Oleh:
Drs. H. Subiono. M.Pd*
Zaman terus berubah dengan masing-masing peradabannya, kemajuan teknologi juga semakin canggih dan menggila, kehidupan masyarakat terasa semakin mengglobal. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi, dunia yang dulu terasa luas sekarang terasa sempit, jarak yang dahulunya terasa jauh, sekarang terasa semakin dekat, dunia terasa semakin datar tidak lagi ada gunung-gunung, laut, ngarai, yang dulu seakan akan menjadi penyekat dan penghalang hubungan antarbangsa dan masyarakat pada saat ini seakan akanterasa telah hilang, dunia berputar terasa lebih cepat karena kemajuan teknologinya yang semakin beragam. Kehidupan manusia memilih hal-hal yang lebih instan (praktis), pinginnya semuanya serba cepat dan serba rasional.
Namun meskipun demikian ternyata masyarakat tetap juga tidak bisa menghilangkan hal-hal yang sesungguhnya hanya sebuah mitos yang belum teruji dan terbukti, dan masyarakat tetap menyakini sebagai sebuah kebenaran. meskipun kadang kala itu tidak rasional dan juga bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam. Salah satu keyakinan yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat sampai pada saat ini terutama sebagian masyarakat Jawa adalah adanya mitos adanya hari baik dan buruk dan adanya bulan baik dan juga bulan buruk untuk kegiatan-kegiatan tertentu.
Salah satu bulan yang di anggap tidak baik untuk kegiatan tertentu misalkan pindah rumah, sunatan, pernikahan dan sejenisnya adalah bulan Muharram atau orang jawa sering menyebutnya dengan bulan Suro. Meskipun rumah sudah jadi dan siap ditempati, karena masih bulan Muharram pindahnya nanti saja selepas bulan Muharram, biarpun cinta sudah sampai ke ubun-ubun dan sudah ngebet pingin cepet-cepet menikah, karena masih bulan Muharram (Suro) ya wajib di tunda dulu sampai lewat bulan Suro dan kegiatan-kegiatan lainnya. Begitulah kepercayaan yang masih di yakini oleh sebagian masyarakart kita.
Kepercayaan yang menganggap bahwa bulan Muharram adalah bulan yang tidak baik untuk menikah sesungguhnya tidak ada sandarannya menurut agama Islam, melainkan hanya bersumber dari mitos sebagian masyarakat kita, karena ada masyarakat yang beranggapan bahwa bulan Suro adalah bulannya priyayi bulannya raja, sehingga masyarakat umum yang ikut merayakan keramaian di bulan itu akan kualat (kena bala’), bahkan kadang sampai begitu takhayulnya sampai-sampai ada yang beranggapan bahwa pada bulan Muharram, Nyi Roro Kidul penguasa Ratu selatan pulau Jawa lagi mengadakan acara pesta perkawinan besar-besaran sehingga takut kualat dengan Nyi Roro Kidul.
Kalaupun kita hubung-hubungkan dengan kejadian kejadian yang mengenaskan yang terjadi di bulan Muharram memang ada, yakni kejadian pembunuhan di Karbala terhadap anak Sayidina Ali Karomallahu Wajhah yang bernama Hasan bin Aliyang juga cucu dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW dan itu terjadi di bulan Muharram, tetapi diluar itu sesungguhnya bulan Muharram adalah salah satu bulan yang mulia di dalam Islam.
Kemuliaan Bulan Muharram.
Di dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36 Allah SWT berfirman yang artinya “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. Dari firmanAllah SWT tersebut para ulama berpendapat bahwa 4 bulan yang mulia dari 12 bulan yang lainnya tersebut adalah bulan Zulqoidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Bulan Muharram adalah salah satu dari 4 bulan yang disebutkan oleh Al-Qur’an, sehingga begitu mulianya bulan Muharram ini sehingga Rasulullah SAW menyebutnya dengan Syahrullah (Bulan Allah).
Selain hal tersebut di atas di bulan Muharram ini juga ada kejadian-kejadian yang menujukan kebaikan bulan Muharram menurut Badaruddin ada sepuluh kemuliaan yang diberikan kepada bulan Asyura atau Muharram ini antara lain:
1. Kemenangan nabi Musa atas Fir’aun.
2. Pendaratan kapal Nabi Nuh setelah ditenggelamkan selama 6 bulan.
3. Keselamatan Nabi Nuh keluar dari perut ikan.
4. Ampunan Allah kepada nabi Adam.
5.Keselamatan Nabi Yusuf keluar darii sumur pembuangan.
6. Kelahiran Nabi Isa.
7. Ampunan Allah kepada Nabi Dawud AS.
8. Kelahiran nabi Isa.
9. Nabi Ya’kub kembali dapat melihat.
10. Ampunan Allah Kepada Nabi Muhammad SAW baik terhadap kesalahan yang telah lampau maupun yang akan datang.
Dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan yang lainnya, untuk itu di bulan Muharam ini umat Islam juga diperintahkan melaksanakan puasa sunnah, memperbanyak silaturahmi, bersedekah, menyantuni anak yatim piatu, memperbanyak membaca surat Al-Ikhlas dan amalan amalan mulia lainnya.
Disamping hal tersebut di atas, maka di bulan Muharram ini pula Baginda Rasulullah SAW beserta para sahabatnya hijrah dari MakkahAl-Mukarromah menuju ke Madinah Al-Munawarah, yang kemudian hijrahnya Rasulullah SAW dijadikan momentum tonggak awal dalam perhitungan kalender Hijriyah Oleh Kholifah Umar Bin Khottob yang sekarang telah memasuki tahun 1441 H. Karena dari hijrahnya Rasulullah SAW beserta para sahabatnya ini kemudian dicapai keberhasilan perjuangan dakwah Rasulullah, sehingga Islam bisa menyebar ke seluruh pelosok dunia, bahkan sampai ke negara kita Indonesia.
Oleh karena itulah sebagai umat Islam pedoman kita tidak lain adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits, sementara di Al-Qur’an dan Hadits tidak memjelaskan tentang keburukan dalam hal apapun tentang bulan Muharram, dan justru memberikan penjelasan-penjelasan tentang kemuliaannya. Untuk itu kita semestinya tidak mempercayai hal-hal yang tidak ada dasarnya di dalam Islam, dan tidak boleh mempercayai hal-hal yang di anggap sebagai mitos belaka yang semua itu akan membuat akidah kita sebagai umat Islam terkotori oleh hal hal yang berbau sirik. Demikian pula kalau seseorang mau melangsungkan pernikahan tidak usah ragu meskipun itu dilaksanakan di bulan Muharram, dan kalau toh terjadi hal-hal keburukan juga tidak perlu di hubung-hubungkan karena menikah di bulan Muharram, karena sesungguhnya kejadian apapun dapat menimpa siapaun dan kapanpun.
*Penulis adalah penghulu Madya KUA Kec. Arut Selatan Kab. Ktw. Barat



