Demak, bimasislam— Masjid Demak sejak dulu dikenal sebagai tempat berkumpulnya sembilan wali penyebar Islam di Indonesia atau dikenal dengan sebutan Walisongo. Demikian ikoniknya masjid peninggalan para wali itu, sehingga kota Demak nyaris identik dengan keberadaan Masjid yang terletak di kampung Kauman, Desa Bintoro, kecamatan Demak, Jawa Tengah itu.
Desain Masjid Demak mencirikan bangunan khas Jawa dengan bangunan induk dan serambi yang luas. Atap Masjid yang bersusun berupa tajug tiga susun kemudian mempengaruhi desain Masjid lain di berbagai wilayah di Nusantara.
Yang menarik, bangunan induk Masjid Demak ini memiliki empat tiang utama yang disebut “saka guru”. Empat tiang utama itu dibuat dari serpihan atau potongan kayu sehingga dikenal dengan sebutan “soko tatal”. Bagian atas dari soko tatal inilah yang merupakan bagian paling asli dari Masjid tua tersebut, sementara tiang asli bagian bawah dipindahkan ke museum. Untuk menjaga kelestarian peninggalan bersejarah, tidak semua pengunjung diizinkan naik ke atas soko tatal, bimasislam beruntung diizinkan naik dan melihat pemandangan kompleks masjid besejarah itu dari bagian dalam di puncak Masjid.
Berada di bagian atap atau ‘loteng’, bagian atas soko tatal Masjid Demak terlihat gelap, kokoh, dan memiliki aura sejarah yang khas. Aroma kayu tua terasa menyengat hidung. Balok-balok kayu yang disusun tanpa paku di bagian dalam nampak tersusun sangat terukur satu sama lain. Bagian-bagian kayu itu kini sudah diperkuat dengan sejumlah penahan dari besi.
Mengintip keluar dari ventilasi kawat, dari atas soko tatal terlihat kompleks area Masjid Demak. Sejumlah peziarah nampak sedang membaca do’a di area pemakaman raja-raja Kesultanan Demak.
Makam yang sering dikunjungi para peziarah adalah Makam Raden Patah yang merupakan Sultan Demak Bintoro yang pertama. Makam itu dikelilingi oleh pusara keluarga dan para abdi dalem kerajaan. Raden Patah berkuasa dari tahun 1478 hingga 1518, dilanjutkan oleh Raden Patiunus yang memimpin Demak pada tahun 1518 hingga 1521. Raden Trenggono kemduian melanjutkan kerajaan itu dari tahun 1521 hingga 1546. Di Kompleks makam tersebut juga terdapat makam Putri Campa, ibunda Raden Patah.
Dari atas soko tatal, museum yang berdiri di sebelah kanan Masjid juga terlihat jelas. Museum Masjid Agung Demak menyimpan berbagai peninggalan bersejarah yang menjadi bukti berharga sejarah penyebaran Islam di pulau Jawa. Selain empat tiang utama yang disimpan di bagian utama museum, juga terdapat sejumlah mushaf tua yang diyakini ditulis tangan langsung oleh Wali Songo.
Masjid Demak masuk dalam kategori masjid bersejarah. Jika Anda berkesempatan berkunjung ke masjid ini dan ingin naik ke atas soko tatal, Anda perlu mengantongi izin terlebih dahulu dari pengurus masjid, karena tidak semua pengunjung diperkenankan naik dengan alasan menjaga kelestarian bagian paling asli dari Masjid tertua di tanah Jawa itu.
(Alatif-Bowo/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



