Sukabumi, bimasislam—Setelah menempuh perjalanan lebih dari 8 jam dari Jakarta, bimasislam pun sampai di Kecamatan Tegal Buleud, Sukabumi. Rasa lelah yang mendera sepanjang perjalanan, perlahan tergerus oleh rasa takjub luar biasa pemandangan alam. Di sisi kanan dan kiri perjalanan kami, tersaji lereng-lereng bebatuan yang tersusun rapi, diselimuti pepohonan dan rumput. Sepanjang perjalanan kami mengitari sungai Cikaso yang berujung di laut Selatan. Beberapa kali kami berhenti, sekedar menikmati sejuknya alam yang menujukkan persahabatan luar biasa.
Kami disambut oleh Kang Sulaeman Jamal, Kepala KUA Kecamatan Tegal Buleud dan jajaran. Tepat berada di alun-alun Kecamatan, KUA Tegal Buleud juga berada di Jalur Selatan yang menghubungkan Sukabumi-Pangandaran. Di sampingnya para warga tengah gotong royong membangun Masjid. Sebuah lapangan bola berada di depan kantor KUA, biasa digunakan warga untuk menjemur padi atau palawija lainnya. Di halaman depan KUA, nampak papan absensi pegawai yang bisa dibaca siapapun yang melintas.
Tidak mudah menjadi penghulu di daerah yang jauh dari pusat kota. Selain letak geografis yang berbukit dan akses jalan yang belum beraspal, Kang Jamal mengisi hari-harinya melayani pencatatan pernikahan dengan penuh keikhlasan. Setiap hari ia menempuh tidak kurang 80 Km dari rumahnya di Kecamatan Surade. Tak jarang, ia harus berangkat subuh untuk melakukan pencatatan nikah di 8 desa yang masuk wilayah kerjanya.
“Masyarakat di sini masih percaya dengan hitung-hitungan hari. Ya, kami kadang harus mengikuti waktu yang mereka inginkan. Pernah kami harus menikahkan dini hari atau bahkan di hari raya Idul Fitri dan Adha. Kalau lokasinya jauh, ya kami terpaksa menginap karena perjalanan malam banyak hambatan, terutama medan hutan yang masih gelap,” tuturnya.
Dalam sebulan, terdapat kurang lebih 20 peristiwa pernikahan, 30% diantaranya dilaksanakan di Kantor KUA. Kang Jamal bertutur, hambatan sarana dan infrastruktur adalah kendala utama. Digawangi 5 orang pegawai, pihaknya sering menghadapi kesulitan akses informasi, terutama untuk menunjang Simkah.
Lelaki yang selalu tersenyum itu mengajak bimasislam menjelajahmedan perkampungan yang penuh dengan pepohonan. Kami menuju desa nelayan yang tepat berada di belakang tambang pasir besi. Ia pun menyapa para warga yang cukup jauh mengakses pendidikan. Anak-anak harus berjalan lebih dari 5 Km untuk mencapai sekolah. Untuk urusan pendaftaran perikahan, para warga ini harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.
“Meski letak antar desa dengan KUA cukup jauh dan tak ada transportasi massal, namun kami pastikan semua peristiwa nikah tercatat. Kami maksimalkan peran penyuluh agama Islam dan para kepala desa untuk mensosialisasikan pencatatan nikah ini. Penyuluh di sini posisinya sama dengan tokoh agama, jadi efektif didengar dan dipatuhi masyarakat,” ujarnya dengan penuh optimisme.
Hari ini tepat berjalan 3 bulan bagi Anwar Jahid menjadi Penyuluh Agama Islam di Tegal Buleud. Meski demikian, ia tak lagi canggung menjelajah desa-desa di sepanjang pantai Selatan yang juga dijejali alam perbukitan. Saat sebagian jalanan terasa menakutkan di malam hari, ia tak lagi merasakannya sebagai hambatan yang harus menghentikan langkahnya. Sambutan dan respon masyarakat yang begitu hangat menjadi motivasi besar baginya untuk istiqomah memberi penyuluhan.
“Meski dari segi pendidikan mereka itu rendah, namun rasa hormat dan semangat mengaji cukup tinggi. Inilah yang membuat kami selalu survive meski dikelilingi alam yang masih cukup liar,’ tuturnya.
Ia pun memiliki strategi tersendiri menghadapi kondisi geografis yang cukup menantang ini. Ia mendorong para tokoh agama untuk bersama-sama menyampaikan pesan-pesan pemerintah tentang pembinaan keagamaan. Kerjasama ini bukan hanya meringankan tugasnya, namun juga sangat efektif untuk sampai dan diterima oleh masyarakat. Baginya, penyuluhan tidak melulu identik dengan terjun langsung, namun juga fungsi manajerial tak kalah penting guna optimalisasi penyuluhan itu sendiri.
“Kami yakin para tokoh agama ini orang-orang yang berpotensi, memiliki pengaruh besar di masyarakat. Karena itulah keberadaan mereka harus kita rangkul, kita jalin kerjasama yang diawali dengan silaturahim,” pungkasnya.
Tak terasa waktu telah menujukkan pukul 16.00 WIB. Padahal belum semua spot terbaik di Tegal Buleud dapat kami sambangi. Kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju spot lainnya di Sukabumi Selatan. Tegal Buleud dengan berbagai kekurangannya, telah memberi banyak pelajaran akan arti penting dedikasi dan loyalitas dalam bekerja. Meski jauh dari pantauan media, namun mereka mampu melayani masyarakat dengan profesional. (kangjeje-tom/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



