Jakarta, bimasislam—Ternyata tidak hanya kaum laki-laki Indonesia yang dikagumi oleh wanita luar negeri khususnya dari negeri sakura Jepang, wanita Indonesia juga mendapat kesan positif dari pandangan para kaum adam luar negeri. Setidaknya pandangan positif tersebut diungkapkan oleh salah seorang anggota delegasi Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, Thailand, Haji Hanafi bin Hasan ketika berkunjung ke kantor Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Jl. MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (25/9).
“Akhlak dan moral di Indonesia bagus dari segi wanitanya,”kata Hanafi dengan bahasa melayu yang bercampur dengan bahasa Thai.
Dalam pandangan mereka, lanjut Hanafi, kaum perempuan Indonesia terlihat sangat religi karena banyak yang memakai busana muslimah. Di samping itu, perempuan Indonesia juga mereka nilai sangat sukses dalam hal pendidikan terhadap anak-anakanya. Atas dasar penilaian tersebut, rombongan mereka tertarik bertukar pikiran dan pengalaman dengan Indonesia terkait masalah pemberdayaan perempuan, selain masalah lainnya seperti pengelolaan sertifikasi halal dan penanganan masalah pernikahan dan rujuk.
Sekretaris Ditjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, menanggapi wajar penilaian rombongan Majelis Agama Islam Wilayah Sonkhla tersebut terhadap perempuan muslim di Indonesia. Hal ini menurut Amin, karena perbedaan yang mencolok tentang jumlah penduduk muslim Indonesia dengan muslim di Thailand.
“Kalau di Indonesia kan, dari 285 juta penduduk Indonesia, 83,7 persen atau sekitar 140 juta penduduk di antaranya merupakan umat Islam. Jadi, wajar saja apabila mereka melihat banyak perempuan yang memakai jilbab di sini. Ini tentu berbeda dengan Thailand,”ucap Amin.
Direktur Penerangan Agama Islam Euis Sri Mulyani menambahkan, kekaguman orang luar terhadap wanita Islam Indonesia tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama yang memiliki program pemberdayaan dan pembinaan perempuan muslim melalui wadah ormas Islam dan majelis taklim.
Euis menyebutkan, jumlah majelis taklim di Indonesia mencapai 91.000 kelompok, dimana majelis taklim ini merupakan binaan dari ormas Islam seperti Muslimat NU, Fatayat NU, BKMT, Aisyiyah, dan FKMT. Dengan jumlah sebanyak ini tentu sangat strategis dalam membina akhlak kaum perempuan dan anak-anak.
“Dan kami (pemerintah-red) bersama ormas Islam sudah me-launching Asosiasi Majelis Taklim Indonesia (AMTI) pada awal tahun 2012, dimana ketua umumnya adalah Prof. Dr. Hj. Tuty Alawiyah,”kata Euis.
Dalam kaitannya kerjasama yang dibangun dengan Majelis Agama Islam Thailand, Euis mengatakan, pada tahun 2015 Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Islam akan mengikutsertakan perwakilan dari Thailand untuk mengikuti kegiatan Pembibitan Calon Da’i Muda di Indonesia.
Sekitar 30 orang delegasi Majelis Agama Islam Wilayah Songkhla, Thailand berkunjung ke Ditjen Bimas Islam untuk melakukan studi banding tentang pengelolaan sertifikasi halal, pernikahan, pemberdayaan dan organisasi perempuan, sejarah Syeikh Abdus Shamad Al-Falembani (penulis Kitab Hidayatus Salikhin), serta pengaturan terkait Agama Islam di Indonesia. Setelah mendapat penjelasan yang memadai dari sejumlah pejabat Ditjen Bimas Islam, rombongan yang dipimpin Tuan Guru H. Abdul Wahab ini menerima kenang-kenangan berupa plakat penghargaan dan buku-buku terkait kebimasislaman. (insanpane-syamsuddin/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



