Jakarta, Bimas Islam — Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 tidak hanya menjadi ajang kompetisi keagamaan, tetapi juga momentum syiar Al-Qur’an, regenerasi ulama, pemberdayaan ekonomi lokal, serta penguatan karakter dan kerukunan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengatakan MTQ memiliki sejumlah instrumen strategis yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Selain terkait dengan pemahaman, penyebarluasan, dan syiar Al-Qur’an kepada umat, kami juga ingin mendorong agar momentum MTQ ini dapat menjadi salah satu instrumen untuk pengembangan atau pemberdayaan ekonomi lokal,” ujar Abu saat Press Briefing Isu-Isu Aktual Bimas Islam, Senin (1/9/2026), di Jakarta.
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi lokal dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pendukung MTQ, seperti ekspo UMKM, pariwisata, kuliner, bazar, festival, dan pasar rakyat yang berbasis produk lokal.
Abu berharap penyelenggaraan MTQ Nasional di Semarang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Ia mencontohkan penyelenggaraan MTQ di Kendari tahun sebelumnya yang turut menggerakkan perekonomian daerah.
“Di Kendari tahun lalu, kami mendapat informasi dari dinas perdagangan setempat bahwa ada perputaran ekonomi sepanjang penyelenggaraan MTQ. Kami berharap di Semarang juga terjadi hal yang sama,” ujarnya.
Selain ekonomi, Abu menyebut MTQ memiliki peran dalam regenerasi dan pengaderan ulama. Menurutnya, cabang-cabang yang dilombakan berkaitan dengan penguasaan berbagai ilmu Al-Qur’an.
“Ini kami berharap menjadi salah satu ajang pengaderan dan regenerasi ulama,” katanya.
MTQ Nasional ke-31 mempertandingkan delapan cabang lomba dengan 24 golongan dan 48 kategori. Cabang tersebut meliputi tilawah, tafsir Al-Qur’an, serta berbagai kompetensi lain yang membutuhkan penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an.
Abu menilai MTQ dapat menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda yang serius mendalami Al-Qur’an, termasuk pada bidang tilawah yang belum banyak memiliki jalur pendidikan formal secara khusus.
Pembinaan peserta berlangsung secara berjenjang, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
“Kompetisinya benar-benar dimulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai kemudian tingkat provinsi dan terakhir MTQ Nasional,” jelasnya.
Menurut Abu, pola pembinaan tersebut serupa dengan pembinaan atlet dalam olahraga yang dilakukan melalui kompetisi berjenjang. MTQ menjadi ruang bagi generasi muda untuk menguji dan mengembangkan kemampuan dalam memahami serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an.
“MTQ juga menjadi salah satu arena yang sangat penting supaya adik-adik kita yang sedang belajar serius mengenai aspek-aspek Al-Qur’an mendapatkan tempat yang pas untuk menguji kemampuannya,” katanya.
MTQ Nasional ke-31 juga diarahkan untuk membangun karakter dan kerukunan. Abu berharap kegiatan tersebut menanamkan nilai akhlak, kedisiplinan, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya.
“MTQN ini diharapkan bisa menanamkan nilai akhlak, kedisiplinan, toleransi, kesejarahan budaya, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai perekat harmoni sosial dan kekuatan bangsa,” tuturnya.
Selain itu, MTQ Nasional ke-31 membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan melalui pendekatan ekoteologi. Menurut Abu, kecintaan terhadap Al-Qur’an perlu diwujudkan dengan menjaga lingkungan.
“MTQ juga mengajarkan bahwa mencintai Al-Qur’an berarti merawat dunia sebagai amanah Tuhan,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Kementerian Agama juga mengenalkan eksibisi Musabaqah Tilawatil Qur’an menggunakan bahasa isyarat. Abu mengatakan kategori tersebut masih berupa eksibisi dan belum menjadi cabang lomba resmi.
“Musabaqah Tilawatil Qur’an sudah mulai merambah teman-teman kita yang memiliki keistimewaan, khususnya dalam menggunakan bahasa isyarat,” katanya.
Menurut Abu, eksibisi tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan MTQ yang inklusif. Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar agar layanan keagamaan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Jadi, sesuai dengan arahan Menteri Agama, kita harus memberikan layanan kepada seluruh masyarakat. Tidak boleh ada yang merasa tidak terlayani, termasuk saudara-saudara kita yang memiliki kebutuhan khusus,” jelasnya.
MTQ Nasional ke-31 mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.” Tema tersebut disepakati Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, LPTQ, dan Kementerian Agama sebagai landasan penyelenggaraan MTQ Nasional ke-31.
MTQ Nasional ke-31 akan diselenggarakan di Provinsi Jawa Tengah pada 11–20 September 2026. Abu mengatakan persiapan teknis dan nonteknis, termasuk venue perlombaan, telah memasuki tahap akhir.
“Kemarin kami melakukan technical meeting dengan seluruh Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk menghadirkan Asisten Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Persiapannya sudah hampir selesai,” katanya.
Abu berharap MTQ Nasional ke-31 tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat, masyarakat, dan bangsa.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



