Oleh:
Drs. Subiono Faqih, Mpd*
Beragam cara masyarakat mensikapi tentang merebaknya virus corona ini tentunya juga tergantung dari tingkat pemahman dan pengetahuan masing-masing orang, ada yang mensikapi dengan wajar, dan ada pula yang mensikapinya dengan secara berlebihan, bahkan ada yang saking begitu takutnya sampai seakan akan seperti orang yang takut kepada hantu, waktu berjalan di tengah malam ada daun yang jatuh saja dia kira itu adalah hantu.
Kita sebagai orang yang beragama sebenarnya telah di berikan tuntunan oleh Allah bagaimana mensikapinya. Kalau kita cermati bahwa menyebarnya virus corona ini merupakan salah satu bentuk musibah , karena dampak virus corona ini berdampak negatif dalam semua aspek kehidupan masyarakat, dari aspek pendidikan, kesehatan dan tentunya juga ekonomi. Jika kita renungkan sesungguhnya ada dua kategori musibah yang menimpa kehidupan manusia yang pada akhirnya menimbulkan penderitaan, yaitu:
1. Suatu musibah yang yang diluar jangkauan kemampuan manusia untuk dapat mengatasinya
Bencana seperti terjadinya Sunami, gunung meletus, banjir bandang dan bentuk-bentuk musibah lainnya. Konon meskipun manusia itu kadang merasa bahwa dirinya sangat pandai dalam hal perencanaan, antisipasi, menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih, namun dalam suasana yang demikian, maka manusia seakan akan tidak berdaya sehingga jatuhlah banyak korban baik itu harta benda maupun nyawa. Dalam hal bencana atau musibah yang semacam ini seharusnya kita bersikap tawakal kepada Allah karena semuanya itu terjadi karena qudrat dan iradat Allah, karena kemaha kuasaan Allah, Kemajuan IPTEK, kecerdasan mansia, sesungguhnya tidak berdaya tatkala terjadi musibah yang semacam ini karena sesungguhnya manusia itu tidak ada daya dan upaya kecuali semuanya itu berasal dari Allah, manusia itu sesungguhnya makhluk yang dhoif.
Disinilah Relevansi agama kita mengajari kita, bahwa tatkala kita sholat kemudian kita berkali kali mengucapkan kalimat “Allahu Akbar” Allah yang Maha Besar, Allah yang maha kuasa, dan sesungguhnya tidak ada daya dan upaya kecuali berasal dari Allah Yang Maha Agung “La haula wala Quwwata Illa Billahil alyyil azhim“ tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang maha tinggi dan maha agung. Untuk itu tatkala terjadi musibah seperti corona saat ini ataupun musibah yang lainnya hendaknya semakin mendekatkan diri kita kepada Allah.
2. Suatu musibah yang sesungguhnya masih dalam jangkauan kemampuan manusia untuk dapat mengatasinya
Untuk kehidupan manusia di alam dunia ini telah di karunia oleh Allah kelebihan secara jasmaniyah maupun rohaniyah, manusia oleh Allah telah di karuniai akal dan Panca Indra, semua itu pada hakekatnya ditujukan agar manusia dapat survival/bertahan dan mampu mengatasi problem ataupun musibah yang sekiranya akan menimpanya. Misalkan agar tidak jatuh miskin maka Allah mewajibkan kepada manusia untuk bekerja, agar manusia tidak jatuh kepada kebodohan maka manusia harus belajar. Agar manusia sehat manusia harus rajin berolahraga, makan dengan makanan bergizi dan sejenisnya. Disinilah relevansi akan sebuah Firman Allah SWT yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”, (Q.S. Ar-Ra’d: 11).
Lantas musibah dengan merebaknya virus corona atau Covid-19 masuk kategori yang mana. Kalau dilihat dari asal muasal virus corona ini pertama kali terjadi pada tanggal 31 Desember 2019 di Wuhan Propinsi Hubel–China. Kasus awal dari infeksi yang menyerupai pneumonia ini terhubung dengan pasar makanan laut dan hewan di Wuhan yang menjual berbagai macam daging dari kelelawar, ular, trenggiling dan musang dan binatang lainnya, sedangkan tata cara penularannya antara lain melalui tetesan kecil yang keluar dari hidung atau mulut ketika mereka yang terinfeksi virus bersin atau batuk, tetesan itu kemudian mendarat di benda atau permukaan yang di sentuh lalu menularlah kepada orang yang sehat.
Dengan melihat hal tersebut di atas, maka sebagai umat Islam untuk langkah preventif dan pengobatannya salah satunya adalah kembali kepada dasar-dasar prinsip agama Islam sebagaimana yang telah dituntkan oleh Allah SWT yaitu:
1. Mengkonsumsi makanan yang halal dan Toyyib
Di dalam agama Islam makanan merupakan hal yang sangat dipenting, makanan yang yang dikonsumsi seseorang bukan hanya yang dapat mengenyangkan dan menyenangkan, akan tetapi makanan yang di konsumsi seseorang akan menjadi darah dan daging, sehingga juga akan mempengaruhi perilaku dan kesehatan seseorang. Oleh karena itulah makanan di dalam Islam juga harus diperhatikan dari banyak segi terutama menyangkat kehalallannya dan kandungannya yang di dalam Al-Qur’an sering disebut makanan yang “Halalan Toyyiban “.
Sebagaimana di firman oleh Allah SWT di Dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 88. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang telah direjekikan Allah kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kalian beriman kepadanya“.
Kriteria makanan dan minuman yang halalan dan toyyiban adalah makanan yang telah di tuntunkan oleh Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah SAW antara lain: Makanan dan minuman tersebut diperoleh dan dipergunakan sesuai dengan syariat Agama Islam, memiliki manfaat dari segi kesehatan tubuh, karena memilki kandungan gizi yang seimbang, dapat menghindarkan diri dari akhlak yang tidak baik serta dapat mendatangkan Ridho Allah SWT.
Jenis-jenis makanan yang haram sebagaimana di sebutkan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah: 3 dan beberapa Hadits Rasulullah SAW adalah sebagai berikut: Bangkai, kecuali bangkai ikan dan belalang. Darah kecuali hati dan limpa, daging babi. Sembelihan dengan menyebut selain Allah ataupun Sembelihan untuk selain Allah, hewan yang diterkam binatang buas, binatang buas yang bertaring atau Hyena (sejenis serigala atau musang), burung yang berkuku tajam, Adh-Dhob (hewan sejenis biawak), hewan yang diperintahkan untuk di bunuh (Ular, gagak, tikus, kelelawar). Disamping itu makanan ataupun minuman bisa juga dikategorikan haram apabila membahayakan, memabukkan, mengandung najis, dianggap jorok/menyelisihi tabiat yang salim.
Dengan berdasarkan Al-Qur’an dan hadits di atas, maka jelaslah bahwa sumber awal dari virus corona adalah makanan yang sesungguhnya diharamkan dalam Islam yang seharusnya tidak di konsumsi umat Islam, makanya umat Islam janganlah kemudian dengan latah mengikuti cara-cara makan orang-orang diluar Islam agar tidak terkena virus corona.
1. Senantiasa menjaga nilai-nilai kebersihan
Agama Islam sangat menjunjung tinggi nilai nilai kebersihan sebagaimana difirman oleh Allah di dalam Al-qur’an yang artinya, "Sesungguhnya allah mencintai orang-otang yang bertaubat dan mencintai kebersihan" (Al-Baqarah 2: 222), dan menjaga kebersihan adalah bagian dari Iman.
Untuk menjaga nilai nilai kebersihan itulah salah satu ajaran agama Islam adalah dengan berwudhu, nilai-nilai edukatif dari wudhu itu bukan hanya sekedar membersihkan anggota badan seperti, muka, tangan sampai kedua siku, kepala, telingan dan kaki, yang semestinya dilakukan oleh umat Islam setiap saat dan waktu minimal 5 kali sehari semalam pada waktu seseorang akan menjalankan sholat, tetapi wudhu juga mengandung dimensi kebersihan rohaniyah. hal inilah yang semestinya kita budayakan dalam kehidupan keseharian kita, bukan hanya sekedar kalau lagi marak virus corona setiap masuk kantor atau tempat umum harus dibersihkan tanggannya terlebih dahulu.
Untuk itu bagi kita dengan adanya musibah merebaknya virus corona tersebut marilah kita bermuhasabah (interopeksi diri, merenungkan apa yang terjadi selama ini dan kemudian kita mengambil hikmahnya). Musibah apapun yang ditimpakan oleh Allah kepada manusia sesungguhnya tergantung bagiamana kita sebagai hambanya dapat mengambil pelajaran tersebut.
Musibah sesungguhnya bagi setiap umat Islam yang diturunkan oleh Allah pastilah ada hikmah yang dapat di ambil sebagai pelajaran, tinggal bagaimana manusia dapat mensikapinya, karena musibah itu termasuk wabah corona itu dapat dikategorikan menjadi berbagai macam kreteria antara lain yaitu:
1. Musibah merupakan ujian kiemanan bagi orang-orang yang sholeh
Para nabi dan Rasul Allah telah diberikan ujian oleh Allah seperti penyakit yang ditimpakan kepada nabi Ayub, Nabi Ibrahim AS yang sampai umur tua tidak dikarunia keturunan, Nabi Nuh yang diuji anak dan istrinya menentang ajarannya. Maka cobaan dan musibah semacam ini adalah dalam rangka semakin mempertebal keimanan dan dalam rangka mengangkat derajtnya menuju ke arah yang lebih tinggi keimanannya, sebagai sebuah sebab diampuninya dosa dosa kita dan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.
Kalau kita renungkan Virus Corona itu adalah seperti debu yang sangat kecil yang bertebangan di alam ini yang ditiup angin kema mana, virus itu juga makhluk Allah dan semuanya juga dalam kendali Allah yang setiap saat dapat menciptakan dan mematikannya. Oleh karena itulah bagi orang-orang yang sholeh semuanya akan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah, dan mengembalikannya kepada kekuasaan Allah.
Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang artinya: “Katakanlah; tidak akan menimpa kami sekalian apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, Dialah pelindung kami dan hanyalah kepada Allah Orang-orang yang beriman harus bertawakal" (Q.S. At-Taubah : 51).
Dan di ayat lain Allah juga berfirman “Yaitu orang-orang yang apabila menimpa kepada mereka suatu musibah mereka berkata Sesungguhnya kita ini bersal dari Allah dan kita akan kembali kepada Allah" (Q.S. Al-Baqarah: 156). Untuk itu musibah hendaknya semakin memurnikan tauhid kita, mempertebal taubah kita dan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
2. Musibah juga bermakna teguran
Datangnya suatu musibah sesungguhnya bukan berarti Allah tidak sayang kepada hambanya, justru datangnya musibah itu Allah sayang kepada hambanya. Marilah kita pahami bahwa musibah apapun bentuknya apakah virus korona ataupun bencana lainnya bahwa sesungguhnya Allah telah menyolek kita agar kita segera kembali ke jalan yang benar sesuai dengan tuntunannya dalam semua hal. Barang kali kita selama ini tanpa kita sadari perilaku dan perbuatan kita telah menyimpang dari ketentuan Allah maka musibah hendaknya menyadarkan kembali kepad kita agar kita segera secepatnya kembali kepada tuntunannya.
Betapa Allah baru menrunkan makhluk nya yang sangat kecil kepada manusia, maka betapa pontang pantingnya manusia, mau keluar rumah takut, mau bersalaman takut, mau bekerja takut, betapa tidak nikmatnya hidup semacam ini, maka bagi kita sebelum kita ditegur oleh Allah dengan yang lebih besar marilah kita segera insyaf, barang kali kurangnya syukur kita terhadap nikmat Allah, barangkali karena kecongkaan manusia yang merasa sudah merasa paling hebat, maka secepatnya lah kita kembali kepada Allah dengan memperbanyak sholat dan beristigfar mendekatkan diri kita kepada Allah.
Semua itu barang kali terjadi karena ulah dan perilaku kita yang tidak terpuji, “Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar" (Q.S. Ar-Rum: 41).
4. Musibah juga bisa bermakna hukuman dan adzab
Disegarakannya hukuman dan azbab didunia ini barangkala disebabkan bahwa barangkala selama ini kita sebagai hambanya telah berbuat maksiyat yang sudah terlalu jauh dari ketentuan-ketentuan hukum Allah. Di masyarakat telah terjadi berbagai macam kezaliman, kemaksiatan, perzinahan yang terjadi di atas bumi ini lantas Allah menurunkakan azabnya. Seperti Firman Allah “Musibah yang menimpamu disebabkan oleh perbuatan tanganmu" (Q.S. Asyura: 30). Dan tatkala azab Allah SWT sudah turun maka azab tersebut bukan hanya dirasakan oleh orang yang berbuat maksiat saja akan tetapi juga akan dirasakan pula oleh orang orang yang soleh, orang-orang yang beriman.
Marilah kita memperbanyak munajat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT memberikan kesabaran kepada kita dalam menerima musibah virus corona yang sedang merawabah di sebagian negara kita dan semoga Allah SWT secepatnya memberikan jalan keluar yang terbaik untuk bangsa dan masyarakat kita.
Amiin Ya Robbal Alamiin
*Penulis Penghulu Madya KUA Kec. Arut Selatan Kab. Ktw. Barat



