Oleh:
M. Fuad Nasar*
Berita duka dari Yogyakarta. Wakil Ketua Umum MUI Pusat dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tabligh Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc, MA wafat pada Kamis 2 Januari 2020, pukul 23.47 WIB di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Karangkajen Yogyakarta hari Jumat siang.
Saya lebih dulu kenal dengan Ustad H. Suhairy Ilyas, Lc, MA (almarhum) kakaknya Yunahar Ilyas. Semasa mahasiswa saya sering mengikuti Kuliah Tafsir tiap Jumat pagi ba'da shalat subuh di Masjid Al-Wustho, Jalan Veteran Padang. Mereka dua bersaudara yang saya tahu adalah ulama dan mubaligh di tengah umat.
Berpulangnya Yunahar Ilyas atau akrab dipanggil Ustad atau Buya Yun, bukan hanya duka bagi keluarga besar Muhammadiyah, organisasi tempat almarhum selama ini berkhidmat, tetapi masyarakat Islam Indonesia kehilangan salah satu ulama pembimbing umat.
Yunahar Ilyas adalah tokoh Islam dan mujahid dakwah yang diterima oleh semua kalangan. Peran dan kiprahnya menasional, namun tetap low profile.
Prof. Dr. Yunahar Ilyas, yang lahir di Bukittinggi Sumatera Barat 22 September 1956, seperti dikenang oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, selalu berhati-hati dalam berucap dan bertindak. "Sehingga keseksamaan itulah yang membuat beliau diterima banyak kalangan tidak hanya di Muhammadiyah dan tidak hanya kalangan Islam, tetapi juga di lingkungan keluarga bangsa," kata Haedar saat melepas jenazah di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, pada Jumat setelah sebelumnya disemayamkan di Gedung PP Muhammadiyah.
Pengabdian Yunahar Ilyas sebagai ulama, da'i, aktivis organisasi, tokoh masyarakat dan cendekiawan pendidik meninggalkan kesan yang mendalam bagi banyak orang. Ia mengajak umat dan generasi muda agar berkemajuan dalam beragama, senantiasa menjunjung tinggi ukhuwah islamiyah dan menjaga persatuan bangsa.
Konten dakwah yang disampaikan Yunahar Ilyas di berbagai kesempatan, forum dan media selalu bernas dan kontekstual, menyentuh aspek-aspek mendasar dalam Islam, seperti akidah, ibadah, syariah dan muamalah dalam spektrum luas dengan menggunakan bahasa yang persuasif.
Alumni IAIN Imam Bonjol Padang, Universitas Ibnu Riyadh Arab Saudi, dan doktor lulusan IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN) Yogyakarta ini dikenal sebagai pakar di bidang tafsir dan menguasai dengan sangat baik fiqhud dakwah.
Guru Besar Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut menulis beberapa buku teks yang dipakai di perguruan tinggi dan bacaan umum, di antaranya: Kuliah Aqidah Islam, Kuliah Akhlaq, Tafsir Tematis Cakrawala Al Qur’an, Feminis Dalam Kajian Tafsir Al Qur’an Klasik dan Kontemporer, Akhlaq Masyarakat Islam, Konstruksi Pemikiran Gender Dalam Pemikiran Mufasir, Tipologi Manusia Dalam Al Quran, dan Kisah Para Rasul yang dimuat secara berkala di majalah Suara Muhammadiyah.
Pemikiran kebangsaan Prof. Dr. Yunahar Ilyas menarik digaris-bawahi. Ia mengatakan, bentuk negara Indonesia sebagai "Darul Ahdi wa Syahadah" merupakan semangat Muhammadiyah. Membaca sejarahnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri berdasarkan konsensus (kesepakatan) seluruh negara bangsa diwakili oleh tokoh-tokohnya. Ia menerangkan, "syahadah" dalam rumusan tersebut bermakna referensi, teladan, tempat umat Islam mengekspresikan, menjalankan ajaran Islam dan harus berlomba dengan pemeluk agama lain dalam membangun negeri ini.
Mengutip mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas, Yunahar Ilyas memiliki karakter yang terbina sejak mudanya dan sebagai salah satu ulama yang bisa menjaga martabat atau marwahnya.
Penghargaan layak diberikan atas jasa-jasa almarhum Yunahar Ilyas sebagai pimpinan MUI dan tokoh ormas Islam yang merupakan mitra strategis Kementerian Agama dalam membangun bangsa dan negara. Kita semua kehilangan dengan kepergian almarhum Yunahar Ilyas dalam usia 63 tahun.
Semoga keteladanan, kesederhanaan dan semangat dakwah almarhum yang tak kenal lelah hingga akhir hayatnya menginspirasi generasi muda.
"Tubuh boleh sakit, tapi sebagai da'i, dakwah tidak boleh berhenti. Harus tetap menyeru, mengajak dan menemani umat harus tetap jalan,” seloroh Buya Yunahar Ilyas beberapa bulan terakhir menjelang berpulang.
Semoga amal pengabdian almarhum diterima Allah SWT dan arwahnya ditempatkan di surga-Nya.
*Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf



