa Fulbright, yaitu studi S2 bidang kajian Sejarah Islam pada Department of Middle East Languages and Cultures Columbia University, New York, Amerika Serikat (1986 – 1988). Pada September 1991, mengambil program doktor pada Institute of Islamic Studies McGill University Montreal Kanada. Ia meraih gelar Ph.D tahun 1995 dengan disertasi berjudul: “Islam in Indonesian Politics, A Study of Muslim Reponses to and Acceptance of the Pancasila”.
Seorang pejabat tinggi di masanya seiring perjalanan waktu dan pergantian generasi mungkin tidak akan dikenal orang lagi di lingkungan birokrasi. Tetapi seorang yang baik, ilmuwan yang mengajarkan ilmu dan banyak menulis, insya allah akan tetap dikenang oleh murid-muridnya dan selama buku-buku hasil karyanya memberi manfaat kepada generasi sepeninggalnya.
Semasa hidupnya almarhum Faisal Ismail telah menulis dan menerbitkan puluhan judul buku, di antaranya: Tak Ada Redefinisi Moral Dalam Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam Dari Zaman Permulaan Hingga Zaman Khulafaurrasyidin, Pijar-Pijar Islam: Pergumulan Kultur dan Struktur, Percikan Pemikiran Islam, Ideologi, Hegemoni dan Otoritas Agama, Islam Yang Produktif: Titik Temu Visi Keumatan dan Kebangsaan, Islam: Dinamika Dialogis Keilmuwan, Kebudayaan dan Kemanusiaan, Paradigma Pendidikan Islam, Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis Analisis Historis, Polemik Pemikiran Pembaruan Islam Ahmad Wahib: Apresiasi dan Kritisi, NU Moderatisme dan Pluralisme, Islam, Konstitusionalisme dan Pluralisme, Dinamika Islam Milenial, Sejarah Kebudayaan Islam Periode Klasik (Abad VII – XIII Masehi), Seputar Isu Sekularisme Dalam Islam, Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, Studi Islam Kontemporer: Pendekatan dan Kajian Interdisipliner, Islam Melacak Konteks Menguak Teks, NU, Gusdurisme dan Politik Kiyai, Islam Transformasi Sosial dan Kontinuitas Sejarah, Islam Doktrin dan Isu-Isu Kontemporer, Ketegangan Kreatif Peradaban Islam: Idealisme versis Realisme, Pencerahan Spiritualitas Islam Di Tengah Kemelut Zaman Edan, Panorama Sejarah Islam dan Politik Di Indonesia: Sebuah Studi Komprehensif, Islam: Idealitas Qurani Realitas Insani, dan lain-lain. Karya terakhirnya Kontroversi Pembaruan Pemikiran Islam: Studi Kritis Apresiatif, sedang dalam proses penerbitan.
Selamat Jalan Bapak Faisal Ismail. Terima kasih atas segala bimbingan dan persahabatan yang tidak akan terlupakan.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya serta memberi tempat yang mulia di Surga-Nya.
*Sesditjen Bimas Islam, Kemenag RI



