Oleh:
Dedi Slamet Riyadi, S.Ag*
Seperti biasa, nyaris tak ada kata tidur di Jakarta, termasuk di Jalan Jaksa. Matahari telah lama terbenam, tetapi jalan yang dulu sangat terkenal di kalangan ekspatriat ini masih ramai.
Mobil, motor, sesekali bajaj, laju melintas. Para pejalan kaki pun masih banyak yang lewat. Ada yang berjalan gegas, seakan diburu waktu. Lebih banyak lagi yang berjalan santai, sambil sesekali melihat gawai di tangan. Dulu, empat hingga tiga dasawarsa silam, jalan ini sangat ramai oleh para pelancong.
Para turis mancanegara memilih untuk bermalam di hostel-hostel yang tersebar di sepanjang jalan ini. Sebelum budaya ngafe melanda negeri ini, Jalan Jaksa telah disesaki kafe sejak 1980-an. Ketika daya tariknya mulai redup di awal millenium ini, komunitas dan pemerintah menggelar Festival Jalan Jaksa.
Saat festival itu, para pengunjung akan menemukan ragam budaya berpadu di sana. Berbagai macam kuliner dan atraksi budaya ditampilkan setiap hari di sepanjang jalan.
Saat ini semua keramaian itu telah sirna. Sejumlah hostel telah berubah menjadi hotel-hotel besar dan nyaris tidak ditemukan lagi cafe peninggalan masa lalu. Beberapa minimarket berdiri di sana, bersisian dengan tempat makan. Saat malam, tak begitu banyak orang yang lalu lalang, seperti malam ini.
Saya duduk menunggu nasi goreng disajikan di sebuah warung makan. Sesekali menggulir layar gawai, membuka Instagram, Twitter, atau Facebook. Meskipun tak mendapatkan guna apa-apa, laku mekanis itu terus berulang saya lakukan. Ada dua pasang muda-mudi duduk berhadapan di meja depan saya. Suara obrolan mereka nyaris tak terdengar. Mereka juga lebih sering melakukan laku mekanis seperti yang saya lakukan: menggulir gawai, sambil sesekali tersenyum. Tertawa. Mereka berjumpa tetapi tidak bertemu. Suasana nyaris hening, kecuali sesekali terdengar suara kendaraan yang lintas.
“Woooi, ngapain lu?!”
Tiba-tiba satu suara memecah sunyi. Berat. Serak. Saya angkat pandangan. Tampak seorang bapak dengan wajah nyaris tanpa senyuman, memandang lekat. Tangan kanan yang memegang cangkir besar diacungkan.
“Eh, Pak Direktur. Makan, Pak.”
“Udah gua,” ujarnya ringkas, lalu ngeloyor pergi dan duduk di bangku pinggir jalan.
Saya intip sekilas, ia duduk bersama beberapa orang yang wajahnya saya kenal, tetapi tidak nama mereka.
Setelah menyantap nasi goreng, saya beranjak keluar, lalu duduk berhadapan dengan Pak Tohor.
“Gak balik lu?” tanyanya.
“Gak, Pak. Baru hari Senin.”
“Ngopi, Ded,” ujarnya lagi. Lalu berpaling ke teman di hadapannya.
“Lu pesen apa kek, Ed. Kopi atau apa.”
“Wooi Bang, bikin jeruk panas,” ujar laki-laki tua yang dipanggil Edi. Lalu kami pun ngobrol tentang berbagai hal. Ringan. Remeh. Akrab. Tak tampak beda antara Edi yang tukang parkir dan Tarmizi Tohor yang direktur. Beberapa saat kemudian seorang gadis kecil diikuti satu ondel-ondel dengan rupa yang enggak jelas, buluk, dan berdebu berjalan mendekat. Gadis itu berjalan melintasi kami.
“Mau duit lu?” tanya Pak Tohor.
Gadis itu tersenyum mengangguk. Pak Tohor merogoh kantong celananya dan menyerahkan uang yang dipegangnya tanpa melihat.
“Terima kasih, Pak,” ujar gadis itu sambil beranjak pergi.
Setelah ngobrol cukup lama dan cangkir besinya tandas tak bersisa, Pak Tohor beranjak pergi. Tanpa sepatah kata. Begitu saja meloyor pergi. Tinggal saya bersama Edi, Yusuf, dan Maman. Mereka tinggal di sekitar Jaksa. Edi bercerita, kami merasa kehilangan. Beberapa hari lamanya Pak Tohor pergi. Kami dengar ia pensiun. Kami berkumpul mendoakannya, biar dia sehat, panjang umur, dan lancar kehidupannya setelah pensiun.
Kami belum sempat berpamitan. Eh, dia nongol lagi. Dia bilang, “Gue kan pasti datang lagi sini, ngapain pamitan!”
Setelah bule-bule Jaksa di era 80 hingga 90-an, lalu ada festival Jalan Jaksa, mungkin Tarmizi Tohor bisa disebut icon Jalan Jaksa yang lainnya. Nyaris semua pekerja dan orang yang tinggal di sekitar Jaksa mengenalnya, termasuk juga para tukang dan pekerja di hotel depan Wisma Haji. Mungkin, Pak Tohor mengikuti ujaran Gabriel Marcel, relasi antara dua manusia semestinya adalah relasi aku-engkau, bukan aku-dia. Karena itulah ia kenal dan akrab dengan banyak orang.
Setelah nanti Pak Tohor beranjak pergi, mungkin mereka tidak akan lagi mendengar orang yang karaokean depan wisma sambil menjinjing speaker aktif. Mungkin mereka tak akan lagi melihat orang yang duduk santai depan swalayan lalu menyapa setiap orang yang lewat, atau ikut memarkirkan kendaraan.
Mereka akan kehilangan budak Melayu dari Sungai Tohor Selat Panjang ini. Dan, hingga sosok ini pergi meninggalkan Jaksa, mungkin mereka tidak akan pernah tahu bahwa ia pernah mendapat penghargaan dari BAZNAS RI sebagai tokoh yang banyak memberikan kontribusi dalam optimalisasi pengelolaan zakat untuk kesejahteraan umat. Mungkin kelak mereka akan mendengar lagi namanya saat ikut kontestasi calon bupati di Meranti.
Semoga.
*Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



