Semarang, Bimas Islam — Seniman dan budayawan Islam, Gus Aniq, menyampaikan, manusia terbaik adalah mereka yang meneladani sifat-sifat Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu ia sampaikan dalam acara Ngaji Budaya: Haflah Mawlid Rasul yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di UIN Semarang, Kamis (2/10/2025).
“Manusia yang terbaik itu seperti Kanjeng Nabi. Kalau kita ingin jadi orang baik, mengapa tidak kita bercermin kepada beliau, belajar kepada beliau,” ujar Gus Aniq.
Ngaji Budaya yang merupakan rangkaian program Blissful Mawlid itu menggabungkan seni musik, puisi, dan nuansa keagamaan. Dalam acara tersebut, Gus Aniq mengajak masyarakat untuk menjadikan kehidupan Nabi Muhammad sebagai cermin pembentukan karakter dan moral umat masa kini.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan pedoman hidup yang relevan sepanjang zaman.
Ia juga membahas fenomena generasi muda, terutama Gen Z, yang kerap membahas cara menjadi versi terbaik diri mereka. Menurutnya, pencarian tersebut akan menemukan jawaban jika diarahkan pada keteladanan Nabi Muhammad yang penuh kasih sayang, rendah hati, dan menjunjung tinggi keadilan.
Gus Aniq menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai luhur Rasulullah ke dalam diri setiap muslim. Ia mengingatkan bahwa sifat Nabi bukan hanya untuk dipuji, tetapi juga untuk dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Gus Aniq turut mengisahkan momen menjelang wafat Nabi Muhammad, ketika beliau masih mengucapkan, “Ummati, ummati, ummati,” yang berarti “umatku, umatku, umatku.” Menurutnya, kisah tersebut mencerminkan betapa besar cinta nabi kepada umatnya hingga akhir hayat.
“Cinta nabi itu sudah fix, sudah paten. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita membalas cintanya beliau dengan kecintaan yang diwujudkan dalam perbuatan,” ujarnya.
Ia juga menceritakan kisah ketika Rasulullah memandang cakrawala hingga membuat para sahabat bertanya. Saat itu Nabi mengatakan, beliau membayangkan bertemu dengan ikhwani—orang-orang beriman yang tidak pernah bertemu langsung dengannya.
Bagi Gus Aniq, pernyataan itu menunjukkan cinta Rasulullah yang melampaui ruang dan waktu, mencakup generasi umat Islam hingga 15 abad setelah beliau. Cinta tersebut seharusnya menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk membalasnya dengan meneladani akhlak mulia nabi.
Sebagai penutup, Gus Aniq menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diungkapkan lewat kata-kata. “Menjadi manusia terbaik artinya menghidupkan sifat-sifat Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Acara Ngaji Budaya tersebut diikuti 1.000 peserta. Turut hadir, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad, Plt. Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi, serta Kepala Subdirektorat Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam Wida Sukmawati.
Fn/Mr



