Pembawaannya kalem, sejuk, dan sangat ramah. Dari penampilan dan caranya berbicara, terlihat betul kepribadian santrinya. "Masih banyak tokoh-tokoh lain yang lebih hebat, koq malah saya," katanya merendah saat bimasislam menyambangi ruang kerjanya di Gedung Kementerian Agama, lantai 7, Jakarta. Di pundaknya, tanggung jawab besar mengenai hal ihwal hisab rukyat yang berimplikasi pada lebih dari 230 juta umat Islam di negeri ini diemban. Bayangkan, penetapan jadwal shalat, penetapan satu Ramadhan dan hari raya, serta presisi arah kiblat untuk masjid dan mushalla berada dalam tanggungjawabnya. Belum lagi, pelayanan konsultasi syariah seperti perkara mawaris (pembagian harta waris), dan berbagai macam perkara syariah yang tidak dicover oleh direktorat atau subdit lain di Bimas Islam.
Saat berbincang dengan bimasislam, Nur Kazin, Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat, memahami demikian berat amanah yang dipercayakan kepadanya. “Saya bahkan tak pernah bermimpi, tak pernah berharap, bahkan ada keinginan pun tidak untuk memikul amanah ini”, katanya.
Dilahirkan tanggal 26 Maret 1966, ayah dua anak ini sempat mengeyam pendidikan di pondok pesantren al-Ma'unah, Plaosan, Purworejo. Di pondok pesantren inilah ia tekun mendalami ilmu falak di bawah bimbingan KH. Banaji Aqil, pakar ilmu falak yang merupakan murid langsung pendiri Nahdhatul Ulama, Hadhratusyaikh KH.Hasyim Asy'ary. Awalnya ia mengaku tak tertarik mempelajari ilmu hitung yang sudah akrab didalami oleh para ulama klasik itu, tetapi setelah didalami rupanya muncul ketertarikan tersendiri. Dengan latar belakang ilmu falak yang dimilikinya, jabatan sebagai penangungjawab hal ihwal hisab rukyat dan pembinaan syariah adalah contoh terbaik dari adagium right man on the right place.
Kazin bercerita, pondok pesantren tempat ia menimba ilmu memberikan model pendidikan yang ketat dan cukup keras. “Jika hendak mengajar ilmu tajwid, di pondok itu pak kyai sudah memegang sebatang jari-jari sepeda yang sudah dilepas dari rangkaiannya. Benda yang serupa lidi besi itu dipakai untuk memukul santri yang keliru saat membaca al-Quran. Saya sendiri sempat kena jepretan lidi besi itu beberapa kali.. hehe..” kenangnya.
Cara mendidik seperti itu diakuinya sebagai metode lama, akan tetapi model pendidikan tersebut diakuinya sangat berpengaruh pada sikap dan akhlaknya di kemudian hari. “Kalau zaman sekarang mungkin gurunya sudah dilaporkan ke KPAI(Komisi Perlindungan Anak Indonesia -red) karena dianggap terlalu keras”, selorohnya.
Saat disinggung mengenai fenomena keberagamaan yang kerap terjadi di Indonesia, ayah dari dua putra alumni Pondok Pesantren Qatrunnada, Depok, itu mengatakan bahwa tantangan hari-hari ini nampak lebih berat, terlebih di era sosial media dimana isu-isu yang bertendensi agama acapkali menyebar dengan sangat cepat. “Apalagi melalui whatsapp, isu-isu menyebar cepat sekali”. Broadcast atau penyebaran informasi massal yang kadang-kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu tidak jarang memunculkan kegaduhan, bahkan melahirkan sikap ekstrem di dalam beragama. Isu itu menyebar cepat karena membawa tendensi agama sehingga orang-orang merasa perlu ikut menyebarkannya. Sayangnya banyak yang tidak melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Hisab Rukyat, Tanggungjawab Berat
Salah satu pekerjaan yang cukup berat pada subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat adalah penetapan Jadwal Shalat dan Sidang Itsbat penetapan awal Ramadhan dan hari raya. Di tengah era kemajuan teknologi seperti saat ini, masyarakat acapkali melihat jadwal shalat secara online melalui berbagai layanan yang ada di dunia maya. Terkadang, jadwal shalat yang tertera pada layanan itu lebih cepat beberapa menit dari yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. menanggapi fenomena ini, Nur Kazin mengatakan bahwa toleransi yang diberikan kemenag adalah sekitar satu atau dua menit dari awal masuk waktu shalat. Ini adalah bagian dari kehati-hatian. “Jika dalam layanan android ada yang menetapkan jadwal shalat lebih awal sekitar dua menit, jangan dibesar-besarkan. Insya Allah itu masuk dalam zona toleransi, akan tetapi tentu kita berharap layanan-layanan semacam itu merujuk kepada instansi yang otoritaif, yaitu Kementerian Agama. Sebab kita khawatir, ada orang yang shalat padahal belum masuk pada waktunya. Sekalipun, bisa jadi waktu sekitar 2-3 menit akan habis saat berwudhu dan berjalan menuju masjid atau mushalla.” Terangnya.
Disinggung mengenai Sidang Itsbat Penetapan Awal Ramadhan yang sebentar lagi akan digelar Kementerian Agama, Nur Kazin mengatakan semoga tidak ada perbedaan awal Ramadhan. Menteri Agama sendiri, tutur Kazin, sudah berkunjung ke PP Muhammadiyah dan juga PBNU, “Semoga kita bisa berbarengan mengawali puasa”, harapnya.
Pria yang telah mengabdi sebagai PNS sejak 1987 itu mengatakan, hingga tahun 2021, insya Allah kita akan mengawali puasa dan berlebaran Syawal secara bersamaan. Sebab, katanya, visibilitas imkanur rukyah pada tahun-tahun tersebut telah memenuhi syarat, baik bagi yang memegang prinsip rukyatul hilal, apalagi tentu saja kelompok yang berpegang kepada hisab wujud al-hilal. “Semoga selepas tahun 2021 juga tidak ada perbedaan lagi, karena sampai tahun 2021 ini masih ada waktu cukup panjang untuk saling berkoordinasi mencari kesepakatan-kesepakatan. Sehingga di tahun-tahun mendatang diharapkan kita bisa mengawali Ramadhan dan Idul Fitri bersama-sama,” harapnya.
Menutup perbincangan dengan bimasislam, Kasubdit yang dilantik pada 30 Januari 2015 lalu berpesan kepada pengelola masjid dan mushalla di wilayah Jabodetabek yang ingin memverifikasi arah kiblat dapat meminta bantuan kepada subdit yg dipimpinnya, dengan melayangkan surat kepada Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama, perihal verifikasi arah kiblat. Berikutnya ia akan mengirim tim ahli dengan perlengkapan yang memadai seperti teodolit, kompas, GPS dan lain sebagainya untuk mengukur arah kiblat di lokasi masjid/mushalla bersangkutan. Pelayanan ini sama sekali tidak dipungut biaya. "Saya tegaskan kepada teman-teman di kantor, jangan sekali-kali memungut biaya dalam pelayanan pengukuran arah kiblat. Ini tegas!" Pungkasnya. (ska/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



