Jakarta, bimasislam— Hari Sabtu (9/8) kemarin Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama mengadakan “Pertemuan Silaturrahim Menteri Agama dengan Pimpinan Ormas Islam” sekaligus “Seminar Nasional Fenomena ISIS bagi NKRI dan Islam Rahmatan Lil Álamin”. Acara yang diadakan di Gedung HM. Rasjidi Kemenag Thamrin ini diikuti oleh beberapa perwakilan Ormas Islam, semua pejabat eselon 1 dan 2 di Kemenag Pusat dan Kepala-kepala Kemenag Provinsi se-Indonesia.
Selain Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin dan Ketua MUI Pusat Din Syamsuddin, hadir dalam sesi kedua pertemuan ini Kepala BNPT Ansyaad Mbai dan Perwakilan Kapolri. Dalam arahannya, Ansyaad menegaskan, “Kesalahan penanggulangan teroris di Indonesia sejauh ini yaitu anggapan bahwa musuh mereka hanya polisi. Padahal, semestinya semua elemen masyarakat juga menjadi musuh mereka, termasuk ISIS”.
Kami sangat berharap peran para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat untuk membendung dan menanggulangi gerakan radikalisme ini. Itulah yang kami lakukan akhir-akhir ini, ungkapnya di hadapan 200 peserta yang memadati gedung pertemuan. Faktor utama penyebab sikap radikalisme, jelasnya merujuk pendapat Syekh Naji Ibrahim dan Syekh Ali Halabi, adalah faham tentang Takfiri (pengkafiran) dan pemahaman yang ekstrim tentang Jihad.
Seakan menguatkan pendapat Kepala BNPT, Komjen Suparni mewakili Kapolri menjelaskan kecemasan yang sama tentang gerakan ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) ini. Menurut laporan Polri, pergerakan militer organisasi yang baru dideklarasikan 9 April 2013 ini sudah sangat mengkhawatirkan. Perjuangannya berdasarkan pemahaman yang ekstrim, seperti: (1) melegalkan Faí (merampas harta orang yang dianggap kafir); (2) Deklarasi kekhalifahan akan bergerak membabi buta; (3) Yang tidak setuju baiát ISIS darahnya halal; (4) Para Mujahid yang tidak ikut baiát ISIS dianggap Munafiq.
Selain itu, dalam pantauan Polri, organisasi pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi (40 tahun) -- seorang Doktor Ahli Ideologi Universitas Sains Islam Baghdad -- ini sudah menunjukkan sepak terjang yang sangat mengkhawatirkan. Pada bulan Juni 2014, mereka telah mengeksekusi 13 Ulama Sunni dan menghancurkan Situs Makam Nabi Yunus di Mosul. Fenomena ini harus diwaspadai, ingat Suparni, karena sudah mulai berkembang di beberapa daerah di Indonesia, yang petanya tersebar di Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat, dalam bentuk deklarasi, baiát, juga penggalangan dana dan pengiriman para mujahid. (edijun/foto:sumutpos)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



