Semarang, bimasislam—Selain wisata kuliner dan panorama alam, wisata religi merupakan salah satu sektor wisata yang cukup digemari masyarakat Indonesia. Jika Anda merupakan penikmat wisata religi, Masjid Agung Jawa Tengah patut menjadi salah satu tujuan dalam daftar wisata Anda.
Masjid Agung Jawa Tengah merupakan obyek wisata terpadu dalam bidang religi, pendidikan, dan juga pusat aktivitas syiar Islam. Di Masjid megah dengan luas bangunan induk mencapai 7.669 meter ini, pengunjung dapat menikmati keunikan arsitektur yang memadukan sentuhan khas Jawa, Timur Tengah, dan Eropa.
Sentuhan khas Jawa dapat dilihat dari sejumlah bagian masjid terutama motif batik yang menjadi pola dasar di tiang masjid. Motif tersebut merupakan perpaudan dari pola tumpal, kawung, parang-parangan, dan untu walang.
Sedangkan jika melihat hiasan kaligrafi pada dinding masjid, kesan Timur Tengah terlihat dominan. Selain itu, enam payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis di halaman utama mengingatkan pengunjung pada model Masjid Nabawi di Madinah. Konsep yang sama dapat dijumpai di Masjid Adz-Dzikra, Sentul Jawa Barat.
Masjid yang pertama kali digunakan untuk shalat Jumat di bawah pimpinan Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah pada 14 Nopember 2006 lalu itu juga dipengaruhi gaya Eropa, terutama pada pilihan warna dan desain di bagian interior masjid, serta bangunan 25 pilar di pelataran masjid yang bergaya Romawi.
Berdiri di atas lahan seluas 10 Hektar, kompleks Masjid Agung Jawa Tengah memiliki Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah di Tower Asmaul Husna Lantai 2 dan 3. Selain itu juga terdapat Hotel Graha Agung di sisi Utara, serta tak ketinggalan restoran dengan fasilitas view terbaik di Kota Semarang di Tower Asmaul Husna Lantai 18.
Melengkapi kemegahan itu, bangunan pendukung lainnya antara lain sebuah auditorium berkapasitas 2000 orang juga tersedia di sisi sayap kanan masjid. Auditorium ini biasanya digunakan untuk seminar, pameran, pernikahan, dan kegiatan umat Islam lainnya. Sementara di sisi sayap sebelah kiri, masjid ini juga dilengkapi dengan perpustakaan dan ruang perkantoran yang disewakan untuk umum.
Sebagai sebuah oyek wisata terpadu, di masjid yang berkapasitas 15.000 jamaah ini juga terdapat sebuah al-Qur’an raksasa tulisan tangan. Mushaf berukuran 145 x 95 cm2 itu adalah karya Hayatuddin, seorang kaligrafer dari Universitas Sains dan Ilmu al-Qur’an dari Wonosobo, Jawa Tengah. Objek lain yang tak boleh dilewatkan adalah replika beduk raksasa yang dibuat oleh para santri Pesantren Al-falah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.
Daya tarik lain dari kompleks masjid ini juga terdapat pada tower yang disebut Menara Asmaul Husna (Al Husna Tower) yang memiliki ketinggian 99 m. Di Bagian dasar dari menara yang melambangkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Di atasnya, pada lantai 19 terdapat lima buah teropong yang bisa melihat kota Semarang. Penggunaan teropong canggih dari Bosccha di masjid ini pertama kalinya digunakan untuk Rukyatul Hilal penetapan Ramadhan.
Pembangunan masjid yang terletak di jalan Gajah Raya, tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang ini menghabiskan Biaya pembangunan sebesar Rp 198.692.340.000, dan biaya pembangunan jalan tembus ke jalan Soekarno-Hatta sebesar Rp 6,8 miliar.
(Alatif-Bowo/bimasislam/visitsemarang)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



