Oleh:
Ohan Jauharudin*
Ohan Jauharudin*
Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional XXXI yang diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah, pada 11–20 September 2026, merupakan salah satu momentum penting dalam upaya memperkuat kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an. Kehadiran MTQ tidak semestinya dipahami semata-mata sebagai sebuah kompetisi untuk mengukur kemampuan peserta dalam membaca, menghafal, memahami, maupun mengkaji Al-Qur’an. Lebih dari itu, MTQ memiliki dimensi edukatif dan spiritual yang lebih luas, yakni mendorong lahirnya pribadi-pribadi yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam perspektif tersebut, keberhasilan MTQ tidak hanya dapat diukur melalui perolehan juara dan pencapaian prestasi peserta. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat tercermin dalam sikap, perilaku, dan kepribadian para peserta setelah mereka kembali ke tengah masyarakat. Al-Qur’an pada hakikatnya tidak hanya untuk dibaca dengan suara yang indah, tetapi juga untuk dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu nilai penting yang semestinya tumbuh melalui penyelenggaraan MTQ adalah ta’aruf, yakni membangun hubungan dan saling mengenal dalam kerangka persaudaraan. Pertemuan peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam merupakan ruang strategis untuk memperkuat ukhuwah serta membangun kesadaran bahwa keberagaman merupakan bagian dari realitas kehidupan umat. MTQ dengan demikian dapat menjadi medium untuk memperluas jejaring persaudaraan dan memperkokoh persatuan masyarakat.
Selain ta’aruf, MTQ juga perlu melahirkan semangat ta’awun, yaitu kesediaan untuk saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan. Kompetisi tidak seharusnya melahirkan sikap individualistis atau orientasi kemenangan semata. Sebaliknya, persaingan yang sehat perlu diarahkan untuk membangun budaya saling menghargai, berbagi pengalaman, dan memberikan kontribusi positif bagi sesama. Semangat ta’awun inilah yang menjadikan kompetisi memiliki nilai sosial dan kemanusiaan yang lebih tinggi.
Nilai lainnya yang tidak kalah penting adalah tabayun, yaitu sikap melakukan klarifikasi dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum menerima ataupun menyebarkannya. Di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang demikian pesat, kemampuan untuk bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap informasi menjadi semakin penting. Nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam membentuk masyarakat yang tidak mudah terprovokasi, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, serta senantiasa mengedepankan kebenaran dan keadilan dalam menyikapi berbagai persoalan.
Oleh karena itu, peserta MTQ idealnya tidak berhenti pada predikat sebagai qari, qariah, hafiz, hafizah, mufassir, kaligrafer atau peserta terbaik dalam cabang perlombaan tertentu. Mereka diharapkan mampu menjadi representasi nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Prestasi yang diperoleh dalam arena MTQ seharusnya menjadi titik awal untuk menghadirkan keteladanan, bukan sekadar menjadi simbol pencapaian pribadi.
Dalam konteks ini, keteladanan menjadi aspek yang sangat penting. Masyarakat membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual dan spiritual, tetapi juga menunjukkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah saw. merupakan teladan utama dalam aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an. Kehidupan beliau memperlihatkan bagaimana ajaran Al-Qur’an dapat diterjemahkan ke dalam sikap kasih sayang, kejujuran, kesabaran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, pribadi Qur’ani bukan sekadar pribadi yang memiliki kemampuan membaca, menulis atau menghafal Al-Qur’an, melainkan pribadi yang perilakunya mencerminkan pesan moral dan etika Al-Qur’an.
Pesan Menteri Agama Republik Indonesia bahwa MTQ bukan hanya ruang kompetisi, tetapi juga momentum untuk semakin mendekatkan Al-Qur’an kepada seluruh lapisan masyarakat, menjadi penegasan terhadap orientasi tersebut. Pernyataan itu menunjukkan bahwa penyelenggaraan MTQ memiliki misi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan para juara. MTQ perlu menjadi bagian dari gerakan literasi Al-Qur’an yang mampu menjembatani antara kemampuan membaca Al-Qur’an dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, MTQ Nasional XXXI di Semarang hendaknya dipandang sebagai momentum untuk memperkuat ekosistem kehidupan yang berorientasi pada nilai-nilai Qur’ani. Al-Qur’an perlu semakin dekat dengan masyarakat, tidak hanya di ruang-ruang perlombaan, tetapi juga di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, masjid, pesantren, komunitas, serta ruang publik.
Pada akhirnya, kebermaknaan MTQ tidak ditentukan semata oleh siapa yang memperoleh nilai tertinggi atau membawa pulang gelar juara. Keberhasilan yang lebih hakiki adalah ketika para peserta dan masyarakat yang terlibat mampu membawa pulang pesan-pesan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih berakhlak, harmonis, dan berkeadaban.
MTQ dengan demikian bukan sekadar panggung untuk mempertontonkan keindahan bacaan Al-Qur’an, melainkan juga ruang untuk menghadirkan keindahan akhlak Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Dari Semarang, semangat tersebut diharapkan dapat terus tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru negeri, sehingga Al-Qur’an tidak hanya semakin sering dilantunkan, tetapi juga semakin nyata nilai-nilainya dalam perilaku kehidupan masyarakat.
*Penyuluh Agama Islam Kota Sukabumi
Dalam perspektif tersebut, keberhasilan MTQ tidak hanya dapat diukur melalui perolehan juara dan pencapaian prestasi peserta. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat tercermin dalam sikap, perilaku, dan kepribadian para peserta setelah mereka kembali ke tengah masyarakat. Al-Qur’an pada hakikatnya tidak hanya untuk dibaca dengan suara yang indah, tetapi juga untuk dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu nilai penting yang semestinya tumbuh melalui penyelenggaraan MTQ adalah ta’aruf, yakni membangun hubungan dan saling mengenal dalam kerangka persaudaraan. Pertemuan peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial dan budaya yang beragam merupakan ruang strategis untuk memperkuat ukhuwah serta membangun kesadaran bahwa keberagaman merupakan bagian dari realitas kehidupan umat. MTQ dengan demikian dapat menjadi medium untuk memperluas jejaring persaudaraan dan memperkokoh persatuan masyarakat.
Selain ta’aruf, MTQ juga perlu melahirkan semangat ta’awun, yaitu kesediaan untuk saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan. Kompetisi tidak seharusnya melahirkan sikap individualistis atau orientasi kemenangan semata. Sebaliknya, persaingan yang sehat perlu diarahkan untuk membangun budaya saling menghargai, berbagi pengalaman, dan memberikan kontribusi positif bagi sesama. Semangat ta’awun inilah yang menjadikan kompetisi memiliki nilai sosial dan kemanusiaan yang lebih tinggi.
Nilai lainnya yang tidak kalah penting adalah tabayun, yaitu sikap melakukan klarifikasi dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum menerima ataupun menyebarkannya. Di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang demikian pesat, kemampuan untuk bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap informasi menjadi semakin penting. Nilai-nilai Al-Qur’an perlu hadir dalam membentuk masyarakat yang tidak mudah terprovokasi, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, serta senantiasa mengedepankan kebenaran dan keadilan dalam menyikapi berbagai persoalan.
Oleh karena itu, peserta MTQ idealnya tidak berhenti pada predikat sebagai qari, qariah, hafiz, hafizah, mufassir, kaligrafer atau peserta terbaik dalam cabang perlombaan tertentu. Mereka diharapkan mampu menjadi representasi nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Prestasi yang diperoleh dalam arena MTQ seharusnya menjadi titik awal untuk menghadirkan keteladanan, bukan sekadar menjadi simbol pencapaian pribadi.
Dalam konteks ini, keteladanan menjadi aspek yang sangat penting. Masyarakat membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual dan spiritual, tetapi juga menunjukkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah saw. merupakan teladan utama dalam aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an. Kehidupan beliau memperlihatkan bagaimana ajaran Al-Qur’an dapat diterjemahkan ke dalam sikap kasih sayang, kejujuran, kesabaran, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, pribadi Qur’ani bukan sekadar pribadi yang memiliki kemampuan membaca, menulis atau menghafal Al-Qur’an, melainkan pribadi yang perilakunya mencerminkan pesan moral dan etika Al-Qur’an.
Pesan Menteri Agama Republik Indonesia bahwa MTQ bukan hanya ruang kompetisi, tetapi juga momentum untuk semakin mendekatkan Al-Qur’an kepada seluruh lapisan masyarakat, menjadi penegasan terhadap orientasi tersebut. Pernyataan itu menunjukkan bahwa penyelenggaraan MTQ memiliki misi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan para juara. MTQ perlu menjadi bagian dari gerakan literasi Al-Qur’an yang mampu menjembatani antara kemampuan membaca Al-Qur’an dengan penghayatan dan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, MTQ Nasional XXXI di Semarang hendaknya dipandang sebagai momentum untuk memperkuat ekosistem kehidupan yang berorientasi pada nilai-nilai Qur’ani. Al-Qur’an perlu semakin dekat dengan masyarakat, tidak hanya di ruang-ruang perlombaan, tetapi juga di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, masjid, pesantren, komunitas, serta ruang publik.
Pada akhirnya, kebermaknaan MTQ tidak ditentukan semata oleh siapa yang memperoleh nilai tertinggi atau membawa pulang gelar juara. Keberhasilan yang lebih hakiki adalah ketika para peserta dan masyarakat yang terlibat mampu membawa pulang pesan-pesan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih berakhlak, harmonis, dan berkeadaban.
MTQ dengan demikian bukan sekadar panggung untuk mempertontonkan keindahan bacaan Al-Qur’an, melainkan juga ruang untuk menghadirkan keindahan akhlak Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Dari Semarang, semangat tersebut diharapkan dapat terus tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru negeri, sehingga Al-Qur’an tidak hanya semakin sering dilantunkan, tetapi juga semakin nyata nilai-nilainya dalam perilaku kehidupan masyarakat.
*Penyuluh Agama Islam Kota Sukabumi



