Jakarta, bimasislam—Untuk meningkatkan kualitas dai sebagai agen perubahan dan penjaga moral bangsa, Majelis Ulama Indoensia (MUI) menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) Pusat Dakwah dan Pendidikan Akhlak Bangsa (PDPAB) Angkatan II. Kegiatan dilaksanakan di Menara 165 ESQ, Jl. Simatupang, Jakarta (26/5) hingga berakhir pada tanggal 30 Mei 2015.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin, mengatakan bahwa TOT ini diselenggarakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas para dai seluruh provinsi di Indonesia seiring dengan dinamikan umat yang semakin beragam.
“Selama ini, banyak dakwah dimana-mana. Tetapi banyak pula kerusakan di sana sini. Ini artinya dakwah kita kecil atsar (impact)nya atau low-impact, bahkan mungkin no-impact (tidak ada atsar sama sekali). Padahal kita telah melakukan dakwah bertahun-tahun. Sementara Nabi Muhammad saw hanya butuh 23 tahun untuk berdakwah, dan mampu merubah masyarakat Jahiliyyah menjadi khairu ummah. Ini ada sebuah lompatan besar sepanjang sejarah dunia”, tegas Ma’ruf.
Lebih lanjut, Ma’ruf juga menekankan bahwa kondisi tersebut harus direspon oleh MUI agar para dai dapat mewarnai dalam kehidupan masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan menggulirkan program dai bersertifikat, bukan sertifikasi dai.
“Dai bersertifikat dengan sertifikasi dai itu beda. Kalau dai bersertifikat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dai, baik pada level lokal, nasional, maupun internasional. Sedangkan sertifikasi dai bisa disalahgunakan, bahwa seakan-akan dai semua harus bersertifikat yang pada pelaksanaannya dapat menimbulkan masalah”, tandasnya.
Hal sama juga disampaikan oleh Ketua Panitia TOT, KH. Cholil Nafis. Dalam laporannya Nafis mengatakan bahwa TOT ini merupakan tahun kedua dilaksanakannya kegiatan ini. Tujuannya adalah untuk meninggkatkan wawasan para dai di bawah lingkungan MUI pusat dan daerah agar dapat menyampaikan kepada kelompok masyarakat.
“Di dalam masyarakat, setidaknya ada tiga kategori orang dalam kaitannya dengan paham keagamaan. Ada yang paham terhadap agama. Ada juga yang keliru paham. Serta ada yang tidak mau paham. Untuk kelompok kelompok pertama dan kedua menjadi domain para dai agar yang sudah paham dapat meningkat paham agamanya, dan yang keliru paham dapat diluruskan. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak mau paham menjadi wilayah MUI melalui ranah fatwa”, tandasnya.
Dalam catatan bimasislam, TOT diikuti oleh 100 peserta dari wakil MUI seluruh Indonesia, perwakilan Ormas Islam, dan Pondok Pesantren. Hadir dalam pembukaan tersebut dan pembicara adalah KH. Ma’ruf Amin, Yunahar Ilyas, Machasin, Dis Syamsuddin, Ari Ginajar, dan lain-lain. (thobib/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



