Thobib Al-Asyhar
(Dosen Psikologi Islam Program Kajian Timteng dan Islam PPs Universitas Indonesia)
Mudik. Kata yang sangat akrab dalam beberapa hari ini. Puasa selama sebulan, dan berlebaran di kampung halaman. Ini merupakan fenomena kaum urban. Merantau di kota untuk kehidupan, dan pulang untuk menemui asal-usul diri. Ada “meme” (gambar lucu) yang di belakangnya bergambar Benyamin S, dengan kata-kata sindiran begini: “bikin dosa di Jakarta, minta maaf di kampung. Bahlul ente!”
Yups, sindiran Bang Ben (panggilan Benyamin S), hanya sekedar guyonan. Ia hanya kasih catetan, jangan lupa minta maaf juga kepada kawan-kawan atau tetangga dekat di Jakarta (dan sekitarnya). Bukankah sebagian besar hidupnya dihabiskan di Jakarta. Tentu, sepantasnya untuk berlebaran atau meminta maaf kepada teman sejawatnya. Pesan moralnya adalah agar dosa-dosa “adami” bisa diselesaikan semuanya. Jangan hanya ingat kampung saat senang, sementara nyari uangnya di kota.
Kembali ke soal mudik. Banyak orang bilang, mudik tidak semata bermakna pulang kampung. Hanya menemui sanak saudara atau handai taulan yang lama tak bersua. Mudik memiliki muatan spirit lebih dari itu. Mudik mengandung makna, kembali kepada kesejatian diri. Kembali kepada hakikat keberadaan.
Tanpa kampung halaman, mustahil kaum urban itu ada. Kampung halaman adalah awal dari semua kebaradaan. Orang yang saat ini kaya, saat ini menjadi pebisnis atau pejabat sukses di kota, dulunya adalah orang-orang kampung. Saya ingat betapa kampung halaman saya telah mengajarkan tentang kesederhanaan. Kampung adalah cermin kejujuran dan kepolosan. Sebaliknya, kota adalah symbol keangkuhan. Simbol menurunnya nilai-nilai social. Saat di kampung, orang-orang hidup guyup. Hidup dalam persaudaraan sejati. Hidup dalam ikatan komunal yang kuat. Sementara kota mengajarkan egoisme, individualisme, sekaligus keglamouran hidup.
Karena itu, mudik menjadi momen penting bagaimana kaum urban belajar lagi tentang arti kesederhanaan. Bagaimana orang-orang kota menumbuhkan lagi akan pentingnya hidup guyup dalam ikatan kemanusiaan. Demikian juga kejujuran menjadi sangat penting di tengah tuntutan hidup yang semakin berat. Persaingan yang semakin ketat, dan sikap “nrimo ing pandum”, atau menerima takdir kehidupan. Menjauhkan diri dari ketamakan harta dan kekuasaan yang bisa menjadi sebab runtuhnya nilai-nilai luhur sosial.
Dalam konteks spiritualisme, mudik dikonotasikan sebagai upaya untuk kembali pada hakikat. Hidup merantau diibaratkan seperti hidup di dunia yang sebentar, yang pada akhirnya akan kembali kepada Yang Maha Agung (Tuhan). Orang yang memiliki kampung halaman dan merindukan untuk pulang kampung halaman, artinya memiliki tujuan dalam hidupnya. Ketika mudik, tujuan utama yang hendak ditemui adalah orang tua yang masih hidup. Jika pun telah meninggal, maka mereka akan menyempatkan diri utnuk berziarah ke makam orang tuanya.
Demikian juga orang yang hidup di dunia, memiliki tujuan yang utama, kembali ke haribaan Tuhan (mati). Orang yang kembali ke kampung halaman berarti dia memiliki ketenangan karena ada yang hendak dituju. Demikian juga ketika dia memiliki “tempat kembali” dalam hidup, maka dia berarti memiliki ketenangan dengan mempersiapkan diri untuk menemui Tuhannya. Bisa dibayangkan jika seseorang tidak memiliki “tujuan akhir”, maka dia menjadi pribadi yang galau. Pribadi yang tidak memiliki orientasi hidupnya.
Oleh karena itu, maka mudik sepatutnya bukan dimaknai secara fisik belaka. Mudik harus diniatkan dan dibangun spirit menemukan makna-makna dan semangat menggali nilai-nilai luhur kampung. Jika mudik dilakukan dengan susah payah, macet berjam-jam, penuh onak dan duri selama perjalanan, hanya dimaknai secara fisik, maka alangkah ruginya. Apalagi dicampur dengan keinginan-keinginan material, pamer harta, kesuksesan, dan berbangga-bangga di depan keterbelakangan social plus hutang sana-sini demi penampilan. Selain rugi, mudik model begini akan semakin merusak nilai-nilai perkotaan yang kering akan nilai-nilai ketuhanan.
Bukankah orang-orang yang memiliki jiwa tenang (nafs muthmainnah) telah dijanjikan Allah akan sorganya. Demikian juga orang-orang mudik dengan hati yang bersih, jiwa yang penuh dengan nilai-nilai penghambaan dan spirituaitas akan menemukan kebehagiaan sejati. Menemukan hakikat diri dimana keberadaan diri saat ini tidak terlepas dari kampung halaman.
Jadi, mudik itu media penggugah jiwa untuk kembali fitrah. Kembali pada kesejatian diri dimana kita berasal. Menanggalkan seluruh ego-ego social yang bisa menjadi penghambat bagi ditemukannya puncak spiritualitas saat menemui Tuhannya. Selamat mudik. Selamat Idul Fitri 1436H. Mohon maaf lahir dan batin. Wallahu a’lam.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



