Oleh:
Dedi Slamet Riyadi*
Dedi Slamet Riyadi*
Belajar Islam harus ditempuh secara sistematis dan terstruktur. Sama halnya, belajar tasawuf juga harus ditempuh secara sistematis dan terstruktur. Tidak bisa seseorang begitu saja mempelajari tasawuf tanpa memiliki pengetahuan tentang iman dan Islam. Sebab tasawuf merupakan tahapan lanjut setelah seseorang beriman dan berislam. Seseorang disebut mukmin ketika ia yakin dan percaya. Kemudian orang yang merealisasikan keimanannya disebut Muslim atau orang yang berislam. Dan tahapan berikutnya adalah ihsan, orang yang memperbaiki laku dan caranya beribadah atau menyembah kepada Allah.
Konsep pembelajaran Islam yang sistematis itu dicontohkan sendiri oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabatnya, ketika mereka belajar tentang Islam, iman, dan ihsan. Kisah tentang pembelajaran itu tercatat dalam sebuah Hadis Shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang sangat populer. Diriwayatkan bahwa malaikat Jibril datang dalam rupa seorang laki-laki pejalan atau pengembara kemudian duduk berhadapan dengan Rasulullah dan keduanya terlibat dalam dialog yang intens tentang Islam, iman, dan ihsan. Konsep yang terakhir, yaitu ihsan, kerap menjadi dasar dan rujukan bagi para salik atau para ahli tarekat. Jibril a.s. berkata kepada Rasulullah Saw., “Jelaskan kepadaku, apa yang dimaksud dengan ihsan?” dan Rasulullah Saw. menjawab, “Engkau beribadah (menyembah) Allah seakan-akan kau melihat Dia. Jika kau tidak bisa melihat Dia maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Tahapan ihsan ini terbagi ke dalam empat maqam (tingkatan), yaitu orang yang beribadah karena Allah melihatnya sehingga ibadah dan segala laku ketaatannya itu didasari oleh rasa takut sebab Allah senantiasa melihat dan memperhatikannya. Ia beribadah didasari oleh rasa takut dan harap bahwa Allah senantiasa melihatnya sehingga ia takut akan murka Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya. Ini adalah tingkatan ihsan yang paling rendah. Maqam berikutnya adalah maqam ka’anna atau maqam seolah-olah. Maqam ini ditempati oleh orang-orang yang beribadah dengan kesadaran seakan-akan dia melihat Allah. Tingkatan atau maqam ini meniscayakan adanya intensi atau niat bahwa semua ibadah dan laku ketaatannya dilakukan karena Allah, karena dia ingin melihat-Nya, meskipun ia belum mencapai tingkatan mukasyafah apalagi musyahadah. Maqam yang ketiga adalah maqam annaka atau maqam benar-benar melihat Allah.
Pada tingkatan ini, seorang hamba atau salik beribadah kepada Allah karena ia benar-benar melihat Allah. Ia beribadah karena menyadari dan menyaksikan Allah di mana pun ia berada, fa aynamâ tuwallû fatsamma wajh llâh. Ke mana pun ia berpaling, ia melihat Allah. Ketika seorang hamba memiliki kesadaran bahwa ia melihat Allah di mana saja ia berada maka ia akan sepenuhnya beribadah karena Allah, bukan karena yang lain. Ia akan melihat semua keberadaan makhluk sebagai wujud Allah. Ia tidak lagi melihat keragaman dan perbedaan. Ia melihat ketunggalan dan asal yang satu. Sama seperti kita saat ini yang melihat jamaah majelis dengan pakaian yang beragam. Ada yang mengenakan setelan jas, ada yang memakai baju koko, ada yang memaki seragam, ibu-ibu memakai mukena, dan seterusnya. Kita menyaksikan semuanya beragam dan berbeda. Padahal, jika diurai, semua keragaman dan keberbedaan itu berasal dari satu. Semua ragam pakaian itu berasal dari cotton, qathn, atau kapas yang kemudian dipintal menjadi kain, diwarnai, dan diolah menjadi aneka ragam pakaian. Lebih jauh lagi, semua benda yang kita lihat, sesungguhnya berasal dari satu, yaitu tanah, dan jika tanah diurai lebih jauh lagi, kita sampai pada partikel terkecil, yaitu atom. Bahkan, partikel terkecil ini pun terdiri atas tiga unsur yang berbeda, proton, neutron, dan elektron. Dan akhirnya, segala sesuatu bermula dari yang satu: innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn. Segala sesuatu bermula dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Maqam keempat dari tahapan ihsan adalah ittihâd, bersatunya hamba dengan Allah. Penjelasan tentang maqam ini membutuhkan waktu yang lebih luas. Ayat Al-Qur'an yang kerap dikutip untuk menjelaskan maqam ini adalah surah al-Anfal ayat 17: wa mā ramaita iż ramaita wa lākinallāha ramā dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar. Juga ada satu hadis qudsi terkenal yang bertutur tentang amal nafilah, yakni ketika seorang hamba benar-benar mencintai Allah dan kemudian Allah mencintainya maka “(Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya.”
Seorang hamba yang telah mencapai maqam ihsan, meskipun pada tingkatan yang paling rendah, yaitu tingkatan beribadah karena Allah melihatnya, akan senantiasa berbuat baik kepada siapa pun. Sebab, ia meyakini bahwa Allah senantiasa melihat dirinya, menyaksikan segala perbuatannya, dan mengawasi semua pergerakan hatinya. Ia tidak akan menyakiti orang lain karena menyadari bahwa semua adalah makhluk Allah. Jika ia menyakiti makhluk Allah maka ia takut Allah akan murka kepadanya karena Dia melihat perbuatannya. Dia juga akan berprasangka baik kepada Allah, karena menyadari semua yang terjadi atas dirinya merupakan kehendak Allah. Konsekuensinya, ia akan senantiasa bersyukur kepada Allah dalam keadaan apa pun. Bahkan, ketika ditempatkan dalam keadaan yang buruk menurut pandangan manusia, ia akan memuji dan bersyukur kepada Allah. Orang yang memuji dan bersyukur kebaikan itu biasa. Yang luar biasa adalah orang yang memuji dan bersyukur ketika mendapati keburukan. Termasuk juga dalam urusan jabatan. Orang yang ihsan akan bersyukur ditempatkan dalam kedudukan atau jabatan apa pun.
(Disarikan dari materi "Ngaji Tasawuf bersama Menag", 22 Januari 2025)
*Kepala Subdirektorat Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Keagamaan
*Kepala Subdirektorat Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Keagamaan



