Jakarta, bimasislam—Seperti halnya para penghafal al-Qur’an, keberadaan para pengkaji hadits memiliki peran besar dalam menjaga Islam sebagai agama yang penuh rahmat. Hadits sebagai sumber hukum Islam, adalah amanat Nabi SAW untuk diamalkan, sebagai pedoman hidup yang harus diterapkan. Karena itulah, eksistensi para pengkaji hadits saat ini sangat dibutuhkan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Alasan inilah yang senantiasa menempatkan perguruan tinggi hadits Darus Sunah menjadi kebangsaan tersendiri bagi bangsa Indonesia.
Bertempat di Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu (19/8), sebanyak 33 mahasantri, terdiri dari 19 laki-laki dan 14 perempuan, mengikuti wisuda Darus Sunah ke-15. Mereka adalah para mahasiswa yang tekah menempuh pendidikan dan dinyatakan lulus dalam ujian akhir. Dihadiri sejumlah tokoh ormas Islam, akademisi dan undangan, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, mewakili Menteri Agama memberikan sambutan pada wisuda dimaksud.
“Dalam kesempatan ini, atas nama jajaran Kementerian Agama saya mengucapkan selamat dan sukses kepada para mahasantri wisudawan sarjana dalam Ilmu-Ilmu Hadits. Saudara-saudara para pemangku Ilmu Hadits adalah orang-orang yang ditakdirkan Allah untuk menjaga Sunnah Nabi dan mengajarkannya kepada masyarakat,” ungkapnya.
Muhammadiyah Amin menjelaskan, menjaga Sunnah Nabi, secara literal tekstual dan spiritnya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya menjaga al-Quran. Ilmu Hadits seperti kita tahu merupakan salah satu “mahkota ilmu” dalam Islam yang memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan syariat Islam. Metodologi Ilmu Hadits mengajarkan bukan hanya sekedar keragaman pandangan hukum, ketelitian dalam mencermati dalil, tetapi mendorong para ulama dan umat Islam untuk menjaga integritas keilmuan dalam menyeleksi dan menemukan dalil-dalil yang paling akurat sebagai dasar hukum dalam beribadah dan bermuamalah. Seorang ahli ilmu Hadits yang baik tidak akan segan-segan meninjau kembali pendapat dan pendiriannya apabila di kemudian hari ditemukan rujukan dalil yang shahih, lebih kuat dan lebih memadai sebagai pegangan.
“Di pundak saudara-saudara sekalian melekat dua tanggung jawab, yaitu keilmuan dan dakwah. Saya percaya konsep pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di Darus Sunnah ini mempersiapkan para mahasantri dan alumni untuk melaksanakan tanggung jawab keilmuan dan tanggung jawab dakwah, sehingga para alumninya menjadi orang yang berguna dan memberi manfaat bagi masyarakat dan kemajuan bangsa,” pungkasnya.
Di sisi lain, mantan Rektor IAIN Gorontalo ini mengajak para santri Darus Sunah untuk bersama-sama menjaga umat melalui moderasi Islam. Dengan kapasitas keilmuan dan wawasan, para santri diharapkan mampu menyampaikan nilai-nilai keislaman yang menjunjung tinggi misi islam rahmatan lil’alamin. Apalagi dengan beragamnya tantangan umat seperti narkoba, pornografi dan radikalisme, kehadiran para santri benar-benar sangat dibutuhkan.
Di tempat yang sama, Ketua Pesantren Luhur Darus Sunah, Ziaul Haramain, Lc, menyampaikan amanatnya agar para wisudawan hadir di tengah-tengah umat dengan menyampaikan pesan-pesan Nabi sebagaimana terkandung dalam sabda-sabdanya. Ia mengingatkan pentingnya tradisi keilmuan hadits sebagai bagian dalam dakwah Islam. Karena itulah, ia mengajak semua santri untuk meng-edukasi masyarakat melalui kajian-kajian hadits.
Pesantren Luhur Darus Sunah merupakan lembaga pendidikan yang fokus pada kajian hadits. Berkedudukan di Ciputat, Pesantren ini berdekatan lokasinya dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tak mengherankan jika keberadaannya melengkapi tradisi keilmuan yang sudah terbangun di kampus Islam terbesar ini. Walhasil, keberadaannya kini tak bisa dipisahkan dari kelahiran para ahli hadits yang masih langka ini.
(Jaja Zarkasyi-Rida Cameli/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



