Bogor, bimasislam– Plt. Kepala Lajnah Pentashihan Al-Qur'an Muchlis Hanafi mengingatkan adanya gejala "self radicalism" atau orang menjadi radikal dengan sendirinya gara-gara salah memilih buku atau sumber-sumber informasi online.
Saat menyampaikan materi dalam kegiatan forum diskusi Pengembangan Mutu Kepustakaan Islam di Bogor, Rabu (27/9), ia mengingatkan, terorisme tidak selalu berkaitan dengan jaringan dan sistem doktrinasi yang terstruktur dan ketat.
"Sekarang bisa jadi self radicalism. Orang bisa menjadi radikal hanya dengan membaca buku-buku keagaman atau mencari informasi di internet. Di Inggris ada anak muda, dia tidak kemana-mana hanya dengan baca buku ia menjadi radikal dan terlibat kasus terorisme," katanya.
Karena itu ia mengapresiasi pembentukan unit kerja baru di lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, yakni Subdit Kepustakaan Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga saat ini mempunyai komisi khusus yang mentashih buku-buku keislaman.
"Pertanyaan besarnya, siapa di era reformasi ini yang bisa mengontor pemikiran," katanya terkait penerbitan buku-buku keislaman.
Karena itu, menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan oleh Subdit Kepustakaan Islam adalah melakukan review buku-buku keislaman yang berpotensi menimbulkan kegaduhan, terutama buku-buku yang berorientasi menyebarkan paham radikalisme.
(anam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



