Oleh:
M. Fuad Nasar*
Sesuai dengan akidah yang menjadi dasar pegangan hidup muslim Nabi Muhammad Saw adalah penutup dari semua nabi dan rasul. Tidak ada nabi dan rasul sesudah Muhammad. Nabi Muhammad hidup dalam sejarah di Jazirah Arab abad ke-7 sesudah Masehi, menjalani masa kecilnya sebagai yatim-piatu, menempuh masa pemuda dewasa dan berumahtangga sebagai manusia biasa. Semenjak pemuda Muhammad digelari Al-Amin, artinya orang yang terpercaya, di kalangan komunitas kaumnya di Mekkah.
Keutamaan yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad ialah pada usia 40 tahun menerima wahyu pertama Al-Quran dari Allah Swt melalui malaikat Jibril. Allah mengangkat Muhammad menjadi nabi dan rasul dan memberinya beberapa mukjizat (miracle). Sepanjang hidupnya Nabi Muhammad terpelihara dari segala dosa dan kesalahan.
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling taat ibadahnya dan paling terpuji muamalahnya. Secara mental-spiritual nabi kita merupakan manusia yang paling tinggi kadar kesyukurannya sewaktu mendapat nikmat, paling tulus terima kasihnya kepada sesama manusia, paling teguh kesabarannya saat menghadapi cobaan serta paling pemaaf kepada orang yang menyakitinya.
Sejarawan Amerika Serikat Michael H. Hart, beragama Katolik, dalam bukunya yang terkenal The 100 a Ranking of the Most Influential Persons in History (Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah) menempatkan Nabi Muhammad (570 – 632) di urutan ranking pertama. Menurut Michael H. Hart, Muhammad bukan semata-mata pemimpin agama, tapi juga pemimpin duniawi. Dia (Muhammad) adalah satu-satunya tokoh dalam semua sejarah yang sukses dengan kesuksesan sangat tinggi pada tingkat agama dan dunia. Ada banyak rasul, nabi dan para pemimpin yang memulai dengan misi-misi agung. Namun mereka meninggal tanpa penyempurnaan misi-misi tersebut, seperti Isa di Kristen, atau yang lain telah mendahului mereka, seperti Musa di Yahudi. Namun Muhammad adalah satu-satunya (Rasul) yang menyempurnakan misi agamanya, menetapkan hukum-hukumnya dan diimani oleh bangsa-bangsa selama hidupnya.
Umat Islam di seluruh dunia bershalawat memuliakan nabi, sekurangnya ketika shalat, karena dorongan keimanan dan kecintaan. Kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai tokoh terbesar sepanjang masa juga dikagumi oleh kalangan ilmuwan di luar Islam atas dasar kejujuran ilmiah.
Jenderal Besar TNI Dr. A.H. Nasution dalam bukunya Pembangunan Moral Inti Pembangunan Nasional menyebut, “Nabi Muhammad adalah pemurni akidah dan kepercayaan manusia, pembangun umat manusia serta pendidik yang paling berhasil. Al-Quran, isinya membebaskan umat dari ikatan dan pengabdian kepada benda, kedudukan, kekuasaan manusia, dan sebagainya. Juga, membebaskan umat dari ketakutan dan dari pengabdian kepada apa pun, siapa pun, selain Allah Swt.
Semakin jauh jarak waktu antara kehidupan kita di masa sekarang dengan zaman yang dilalui Nabi Muhammad, semakin terasa keagungan risalahnya yang telah mengubah wajah dunia. Perubahan yang dibawa Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama dan pemimpin masyarakat/negara meliputi berbagai aspek kehidupan manusia. Di masa hidup Nabi Muhammad dan setelah wafatnya nabi, umat Islam tampil menjadi contoh bagi umat lain.
Setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad membentuk jamaah yang melahirkan umat di masjid dan memajukan pasar guna membangun kemandirian umat. Nabi membina keshalehan umat dalam beribadah dan mengarahkan kegiatan perekonomian masyarakat dalam napas keadilan dan keseimbangan.Islam yang diajarkan Nabi Muhammad, artinya: patuh, menyerah dan damai. Patuh dan menyerah kepada Allah, dan damai dengan sesama manusia.
Dalam mengajak manusia ke jalan Allah, Nabi Muhammad menekankan pentingnya sifat “malu” sebagai rem rohaniah bagi manusia dan sifat berani membela kebenaran. Sifat jujur, amanah dan rendah hati amat ditekankan sebagai unsur pembentuk kepribadian muslim.
Penegakan hukum dan keadilan yang dilakukan Nabi Muhammad berpedoman kepada Al-Quran, di antaranya ayat yang menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maidah [5]: 8)
Nabi Muhammad merupakan role model pemimpin yang egaliter dan humanis. Pola hubungan nabi dengan orang-orang sekelilingnya yang beriman dibangun dengan pola hubungan sebagai Sahabat nabi, bukan hubungan guru dan murid atau pemimpin dan pengikut. Nabi mencegah dan melarang kultus individu.
Dalam memutuskan sesuatu masalah duniawi, di luar hukum agama, nabi bermusyawarah dan berdiskusi dengan para sahabatnya untuk menjaring gagasan dan pendapat yang terbaik. Semua segi kehidupan Nabi Muhammad dalam fungsinya sebagai nabi dan rasul menjadi teladan di segala zaman.
Dalam tinjauan peradaban modern Nabi Muhammad adalah pelopor Hak Asasi Manusia. Khutbah Haji Perpisahan (Hajjatul Wada’) yang diucapkan nabi di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah 10 H/632 M dapat disebut sebagai Deklarasi Arafah dan merupakan sumber hak-hak asasi manusia pertama di dunia. Nabi ketika itu menegaskan, semua manusia adalah keturunan Nabi Adam, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Tidak ada kelebihan orang Arab dibanding orang yang bukan Arab, kecuali dengan takwa. Darah dan harta kamu sekalian adalah suci dan haram diganggu, seperti sucinya hari ini, sampai datang saatnya kamu sekalian menghadap Allah. Nabi Muhammad menghapus riba dan melarang penghisapan manusia terhadap manusia.
Nabi Muhammad bersabda, “Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku. Bahagialah, bahagialah, (beliau ulang sampai tujuh kali) untuk orang-orang yang beriman kepadaku padahal dia tidak melihat aku.”
Peringatan Maulid Nabi Muhammad merupakan momentum untuk mengingatkan umat Islam pada perjuangan besar Muhammad Rasulullah dan mengambil keteladanan untuk kehidupan di masa sekarang. Nabi Muhammad dengan konsepsi ajaran Islam yang diterimanya dari Allah telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi perdamaian dunia dan persaudaraan umat manusia diliputi kasih sayang. Nabi bersabda, “Sayangilah sekalian penduduk bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang di langit.”
Dalam kehidupan sosial dan kultural, Islam mengajarkan sikap ihsan (baik) dan menghargai orang lain sebagai manifestasi akhlak muslim. Menghargai sesama manusia berarti menghormati usianya, menghormati ilmunya, menghormati kepribadiannya, menghormati keyakinannya dan menghormati kemanusiaannya. Jadi, tidak ada alasan untuk bersikap sombong, takabur, menghujat dan merendahkan orang lain meski berbeda keyakinan dan tidak sependirian.
Islam menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia dan terhormat. Jika ditelaah lebih jauh, Nabi Muhammad adalah pelopor pertama emansipasi wanita. Setiap muslim, sebagaimana dilukiskan oleh Nabi Muhammad, merupakan saudara bagi muslim lainnya, sebaik-baik manusia adalah yang banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya.
Umat Islam yang berakidah tauhid dilarang mencela tuhan atau simbol peribadatan agama lain dan tidak boleh merusak rumah ibadah mereka. Allah tidak melarang umat Islam berbuat baik kepada pemeluk agama lain. Perbedaan agama semata tidak boleh menyebabkan permusuhan. Nabi Muhammad melarang umat Islam melakukan penindasan dan tindakan sewenang-wenang terhadap kelompok minoritas (kaum dzimmi) di tengah umat Islam.
Demi menjaga kemurnian akidah, umat Islam tidak boleh menyembah tuhan agama lain dan beribadah menyerupai cara peribadatan agama lain, dan begitu pula sebaliknya. ”Bagi kamu agamamu, bagiku agamaku.” (QS Al-Kafirun [109]: 6), itulah prinsip yang digariskan dalam Al-Quran. Keteguhan memegang akidah tidak mengurangi toleransi, kerukunan dan moderasi (sikap beragama jalan tengah, tidak ekstrim, tidak berlebih-lebihan) dalam beragama.
Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyempurnakan akhlak manusia dan membawa rahmat kepada alam semesta. Islam yang diajarkan Nabi Muhammad mendidik umat manusia dengan ajaran akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama makhluk Allah, akhlak terhadap sesama manusia, dan akhlak terhadap diri sendiri. Dalam kaitan ini ucapan sahabat Nabi yakni Umar bin Khattab sangat tepat direnungkan, “Sesungguhnya kamu telah diberi kedudukan oleh Allah dengan sebab Islam. Maka bagaimana kamu hendak mencari kemuliaan tanpa Islam pastilah Allah akan menghinakan kamu.”
Dalam merespon perubahan dunia yang cepat dan dinamis, umat Islam harus memiliki kualitas unggul dengan landasan nilai-nilai Islam. Umat Islam yang kelak akan dibanggakan Nabi Muhammad di hadapan para nabi di hari akhir, tentu bukan umat yang di dunia hanya sekadar “dihitung”, tetapi umat yang “diperhitungkan” dalam kehidupan bangsa dan percaturan global.
Sejalan dengan tema nasional peringatan Maulid Nabi Muhammad tanggal 12 Rabiul Awal 1443 Hijriyah, mari kita terus menebarkan empati dan memperkuat silaturahmi. Wallahu a’lam bisshawab.
*Sesditjen Bimas Islam, Kemenag RI



