Kota Pekalongan, Bimas Islam — Kehadiran Masjid Al-Fairus sebagai bagian dari program Masjid Ramah Pemudik tidak hanya memberikan kenyamanan bagi musafir, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitarnya.
Selama arus mudik, area masjid dimanfaatkan sebagai ruang pemberdayaan ekonomi. Masyarakat membuka stan penjualan, mulai dari kuliner hingga produk khas daerah, seperti batik.
Pengurus masjid, M. Taufiq, mengatakan bahwa kehadiran pemudik menjadi peluang bagi warga untuk mengembangkan usaha.
“Masyarakat di sekitar sini sangat terbantu dengan adanya arus mudik. Mereka yang sebelumnya hanya berjualan di rumah, kini bisa membuka stan di area masjid, bahkan berkembang hingga memiliki cabang di beberapa tempat,” ujarnya saat ditemui tim Bimas Islam, Kamis (19/03/2026).
Ramainya pemudik yang singgah turut meningkatkan daya beli. Berbagai produk lokal pun diminati, mulai dari makanan khas hingga busana batik.
Menurut Taufiq, omzet UMKM meningkat signifikan saat puncak arus mudik, bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Kalau biasanya omzet per hari sekitar satu juta rupiah, saat puncak mudik bisa meningkat menjadi dua juta rupiah atau lebih,” ungkapnya.
Ia berharap, keberadaan Masjid Ramah Pemudik tidak hanya menjadi tempat singgah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, sekaligus membantu pemudik melanjutkan perjalanan dengan kondisi lebih baik.
“Harapan kami, pemudik bisa mendapatkan pelayanan yang baik sehingga dapat melanjutkan perjalanan dengan sehat, aman, dan selamat sampai di kampung halaman,” tambahnya.
Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kota Pekalongan, Arifudin, menyampaikan bahwa terdapat empat masjid yang ditetapkan sebagai Masjid Ramah Pemudik di wilayah tersebut, yaitu Masjid Al-Karomah, Masjid Asy Syuhada, Masjid Agung Al-Jami, dan Masjid Al-Fairus.
Ia menjelaskan, layanan di masjid tersebut didukung oleh 35 penyuluh agama yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI). Mereka bertugas secara bergiliran dalam tiga shift, yaitu pagi, siang, dan malam.
“Para penyuluh bertugas melayani pemudik serta membantu pengisian data yang diperlukan. Alhamdulillah, pelayanan berjalan lancar dan mereka menjalankan tugas dengan penuh semangat,” ujarnya.
Terpisah, Kasubdit Kemasjidan, Nurul Badruttamam, menegaskan bahwa program Masjid Ramah Pemudik tidak hanya berfokus pada layanan ibadah dan istirahat, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi umat.
“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Kehadiran UMKM di masjid ramah pemudik menjadi bukti bahwa masjid mampu memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan fungsi sosial dan ekonomi masjid merupakan bagian penting dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Msk/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



