Bandung, bimasislam— “Kejujuran dan keikhlasan harus menjadi prinsip utama bagi siapapun yang terlibat dalam pengelolaan keuangan”, demikian ditegaskan Mantan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberikan materi dalam “Rekonsiliasi Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Barang Milik Negara (BMN) Pusat dan Daerah Tahun 2014” yang diadakan oleh Bagian Keuangan Sekretariat Ditjen Bimas Islam hari Selasa (21/10) lalu. Baginya, sikap mental itu lebih utama dibandingkan kecerdasan dan keterampilan seseorang dalam mengelola keuangan.
Dengan kejujuran dan keikhlasan, pengelolaan keuangan akan berada pada jalurnya (on the track), terhindar dari penyimpangan dan manipulasi, sehingga instansinya pun tetap sehat dan terjaga dari kebangkrutan. Sikap mental ini, menurutnya, lahir dari seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual bukan hanya kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.
Kita bisa belajar dari sebuah perusahaan otomotif dunia, yang pada satu kesempatan mengirimkan sebagian pegawainya untuk mengikuti pelatihan di Jepang dan sebagian lagi ke India selama 3 bulan, cerita Nasar. Di Jepang mereka mengikuti pelatihan manajemen modern, sedangkan sebagian lainnya di India mengikuti meditasi untuk pengembangan kepribadian. Namun apa yang terjadi setelah mereka kembali ke perusahaan? Ternyata, SDM yang mengikuti meditasi di India lebih mampu memberikan peran signifikan kepada perusahaan, daripada sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual yang didapatkan di India lebih signifikan daripada kemampuan manajemen yang didapat di Jepang.
Dengan kecerdasan spiritual, seseorang mampu berbuat secara jujur dan ikhlas, imbuh Rektor PTIQ ini. Orang yang cerdas secara spiritual tidak akan membatasi dan menilai dirinya dengan nominal angka-angka dan waktu. Ia akan mendedikasikan dirinya untuk perusahaan, atau niat ibadah kepada Tuhannya demi kebaikan perusahaan. Ia merasa memiliki perusahaan dan mencintai pekerjaannya. Ia merasa bertanggung jawab atas maju-mundurnya perusahaan. Itulah yang diharapkan dari SDM Keuangan yang dimiliki Kementerian Agama, jelas Nasar di hadapan 70 orang peserta dari perwakilan Kanwil Kemenag se-Indonesia.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kegiatan rutin Bagian Keuangan ini diadakan dari tanggal 20 sampai 22 Oktober 2014. Bertempat di Hotel Savoy Homann Bidakara Kota Bandung, Jawa Barat, kegiatan ini dikomandoi oleh Kabag Keuangan Ditjen Bimas Islam Kemenag RI , Nur Afwa Sofia. Kegiatan terpantau berjalan lancar dan sangat dinamis. Segala hal yang masih jadi persoalan di unit masing-masing dituntaskan dan dicarikan solusinya konsultasi dengan Karo Keuangan Kemenag Syihabuddin. Sampai-sampai, acara penutupan dilaksanakan begitu larut malam jam 23.00 Wib oleh Karo Keuangan seusai memberikan materi. (edijun/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



