Oleh:
M. Fuad Nasar*
Hari ini, Senin (6/10/2025), pukul 04:33 WIB di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta telah berpulang ke rahmatullah Ny. Hj. Karlinah Umar Wirahadikusumah Binti Djajaatmaja, dalam usia 95 tahun. Karlinah adalah istri dari Wakil Presiden ke-4 Republik Indonesia periode 1983 – 1988 almarhum Jenderal TNI (Purn) H. Umar Wirahadikusumah. Karlinah adalah tokoh di balik lahirnya Masjid Raya Bani Umar dan Wakaf Bani Umar di Bintaro, Tangerang Selatan.
Herry Gendut Janarto dalam buku Karlinah Umar Wirahadikusumah Bukan Sekadar Istri Prajurit (2010) menggambarkan Karlinah yang lahir di Bandung 30 Juli 1930 merupakan pribadi yang mandiri, menapak maju, gemar bekerja keras, serta aktif dalam berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Semasa muda pernah berprofesi sebagai guru SMP dan SMA.
Karlinah adalah pendiri Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan aktif sebagai Ketua Umum tahun 1978 hingga 1996. Ia menaruh perhatian pada anak-anak berkebutuhan khusus dan bersama Dr. dr. Atie W. Soekandar mendirikan Yayasan Pantara tahun 1996. Yayasan yang mengusung motto “mendidik dengan hati” membuka sekolah inklusi untuk menangani anak-anak dengan kesulitan belajar, di Duren Sawit Jakarta Timur.
Dalam kata sambutan selaku Ketua Pembina Yayasan Pantara pada media publikasinya Ny. Karlina Umar Wirahadikusumah menyampaikan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Kita sebagai orang tua dan orang-orang terdekat anak harus memahami apa hambatan yang dialami anak dan apa penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Karena setiap anak dan individu berhak mendapatkan pendidikan untuk meraih cita citanya, untuk membangun kemandiriannya dan meraih kehidupan yang lebih baik dalam masyarakat.
Yayasan Pantara memulai kegiatannya sejak tahun 1994 dengan mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru-guru Sekolah Dasar dan SLB di 27 Propinsi. Kemudian mendirikan Sekolah Dasar Khusus, dan Pusat Penanganan Terpadu Pantara terdiri dari Layanan Psikologi/Asesmen, TK Pantara, SDS Pantara, PKBM Pantara, serta Pusat Terapi Pantara.
Karlinah juga diserahi amanah sebagai Ketua Umum Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Ketua Persit Kartika Chandra Kirana dan kegiatan lainnya.
Kiprahnya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan tidak surut walau suaminya sudah kembali menjadi rakyat biasa. Perempuan cerdas berjiwa sosial dan memiliki bakat kepemimpinan itu eksis sebagai sosok yang menginspirasi bangsa hingga usia senja. Ia berkhidmat melalui berbagai wadah pengabdian yang bermanfaat bagi orang banyak, dedikasi tanpa batas.
Suami Karlinah, Umar Wirahadikusumah, wafat 21 Maret 2003, pernah menjabat Panglima Kodam V Jaya yang pertama, Panglima Kostrad ke-2 setelah Jenderal Soeharto, Wakasad dan Kepala Staf Angkatan Darat (1969 – 1973). Sejarah mencatat peran luar biasa Umar Wirahadikusumah sebagai Panglima Daerah Militer Jaya di tengah pusaran situasi krisis akibat pengkhianatan G-30-S/PKI tahun 1965. Umar Wirahadikusumah bersama unsur pimpinan TNI-AD yang setia dengan Pancasila dan UUD 1945 ambil bagian dalam menumpas Gerakan 30 September 1965 dan mengawal tindak lanjut keputusan pembubaran Partai Komunis Indonesia. Pangdam Jaya memiliki tanggungjawab memulihkan situasi keamanan Ibukota Jakarta dalam tempo singkat.
Dalam pengabdian di luar lingkungan militer, Umar Wirahadikusumah diangkat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masa jabatan 1973 – 1983, dan terakhir Wakil Presiden ke-4 Republik Indonesia masa jabatan 1983 – 1988, setelah periode H. Adam Malik dan sebelum Sudharmono, SH.
Umar Wirahadikusumah adalah prajurit pejuang dan negarawan yang teguh dengan karakternya dan berintegritas. Sosok yang tidak banyak bicara dan tidak mementingkan popularitas itu didukung oleh Ibu Karlinah, sang pendamping setia yang memiliki prinsip hidup sama dalam menjalankan nilai-nilai moral, kesederhanaan, kejujuran dan kesetiaan pada kebenaran.
Pak Umar dikenang dalam bukunya “Menegakkan Kebenaran Dalam Diam” (2006), sedangkan Ibu Umar, bukan sekadar istri prajurit dan istri pejabat. Ia saksi sejarah, pendamping dan penyemangat kehidupan Pak Umar sampai akhir hayat. Walau pun suaminya seorang Jenderal, Panglima, dan Wakil Presiden, di mata masyarakat, ia tetap seorang ibu yang tampil sederhana, rendah hati dan jauh dari gaya hidup mewah dan hedonis. Sepanjang hidupnya Karlinah Umar Wirahadikusumah mampu menjaga harkat, martabat dan jati diri sebagai perempuan Indonesia dan muslimah yang baik.
Dalam sorotan media sekian dekade lalu tentang sosok Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah diceritakan, ia selalu berpakaian rapi, berkain dan berkebaya dengan sanggul dan selendang yang serasi, Ibu Umar, termasuk istri pejabat tinggi yang sibuk. Tetapi, ia selalu menganjurkan, sesibuk-sibuknya seorang ibu, harus tetap memperhatikan keluarga. "Mencampakkan kewajiban kodrati ibu terhadap anaknya, dan membiarkan diri kita hanyut dibawa karier, sementara anak-anak dibesarkan oleh seorang pembantu, bukanlah seorang ibu idaman," ujarnya.
Menarik disimak sudut pandang Ibu Karlinah mengenai busana perempuan Indonesia sebagai salah satu ciri identitas bangsa. Menurutnya, "Kalau busana nasional Indonesia hanya kita pakai pada Hari Kartini dan pada acara resmi tertentu, saya khawatir idam-idaman Ibu Kartini tentang kepribadian wanita Indonesia, ya, hanya terlihat pada Hari Kartini saja." Sudut pandang Karlinah Umar Wirahadikusumah mungkin dianggap “kuno” bagi sebagian orang di tengah arus globalisasi dan berkurangnya penghargaan terhadap kebudayaan bangsa.
Suatu ketika ia diundang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberi ceramah di depan para Kepala Sekolah dan Majelis Guru Sekolah Pendidikan Guru (SPG) mengenai tata pergaulan, etiket dan berbusana. Karlinah mengatakan. "Tata pergaulan itu sangat penting, seharusnya dimulai sejak anak- anak di rumah, karena bekal ini akan dibawanya ke mana-mana." Karlinah Umar Wirahadikusumah tidak menginginkan anak Indonesia tumbuh dan berkembang tanpa fondasi kepribadian, akhlak dan etika, meski mereka pintar dari sisi penguasaan ilmu dan teknologi.
Pada Perayaan Bulan Bahasa, Oktober 1980 Karlinah Umar Wirahadikusumah terpilih dan dinobatkan sebagai salah satu dari 10 penutur bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berkomunikasi di depan publik. Uniknya, kepada anak-anaknya, ia konon tetap mengajarkan bahasa Sunda, agar bahasa daerah tidak punah di lingkungan keluarga dan komunitas masyarakat lokal.
Salah satu amal jariah almarhumah Karlinah Umar Wirahadikusumah dan keluarga besarnya adalah pembangunan Masjid Raya Bani Umar di Jalan Graha Bintaro Raya, Parigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Masjid wakaf keluarga besar Umar Wirahadikusumah itu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 10 Oktober 2008. Masjid tersebut adalah wujud niat mulia Wakil Presiden Ke-4 Umar Wirahadikusumah yang belum terlaksana semasa hidupnya. Arsitektur bangunan masjid dirancang oleh arsitek Ir. Fauzan Noe'man yang dikenal dengan karya arsitek yang estetik dan ikonik pada beberapa bangunan masjid monumental di tanah air.
Dalam sambutannya sewaktu acara peresmian masjid, Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah menyampaikan bahwa pendirian Masjid Raya ini merupakan amanat dari almarhum Bapak Umar Wirahadikusumah. Dari dulu Umar Wirahadikusumah dan Ibu Umar bercita-cita ingin membangun sebuah masjid yang nyaman, teduh dan asri, serta yang bermanfaat bagi pembangunan karakter bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai kejuangan dan nilai-nilai keagamaan.
Masjid Raya Bani Umar berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektare dibangun tahun 2007 atas prakarsa dan digerakkan oleh Ibu Karlinah beserta keluarga besarnya, sesuai wasiat almarhum Umar Wirahadikusumah untuk membangun masjid itu.
Masjid tersebut memiliki fasilitas penunjang ruang aula serbaguna di lantai dasar, poliklinik yang melayani kaum dhuafa tanpa dipungut biaya. Poliklinik Masjid Raya Bani Umar menyediakan mobil ambulans dan layanan jenazah untuk melayani warga masyarakat sekitarnya. Masjid menghimpun zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari jamaahnya dan mendirikan Lembaga Wakaf Bani Umar sejak 2014 di bawah pengelolaan yayasan wakaf.
Sejak 2014 di area Masjid Raya Bani Umar didirikan Kelompok Belajar dan Taman Kanak-Kanak Islam Bani Umar. KB-TK Islam Bani Umar mengusung visi jangka panjang menjadi pusat pengembangan pendidikan Islami untuk mewujudkan generasi muslim yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sepeninggal penggagas Masjid Raya Bani Umar, almarhumah Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah, diharapkan Masjid dan Wakaf Bani Umar serta program sosial, pendidikan dan keagamaan yang lahir dari masjid tersebut dapat terus berkembang tata kelola dan manfaatnya untuk umat, dan yang teramat penting adalah terjaga keamanahannya.
Senin pagi sekitar jam 08.30 saya melayat jenazah Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah yang disemayamkan di kediaman Jalan Teuku Umar 61, Menteng Jakarta Pusat. Saya menyaksikan wajah almarhumah yang teduh dan bersih. Pemakaman dilaksanakan bada zuhur di TMPN Kalibata Jakarta dengan upacara militer.
Indonesia kehilangan seorang putri terbaik bangsa yang hidup terhormat karena kepribadian dan amal kebajikannya.
Semoga kepulangannya kehadirat Al-Khaliq, Allah Swt, dalam keadaan ridha dan diridhai, diberi tempat yang mulia di akhirat.
Selamat jalan Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah.
*Direktur Jaminan Produk Halal Kemenag



