Yogyakarta, Bimas Islam — Budayawan sekaligus vokalis grup musik Letto, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe), memaparkan bagaimana harmoni dalam musik dapat menjadi cermin sekaligus inspirasi bagi pembangunan harmoni sosial di tengah masyarakat Indonesia. Pemaparannya disampaikan di hadapan ribuan peserta dalam gelaran Ngaji Budaya Yogyakarta.
Noe membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana yang mengundang perhatian peserta, yakni “Apa yang membuat sebuah lagu terdengar enak?” Ia menjelaskan bahwa harmoni dalam musik tercipta ketika beberapa nada yang berbeda dibunyikan bersamaan.
“Harmoni adalah ketika beberapa nada dibunyikan sekaligus. Kalau nadanya sama, itu namanya unison,” ujarnya.
Ia menjelaskan setiap nada memiliki karakter yang melahirkan rasa berbeda, seperti mayor yang terkesan gagah atau minor yang lebih romantis. Namun harmoni dapat berubah sumbang jika komposisinya keliru. Menurut Noe, prinsip tersebut paralel dengan kehidupan sosial.
“Di sinilah namanya toleransi, menjalin antar-nada yang berbeda sehingga muncul suara yang enak bersama-sama,” jelasnya.
Lebih jauh, Noe menggambarkan keberagaman masyarakat Indonesia layaknya tujuh nada dasar musik. Semua nada sudah tersedia, tetapi cara memadukannya menentukan keindahan yang muncul. Jika kolaborasi dilakukan dengan pola yang tepat, harmoni sosial terwujud. Sebaliknya, kesalahan pola dapat menciptakan suasana “sember”, baik dalam musik maupun kehidupan bermasyarakat.
Dalam kesempatan itu, ia mengaitkan konsep musik dengan nilai-nilai kebangsaan. Noe mengutip pandangan Bung Karno bahwa inti dari Pancasila adalah gotong royong.
“Gimana kita bisa menjalin harmoni satu sama lain dalam rangka gotong royong, dalam rangka memecahkan masalah bersama,” katanya.
Menurutnya, gotong royong merupakan warisan luar biasa untuk menjaga keberagaman Indonesia tetap menyatu.
Noe juga menautkan nilai harmoni dengan ajaran Islam yang menekankan manfaat bagi sesama. Ia menegaskan bahwa membangun harmoni sosial tidak cukup berhenti pada perdebatan benar–salah, tetapi harus diarahkan pada kolaborasi demi kemaslahatan bersama.
“Kalau hanya debat benar-salah, ending-nya ribut. Tapi kalau demi kebersamaan, pulangnya membawa senyuman,” tuturnya.
Menutup sesi, Noe mengajak masyarakat menjaga wonder of harmony mulai dari hal sederhana: senyuman. Senyuman, menurutnya, adalah perangkat awal untuk membangun keharmonisan dalam keluarga, lingkungan, hingga hubungan sosial yang lebih luas.
Fn/Mr



