Jaja Zarkasyi, MA
(Direktur Rumah Moderasi Islam/RUMI)
Benarkah Islamic State (IS)- sebelumnya bernama ISIS- berbahaya bagi bangsa Indonesia? Pertanyaan ini mengemuka dalam perbincangan di antara masyarakat dalam menyikapi sepak terjang IS. Ada yang berpandangan bahwa IS tidak perlu ditakuti, wong bentuknya saja belum ada di Indonesia. Siapa dan dimana domisilinya, belum pernah terpublikasi secara nyata.
Sementara, mereka yang menganggap IS berbahaya melihat bahwa munculnya deklarasi dukungan sekelompok kecil masyarakat terhadap IS sebagai sinyal penyebaran IS di tanah air. Ditambah dengan data pemerintah bahwa terdapat WNI yang telah bergabung dalam kelompok IS di Suriah, maka jelaslah bahwa IS telah eksis memberi pengaruh dalam masyarakat kita.
Bagi saya, menimbang tingkat bahaya IS haruslah dilihat dari sejauhmana kita mengidentifikasi IS. Benarkah gerakan IS dikategorikan sebagai gerakan murni agama untuk mendirikan khilafah islamiyyah? Benarkah gerakan IS ini sebagai jihad? Ataukah slogan jihad dan khilafah islamiyyah ini hanya sebatas gerakan menarik dukungan kelompok Islam radikal di seluruh dunia untuk menutupi motivasi sebenarnya di balik IS?
Konflik Regional
Kita awali dengan sebuah pernyataan, bahwa kemunculan IS adalah bagian tak terpisahkan dari konflik regional di kawasan Timur Tengah. Konflik yang terjadi di beberapa negara seperti Irak, Libya dan kini Suriah, tidak bsia dilepaskan dari konflik perebutan akses ekonomi, politik dan budaya. Secara kultur, negara-negara di kawasan Timur Tengah dibangun di atas sistem kesukuan dan memiliki sejarah panjang dalam konflik antar suku dalam memperebutkan akases kekuasaan. Pada saat yang bersamaan, melimpahnya minyak menjadi daya tarik tersendiri, sehingga maklum adanya jika perebutan kekuasaan semakin menemukan momentumnya.
Pasca runtuhnya dinasti Saddam Husen, pemerintahan Irak tak pernah benar-benar stabil, selalu saja memunculkan rivalitas Sunni-Syiah, sehingga pemerintahan tak pernah optimal. Rivalitas tersebut disebabkan kerasnya persaingan antar kelompok dan suku untuk mendapatkan akses politik dan ekonomi. Begitu pula dengan Libya, suku-suku yang dahulu berada dalam barisan penentang Qaddafi, kini justru saling membunuh memperebutkan akses kekuasaan. Bahkan Libya kini tak pernah menemukan stabilitasnya dan mengarah pada konflik berkepanjangan. Kesamaan agama pun tak mampu menekan konflik tersebut.
Konflik Suriah yang secara kasat mata menghadapkan Syiah vs Sunni, adalah perebutan penguasaan terhadap akses politik dan ekonomi. Apalagi, konflik Suriah adalah perebutan penguasaan kawasan yang lebih luas, tidak sebatas perebutan dalam negeri. Kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam konflik Suriah tengah berebut pengaruh kawasan sebagai akses untuk penguasaan ekonomi dan politik secara stabil dan luas.
Ketika IS pertama kali muncul dengan gerakannya yang massif dan merebut beberapa wilayah penting di Irak dan Suriah, fakta bahwa mereka adalah pemain baru dalam perebutan akses kekuasaan tak bisa dihindari. Fakta menunjukkan bahwa IS kini mengincar ladang-ladang minyak Suriah dan Irak, menjualnya secara murah guna memperolah persenjataan. Walaupun muncul teori konspirasi bahwa IS dibentuk oleh kekuatan asing dan kepentingannya, namun tetap saja tak bisa mengesampingkan bahwa mereka adalah bagian dari kekuatan suku-suku yang berebut akses politik dan ekonomi.
Kamuflase Gerakan Keagamaan
Tentu, isu seputar perebutan akses ekonomi dan politik tidaklah mampu membawa IS ini sebagai isu internasional; tidak pula mampu menarik atensi kalangan Islam garis keras untuk ikut bergabung dalam barisan ini. Sementara, IS sangat membutuhkan dukungan dunia Islam dan dunia secara luas, agar gerakannya semakin eksis dan meluas.
Pilihan yang diambil adalah internasionalisasi gerakan melalu bahasa agama. Maka, dipilihlah isu khilafah Islamiyyah sebagai identitas gerakan IS. Doktrin jihad dan syahid pun dipilih untuk memperkaya dan mendramatisir slogan khilafah islamiyyah ini. Slogan Khilafah islamiyyah berhasil menarik dukungan dari kelompok kecil masyarakat muslim dunia, bahkan di negara-negara Barat itu sendiri.
Hari ini kita membaca berita kisah Aqso, perempuan keturunan Pakistan yang tinggal di Scotlandia, yang bergabung dengan gerakan IS di Suriah. Aqsa bukanlah satu-satunya perempuan muslim yang menjadi korban ajakan IS, ada banyak para perempuan dari berbagai belahan dunia Barat lainnya. Bahkan media Malaysia beberapa pekan ke belakang memberitakan dua warganya bergabung dengan IS dengan slogan jihad seks, sebuah kenyataan yang sangat miris kita mendengarnya. Pun, isu khilafah ini dalam batas tertentu, juga berhasil menarik perhatian kalangan muslim Indonesia, khususnya mereka yang pernah terjerat kasus radikalisme.
Apa yang saya paparkan di atas tentu masih perlu mendapatkan telaah lebih dalam. Namun, setidaknya hal ini menambah perspektif bagi kita guna menyikapi IS secara proporsional. Kita tidak boleh emosional menyikapi IS, dengan serta merta menyatakan sebagai gerakan keagamaan. Sikap kritis sangat diperlukan dalam menyikapi konflik berbau keagamaan yang terjadi di dunia Islam.
IS akan sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia jika kita gagal mengidentifikasinya. Akan terus muncul dukungan dari elemen kecil masyarakat jika kita gagal melakukan edukasi akan pentingnya pemahaman global terhadap konflik IS dan kawasan Timur Tengah; jika kita gagal membendung klaim jihad dan slogan khilafah islamiyyah.
Sebaliknya, pencegahan atas dampak IS dapat kita lakukan melalui edukasi yang komperehensif tentang peta konflik IS dan kawasan Timur Tengah. Secara proporsional kita tempatkan IS dalam konteks konflik regional kawasan Timur Tengah dalam perebutan akses politik, ekonomi dan budaya. Dan tak ada kaitannya bahwa gerakan mereka adalah jihad. Bahwa IS bukanlah gerakan agama dan tak terkait dengan jihad dan syahid, melainkan perebutan akses kekuasaan politik, ekonomi dan budaya. Wallahu a’lam bishowab.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



