Semarang, Bimas Islam --- Malam ini, panggung penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 tak hanya berbicara melalui lantunan ayat suci. Serangkaian tarian yang diberi judul Mutiara Tanah Jawa membuka seremoni penutupan MTQ Nasional 2026, seperti ikut bercerita melalui gerak, hentakan kaki, warna-warni kostum, dan ratusan penari yang memenuhi arena.
Satu demi satu, mutiara seni dari tanah Jawa hadir di Lapangan Pancasila, Simpang Lima. Tari Lengger membuka parade dalam penutupan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026. Gerak para penarinya mengalir, membawa jejak tradisi yang telah hidup lintas generasi.
Selepas Lengger, irama berubah. Tari Jaran Kepang hadir dengan gerak yang lebih dinamis. Para penari bergerak nyaris serempak, memperlihatkan kekompakan dan kesatuan. Hentakan demi hentakan menjadikan panggung penutupan MTQ seolah berubah menjadi hamparan besar tempat tradisi Jawa kembali dituturkan.
Lalu Barongan mengambil ruang. Tarian ini menghadirkan karakter masyarakat Jawa yang kuat, kompak, dinamis, sekaligus selaras. Di dalamnya tersimpan gambaran tentang tekad dan keberanian, serta hubungan manusia dengan alam dan tradisi yang terus dijaga.
Nuansa pertunjukan kemudian bergeser. Seni tari tradisional bernapaskan Islam turut hadir. Rudat, nama tarian yang membawa pesan bahwa agama dan kebudayaan tak selalu berjalan pada lorong yang berbeda. Keduanya dapat bertemu dalam gerak, irama, dan nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Suasana semakin hidup ketika penari-penari cilik berlarian memasuki arena. Dengan gerak lincah dan kostum yang mencuri perhatian, mereka membawakan Tari Topeng Ireng.
Di balik kegembiraan geraknya, Topeng Ireng menyimpan pesan tentang keteguhan dalam kebaikan, kedisiplinan, dan ketekunan. Sebuah nilai sederhana yang menemukan tempatnya di panggung MTQ bahwa mencintai tradisi juga berarti menjaga nilai-nilai luhur yang hidup di dalamnya.
Warak Dugder, Perkenalkan Wajah Semarang
Dari berbagai khazanah budaya Jawa yang ditampilkan, Semarang kemudian memperkenalkan dirinya.Tari Warak Dugder hadir dengan warna merah yang menyala. Warak Ngendog, ikon tradisi Dugderan, diarak para penari di tengah arena. Unsur Jawa, Arab, dan Tionghoa bertemu dalam satu pertunjukan, menggambarkan perjumpaan berbagai etnis yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Semarang.
Tradisi Dugderan sendiri lekat dengan masyarakat Semarang dalam menyambut datangnya Ramadan. Karena itu, kemunculannya pada malam penutupan MTQ terasa lebih dari sekadar pertunjukan.
Ia membawa cerita tentang sebuah kota yang tumbuh dari perjumpaan.
Tentang perbedaan yang tidak harus dihapus untuk melahirkan kebersamaan.
Tentang agama yang hadir berdampingan dengan tradisi dan kebudayaan masyarakat.
Semakin malam, panggung semakin penuh. Ratusan penari dari berbagai kelompok kembali berkumpul di tengah arena. Batas antara panggung dan penonton perlahan menghilang ketika pertunjukan berujung pada flashmob bersama.
Gerak menjadi lebih sederhana. Suasana menjadi lebih cair. Masyarakat ikut larut dalam kegembiraan. Pada titik itu, penutupan MTQ Nasional XXXI tak lagi hanya menjadi sebuah seremoni.
Ia berubah menjadi perayaan kebersamaan. Dari Lengger, Jaran Kepang, Barongan, Topeng Ireng, hingga Warak Dugder, setiap gerak seperti membawa potongan cerita yang berbeda. Namun semuanya bermuara pada pesan yang sama: kekuatan tradisi, harmoni, keberagaman, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Selama penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026, Semarang menjadi tempat ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan, dihafalkan, ditafsirkan, ditulis, dan dipahami melalui berbagai cabang musabaqah.
Malam penutupan memberi satu bahasa tambahan. Bahasa itu bernama kebudayaan. Dan ketika ratusan penari bergerak bersama di tengah arena, mutiara-mutiara tanah Jawa seakan menyampaikan salam perpisahan kepada MTQ Nasional 2026. Al-Qur’an telah diperlombakan, tetapi nilai-nilainya harus terus dihidupkan dalam harmoni kehidupan.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



